Jujur, Jajar lan Jejer Manembah Gusti Ilahi

Duk Djaman Semono, Kandjeng Edjang Boeyoet Ing Klero nate paring wewarah,".. Djoedjoer Lahir Bathin Berboedi Bowo Leksono Adedhasar Loehoering Agomo, Djedjer Welas Asih Sasamoning Titah Adedhasar Jiwo Kaoetaman Lan Roso Kamanoengsan, Lan Djadjar Manoenggal Wajibing Patrap Bebrayan Agoeng Adedhasar Endahing Tepo Salira Manembah Ngarsaning Goesti Allah Ingkang Moho Toenggal, Ngrenggo Tjiptaning Koesoema Djati Rila Adedharma Mrih Loehoering Bongso, Agomo, Boedoyo, Lan Sasamining Titahing Gesang Ing Ngalam Donya, Ikoe Lakoening Moekmin Sadjati.." [Wewaler KRT. Hasan Midaryo,1999]

Senin, 02 Agustus 2010

Wasiat Agung Eyang Putri RA. Siti Dariyah Ing Kalasan


Jolali Sholat..
Jolali netebi wajib marang Sing Moho Kuwasa, Gusti Allah..

Simbah gadhang-gadhang..
Anak keturunanku kabeh dadhi Mukmin Sejati
Selamet lahir bathin dunyo akherat sak kabehe..

Yen podho kangen karo Simbah
Podho Sholat tho..
Ya Putu-putuku kabeh..


Jolali Sholat..
Jolali netebi wajib marang Sing Moho Kuwasa, Gusti Allah..

Simbah gadhang-gadhang..
Anak keturunanku kabeh dadhi Mukmin Sejati
Selamet lahir bathin dunyo akherat sak kabehe..

Yen podho kangen karo Simbah
Podho Sholat tho..
Ya Putu-putuku kabeh..

Sholat kuwi wasiyate Kanjeng Rasulullah
Agemane para Simbah Buyut
Pusakane poro Waline Gusti Allah
Pepadhang urip samengko ning ngalam kubur..

Mulane, jolali Sholat yaa Putu-putuku kabeh..
Simbah gur bisa mbantu ngirim donga saben dinane
Kabeh leluhur Simbah sebut jenenge
Kabeh anak putu Simbah sebut jenenge

Iki wasiyate Simbah
Jolali Sholat..
Ya Putu-putuku..

[Wasiat Eyang Putri RA. Siti Dariyah saat di pembaringannya di Ndalem Kalasan]

Minggu, 01 Agustus 2010

In Memoriam Eyang Kakung KRT. Hasan Midaryo & Kraton Jogjakarta


Setelah melacak ngalor ngidul ngulon ngetan mencari sumber dokumentasi yang berkaitan dengan sejarah Eyang Kakung kami, KRT. Ahmad Hasan Midaryo berkenaan dengan tugas Beliau di Dalem Kepatihan Kraton Ngayogyakrto Hadiningrat? Setelah bertemu dengan beberapa nara sumber, baik dari pihak keluarga maupun rekan perjuangan semasa Beliau masih bertugas sebagai Panewu di Kabupaten Wonosari dan Kabupaten Kulon Progo .

Alhamdulillah, akhirnya kami memperoleh sedikit informasi tentang peran Beliau meskipun belum sepenuhnya sempurna, khususnya beberapa foto Eyang Kakung kami yang tampak dalam beberapa foto dokumentasi menjelang dan saat acara Jumenengan Ingkang Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Pendopo Siti Hinggil Kraton Jogjakarta, tanggal 18 Maret 1940.


1. Eyang KRT. Ahmad Hasan Midaryo bersama para Abdi Nayaka Praja, Pangreh Praja dan Nata Praja dalam suatu acara Pisowanan Agung di Pendapa Siti Hinggil Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, sedang menikmati pagelaran Tari Serimpi.
[Sayangnya, waktu dokumentasi tidak diketahui].



2. Eyang KRT. Ahmad Hasan Midaryo tampak berdiri di belakang dengan pakaian kebesaran bersama para Pangeran Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat sedang mengiringi Ingkang Ngarso Dalem Kangjeng Sri Sulthan Hamengku Buwono-IX dalam acara Jumenengan Kanjeng Gusti Raden Mas Dorodjatoen sebagai Sultan Mataram Ngayogyakarto Hadiningrat. Hari bersejarah tersebut jatuh pada hari Senin Pon, tanggal 8 bulan Sapar tahun Jawa Dal 1871, atau bertepatan dengan tanggal 18 Maret 1940.



3. Jumenengan Ingkang Ngarso Dalem Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono-IX sebagai Putra Mahkota bergelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putera Narendra mataram, sekaligus Sultan Yogyakarta bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Alaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Kaping IX. Acara tersebut juga dihadiri Gubernur Jenderal Dr. Lucien Adam wakil Pemerintah Hindia Belanda yang duduk di kursi kehormatan.

Acara penobatan bertempat di Pendopo Ageng Siti Hinggil Bangsal Kencana Kraton Mataram Ngayogyakarto Hadiningrat. Dalam acara tersebut, Eyang KRT. Ahmad Hasan Midaryo duduk bersama para Pangeran dan kerabat dalem.
[Dokumentasi tanggal 18 Maret 1949 setelah penobatan pukul 11.00 WIB]

4. Sri Sultan Hamengku Buwono IX berjalan mengiringi Gubernur Jenderal Dr. Lucien Adam perwakilan Pemerintahan Hindia Belanda menuju Siti Hinggil dan naik ke Bangsal Manguntur Tangkil, di iringi oleh para pangeran dan prajurit belanda disambut dengan Lagu Kebangsaan Belanda Wilhelmus oleh Korps Musik Pemerintah Hindia Belanda. Dalam prosesi ini, Eyang KRT. Ahmad Hasan Midaryo turut mengiring dari belakang bersama para Pangeran dan Abdi Pangreh Praja dalam pengawalan Laskar Prajurit Kraton, antara lain : Kesatuan bergada Wira Braja, daheng, Patang Puluh, Jaga Karya, Prawiratama, Ketanggung, Mantri jeron, Nyutra, Bugis dan Surakarsa yang rapat menjaga keamanan sekitar kraton Ngayogyakarto Hadiningrat.


5. Dalam suatu acara perjamuan ramah-tamah di Kraton setelah Acara Jumenengan Dalem.



6. Acara Protokoler setelah Jumenengan Ingkang Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda Dr. Lucien Adam di Bangsal Manguntur tangkil. Pada kesempatan inilah, Sri Sultan Hamengku Buwono IX berpidato secara resmi di depan para pembesar pemerintah Hindia Belanda untuk pertama kali sebagai Pemimpin Jawa Zaman Baru.
[Dokumentasi tanggal 18 maret 1940]


7. Iringan Ingkang Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengantar Gubernur Jenderal Dr. Lucien Adam meninggalkan Bangsal Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, dengan di iringi para Pangeran dan Abdi Dalem Pangreh Praja, juga prajurit pemerintah Hindia Belanda.
[Dokumentasi tanggal 18 Maret 1940]




Keluarga Eyang Mr. Hasan Midaryo di Jogja

In Memoriam Eyang Putri RA. Siti Dariyah di Kraton Jogjakarta

Adalah Eyang Putri tercinta kami, Raden Ajeng Siti Dariyah atau istri dari Eyang Kakung tercinta kami, yakni Kanjeng Raden Tumenggung Ahmad Hasan Midaryo yang semasa hidupnya sangat setia, tegar serta sabar dalam mendampingi setiap langkah perjalanan dan pengabdian hidup Eyang Hasan Kalasan dimanapun berada, menjadi sumber inspirasi semangat hidup kami.

Dari tinggal lingkungan Ndalem Notoprajan, kemudian pindah ke beberapa daerah kepanewon di Kabupaten Wonosari, kemudian pindah ke beberapa rumah dinas kecamatan di Kabupaten Kulon Progo hingga akhirnya menetap di Kalasan, Sleman, Jogjakarta hingga akhir hayat beliau berdua, tentulah meninggalkan banyak kisah kenangan dan romantika sejarah tersendiri. Karena tinggal di Kalasan sebagai Sesepuh, maka mengikuti warga masyarakat Kalasan menyebut beliau berdua dengan panggilan akrab "Eyang Hasan Kalasan", "Mbah Kyai Penewu", atau "Mbah Camat".

Selain menjalani kesibukan sebagai istri seorang Mantri Polisi, kemudian Panewu atau Camat, hingga penugasan di Dalem Kepatihan Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Eyang Putri Kalasan merupakan figur seorang Ibu yang mandiri dalam kesehariannya, terlebih Eyang Putri sering ditinggal Eyang Kakung Hasan Kalasan pergi menjalankan tugas kewajibannya sebagai seorang Pejuang, Abdi Prajaksa Kraton dan Abdi Negara. Yang paling membuat kami termotivasi sebagai cucu-cucu Beliau adalah kekuatan amal ibadah dan pemahaman keagamaan Beliau yang luas, khususnya Ilmu Tasawuf Jawa.

Bahkan, hingga menjelang akhir hayatnya, Eyang Putri wafat dalam kondisi masih berwudhlu , berdzikir mengagungkan Asma Allah dan telah selesai menunaikan Sholat Malam. di atas pembaringan Beliau. Dalam kondisi sakit, Eyang Putri tak pernah melalaikan kewajiban beribadah kepada Gusti Allah Ingkang Moho Tunggal. Subhanallah Masya Allah.



Di atas adalah potret kenangan Eyang Putri RA. Siti Dariyah bersama tiga orang istri Pangeran pembesar Kraton yang di ambil di salah satu ruang Bangsal Dalem Notoprajan Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Namun sayangnya, kapan waktu pemotretan tidak kami ketahui.

Dari emblem simbol Praja Cihna yang dikenakan Eyang Putri di pakaiannya menjadi gambaran nyata bagaimana beratnya menjalankan tugas kedinasan, maupun menjaga amanat yang terkandung didalamnya dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagaimana pesan Eyang Putri, "Hidup ini wajib dijalani dengan teguh beriman kepada Gusti Allah, bersyukur atas segala rizqi dariNya dan beramal sholeh dalam amal kehidupan, agar hidup ini menjadi ladang ibadah dengan tanaman kebajikan dan berbuah kesucian".

Foto Para Eyang

MENEMUKAN TRAH KYAI AGENG SUMONGARI DI LAMPUNG

Kanjeng Kyai Wedana Raden Mas Haji Mohammad Somo Marto
[Lahir: Somonggari 18 Maulud 1888, wafat: Lampung 14 Juni 1968]

Assalamu 'alaikum Warahmatullah wabarakatullah..

Alhamdulillahi Rabbul Haqq, bermodal risalah sanad silsilah, beberapa foto dokumentasi Eyang Buyut Kanjeng Raden Mas Wedana Mohammad Sumo Marto bin Kyai Ageng Somongari VII Ahmad Somo Wicitro [dapat dilihat di atas] dalam mencari sisil melik riwayat beliau, kesana-kemari mencari keturunan Eyang Buyut, atau sanak saudara yang tercerai-berai dari zaman pendudukan Jepang di Jawa sekitar tahun 1943 s/d 1945, hingga zaman reformasi kini, akhirnya saya mendapat Jawaban dari Gusti Allah Ingkang Moho Tunggal.

Dengan keterbatasan sumber informasi, data, dokumentasi maupun akses narasumber, saya mencoba menelusuri jejak sejarah Kyai Ageng Somongari. Hal ini bermula rasa keingin-tahuan mengetahui kisah sejarah hidup dan mengenal silsilah leluhur eyang putri saya, yakni Nyai Siti Dariyah Binti Kyai Wedana Mohammad Sumo Marto yang berasal dari Somongari, Purworejo.

Pada 25 Juli 2010, saya beserta keluarga perwakilan dari Keluarga Besar Jogjakarta berkesempatan menghadiri acara Tasyakuran Walimah saudara sepupu saya, yakni Raden Mas Henky Putra Jasuma Manunggal, S.Fil. putra dari Paman saya, Raden Mas Mohammad Ikhsan Wirun Wiranto Bin KRT. Ahmad Hasan Midaryo yang bermukim di 16 C Bantul-Metro, Lampung.

Alhamdulillah, rupanya event mulia ini menjadi sababiyah pertemuan kami dengan banyak sanak keluarga Trah Kyai Ageng Somongari [sanad silsilah Kanjeng Eyang Putri Raden Ajeng Siti Dariyah Binti Kyai Wedana Raden Mas Mohammad Sumo Marto, Somongari Purworejo] dan Trah Panembahan Wongsopati [sanad silsilah Kanjeng Eyang Kakung Raden Tumenggung Ahmad hasan Midaryo Bin Kyai Ahmad Karto Sentono, Klero Prambanan] yang berada di Palembang dan Lampung.

Sebelumnya tanggal 23 Juli 2010, saya bersama Ibunda RA. Istiningsih, Paman RM. Mohammad Isdiyanto, dan adik saya Adhytia Setya Ariwibawa, Amd berangkat ke Metro lampung dengan menggunakan Bus PO. Puspa Jaya dari Wates. Dan sampai di terminal 16 C Metro Lampung pada tanggal 24 Juli 2010 sore. Sementara beberapa minggu sebelumnya, Ibu Gedhe RA. Sri Mulyatmi sudah berangkat ke Metro terlebih dahulu dikawal putranya, RM. Mohammad Iskandar HM, Skom dengan maksud mendampingi Paman kami, RM. Mohammad Ikhsan Wirun Wiranto uleman mengundang seluruh sanak keluarga yang berada di Lampung.

Dan, Alhamdulillah, berkat Ridhlo Allah dan doa restu segenap sanak sedulur di Jawa maupun Palembang dan Lampung, acara Tasyakuran Walimah saudara sepupu saya, RM. Henky Putra Jasuma Manunggal berjalan lancar dan penuh berkah, Alhamdulillah. Terima-kasih, Ya Allah..


A. TRAH EYANG WEDANA RM. SOMO MARTO & NYAI SITI JUMILAH [ISTRI PERTAMA]


Adalah Eyang Buyut kami, Kanjeng Kyai Wedana Raden Mas Mohammad Sumo Marto putra dari Kyai Ageng Somongari VII terlahir di Somongari pada tanggal 18 Maulud 1888 dan wafat di Metro Lampung pada hari Jum'at Pon tanggal 14 juni 1968. Selanjutnya, berdasar kesepakatan musyawarah Keluarga Besar Trah Kyai Ageng Somongari di Jawa dan anak keturunannya yang berada di Lampung, makam Eyang Kyai Wedana RM. Sumo Marto kemudian diputer giling atau dipindah ke Sasanalaya Kanjeng Kyai Ageng Somongari yang berada di Desa Somongari, Kali Gesing, Purworejo.

Eyang Buyut Kyai Wedana RM. Sumo Marto menikah 2 kali, yang pertama Beliau menikah dengan RA. Siti Jumilah di Somongari. Dari pernikahan Beliau yang pertama, lahirlah putri tunggalnya yang bernama Raden Ajeng Siti Dariyah di Somongari. Namun karena keadaan di Jawa sedang genting dalam perang melawan pendudukan Belanda dan Jepang, maka Eyang Buyut RM. Sumo Marto dalam penugasannya sebagai Mantri Polisi ke Lampung turut serta membawa keluarga hingga menjadi seorang pejabat Wedana di Pring Sewu Lampung.

Kemudian, RA. Siti Dariyah menikah dengan RM. Ahmad Samiyo Bin Kyai Wedana Raden Mas Mohammad Samijoyo di Pring Sewu Lampung, dan lahir keturunan tunggal, yakni :
1] Raden Mas Mohammad Slamet [Tanjung Karang, Bandar Lampung]

Pada saat penugasan sebagai pilot pesawat perang AURI, RM. Ahmad Samiyo gugur di atas Sungai Musi Palembang karena pesawat yang diawakinya meledak setelah tertembak Jepang. Sehingga beliau anumerta di Sungai Musi, karena kondisi demikian maka diambillah air dan tanah Sungai Musi untuk dijadikan syarat makam Beliau.

Setelah RM. Ahmad Samiyo wafat, maka RA. Siti Dariyah menjadi janda dengan satu putera dan bermukim di Pring Sewu Lampung menjadi perawat para pejuang. Rupanya RA. Siti Dariyah bertemu dengan RM. Ahmad Hasan Midaryo yang sedang dalam penugasan kemiliteran di Kota Lampung dari Kesatuan Brigade VII Jogjakarta. Singkat cerita, RA. Siti Dariyah kemudian dilamar oleh RM. Ahmad Hasan Midaryo dan diboyong ke Jogjakarta untuk menikah.

Dari pernikahan yang keduanya, RA. Siti Dariyah dan RM. Ahmad Hasan Midaryo kemudian dikaruniai keturunan, antara lain :
1] Raden Ajeng Sri Mulyatmi (Piyungan Bantul, Jogjakarta)
2] Raden Ajeng Istiningsih (Wates Kulon Progo, Jogjakarta)
3] Raden Mas Mohammad Isdiyanto (Piyungan Bantul, Jogjakarta)
4] Raden Mas Mohammad Ikhsan Wirun Wiranto (16 C Bantul, Metro Lampung)

Kemudian setelah Eyang Buyut Putri Raden Ajeng Siti Jumilah wafat, Eyang Buyut Kakung Kyai Wedana Raden Mas Mohammad Sumo Marto selanjutnya menikah dengan Eyang Buyut Putri Nyai Siti Kemiyem, dan bermukim hingga wafatnya di Kota Metro Lampung. Dari pernikahan Beliau yang kedua inilah kemudian terlahir lima orang anak yang menjadi Trah Somongari Lampung, antara lain :
1] Raden Ajeng Siti Karni Saring (43 Metro Lampung)
2] Raden Mas Mohammad Karno Marto (43 Metro Lampung)
3] Raden Mas Mohammad Karsino Marto (43 Metro Lampung)
4] Alm. Raden Mas Mohammad Karmin Marto (43 Metro Lampung)
5] Raden Ajeng Siti Karsinah (43 Metro Lampung)

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah keterangan mengenai Trah Kyai Ageng Somongari yang berada di Lampung dan Palembang, sebagaimana keterangan yang saya terima dan catat dari Eyang Kakung Raden Mas Mohammad Karno Saring saat temu kangen di Kediaman Paman kami, RM. Moh. Ikhsan Wirun Wiranto.

Demikian, untuk informasi selebihnya, Insya Allah, akan saya uraikan di bawah.

Adapun silsilah Eyang Putri Nyai Raden Ajeng Siti Dariyah dari sanad nasab keturunan Kyai Wedana Raden Mas Mohammad Sumo Marto dan Nyai Raden Ajeng Siti Jumilah [Isteri Pertama], sebagai berikut :

Nyai Raden Ajeng Siti Dariyah
Binti
Kanjeng Kyai Muhammad Sumo Marto
[Lahir di Somongari 18 maulud 1888, wafat di Metro Lampung Jum'at Pon 14 Juni 1968]
Bin
Kanjeng Kyai Muhammad Sumo Citro
[Lurah Somongari III di Kemanukan, 1876–1880]
Bin
Kanjeng Raden Mas Suto Semito
[Lurah Somongari II di Kemanukan, 1869-1876]
Bin
Kanjeng Raden Mas Sastro Suwongso
[Lurah Somongari I di Kemanukan, 1863-1869]
Bin
Kanjeng Kyai Imam Ahmad Darso
[Kyai Imam Masjid Agung Tanjung Anom]
Bin
Kanjeng Kyai Imam Ahmad Purbo Kusumo
[Kyai Imam Langgar Agung Sumongari]
Bin
Kanjeng Pangeran Kedhana Kedhini
[Kyai Ageng Sumongari-I]
Bin
Kanjeng Kyai Imam As’ngari Mentosoro
[Kyai Masjid Agung Tanjung Anom]
Bin
Kanjeng Pangeran Ahmad As’ngari Nila Sraba
[Kenthol Bagelen]
Bin
Kanjeng Sunan Geseng Kyai Ageng Abdurrahman As’ngari
[Panembahan Cokro Joyo Ing Jolo Sutro, Piyungan, Bantul 1525]
Bin
Kanjeng Panembahan Maulana Husein As’ngari
Panembahan Wono Joyo, 1521]
Bin
Kanjeng Pangeran Maulana Wahdi As’ngari Wirantoko
Bin
Kanjeng Pangeran Maulana Hasan As’ngari Ing Kartosuro, Pajang
Bin
Kanjeng Panembahan Maulana Ahmad As’ngari
[Kyai Imam Masjid Agung Demak Bintoro]
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Muhammad
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Husein
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Askib
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Muhammad Wahid
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Hasan
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Asir
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana ‘Alawi
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Ahmad
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Musarir
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Jazar
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Musa
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Hajar
Bin
Kanjeng Sayyidina Al Imam Ja’far Ash-Shoddiq Radhiyallahu ‘Anhu
Bin
Kanjeng Sayyidina Al Imam Muhammad Al Baqir Radhiyallahu ‘Anhu
Bin
Kanjeng Sayyidina Al Imam Ali Zainal Abidin Al Madani Radhiyallahu ‘Anhu
Bin
Kanjeng Sayyidina Al Imam Hussain Radhiyallahu ‘Anhu
Bin
Kanjeng Sayyidina Al Imam Ali Murtadho Karamallahu Wajhah Radhiyallahu ‘Anhu
Bin
Abi Thalib

Dan sebagaimana adat tradisi Trah Kyai Ageng Somongari, maka seluruh trah keturunannya akan berkumpul setiap tahun pada bulan Shafar untuk melaksanakan Tradisi Grebek Jolenan atau Grebeg Saparan, guna memperingati Haul daripada Kanjeng Pangeran Kedhana Kedhini, salah satu Ulama dan Budayawan Jawa yang dipusarakan di Sasanalaya Somongari, Purworejo.

Selain itu, terdapat pula Tradisi Muludan, atau peringatan Maulid Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam yang diperingati setiap jatuh bulan Mulud Jawa dengan pelaksanaan pembacaan Kitab Maulid Barzanji oleh para ulama Somongari.


B. TRAH EYANG WEDANA RM. SOMO MARTO & NYAI SITI KEMIYEM [ISTRI KEDUA]


Eyang RM. Moh. Karno Marto Saring Bin RM. Sumo Marto
Sesepuh Trah Ageng Kyai Ageng Somongari Lampung

Berikut adalah beberapa keterangan yang berkaitan dengan sejarah singkat Kanjeng Eyang Buyut Kyai Wedana Raden Mas Mohammad Somo Marto dengan Kanjeng Nyai Siti Kemiyem, yang saya terima langsung dari putra sulung Beliau, yakni Eyang Kakung Kanjeng Kyai Raden Mas Mohammad Karno, atau lazim disebut Mbah Saring. Mbah Saring, sebagai putra Sulung merupakan Sesepuh Keluarga Besar Trah Kyai Ageng Somongari di Lampung dan Palembang. Selain itu, Beliau merupakan ulama sepuh dan seorang Tabib tradisional yang sangat bersahaja.

Adapun tradisi Saparan yang dilaksanakan di Somongari guna memperingati Haul Kanjeng Kyai Ageng Somongari juga dilaksanakan di Kota Metro Lampung, meskipun pelaksanaannya masih sebatas dilestarikan oleh pihak keluarga saja. Beberapa warisan Ilmu Tasawuf serta Tradisi Budaya Jawa tinggalan Kanjeng Sunan Kali Jaga juga tetap di lestarikan oleh segenap keluarga Trah Kyai Wedana Raden Mas Mohammad Sumo Marto di Lampung.

Alhamdulillah, setelah 34 tahun mencari akhirnya saya dipertemukan Gusti Allah dengan Beliau pada saat acara Tasyakuran Walimah saudara sepupu saya, RM. Henky Putra Jasuma Manunggal, S.Fil. di kediaman Paman kami, RM. Mohammad Ikhsan Wirun Wiranto yang berada di 16 C Metro Lampung, pada tanggal 25 Juli 2010.

Singkat cerita, setelah istri pertama Eyang Buyut Kyai Wedana Raden Mas Mohammad Sumo Marto, yakni Eyang Buyut Putri Raden Ajeng Siti Jumilah wafat, Eyang Buyut Kakung Kyai Wedana Raden Mas Mohammad Sumo Marto selanjutnya menikah dengan Eyang Buyut Putri Nyai Siti Kemiyem, putri seorang Wedana di Metro Lampung.

Dari pernikahan kedua Eyang Buyut Kyai Wedana Raden Mas Sumo Marto inilah kemudian terlahir lima orang anak yang menjadi Trah Somongari Lampung, atau saudara tiri dari Eyang Putri kami, Raden Ajeng Siti Dariyah, antara lain :

1] Raden Ajeng Siti Karni Saring (43 Metro Lampung)
2] Raden Mas Mohammad Karno Marto (43 Metro Lampung)
3] Raden Mas Mohammad Karsino Marto (43 Metro Lampung)
4] Alm. Raden Mas Mohammad Karmin Marto (43 Metro Lampung)
5] Raden Ajeng Siti Karsinah (43 Metro Lampung)

Adapun silsilah Eyang Kakung Raden Mas Mohammad Karno Marto [Mbah Saring] dari sanad nasab Kyai Wedana Raden Mas Mohammad Sumo Marto dan Nyai Siti Kemiyem [Isteri Kedua], adalah sebagai berikut :

Raden Mas Mohammad Karno Marto
[Mbah Saring]
Bin
Kanjeng Kyai Muhammad Sumo Marto
[Lahir di Somongari 18 maulud 1888, wafat di Metro Lampung Jum'at Pon 14 Juni 1968]
Bin
Kanjeng Kyai Muhammad Sumo Citro
[Lurah Somongari III di Kemanukan, 1876–1880]
Bin
Kanjeng Raden Mas Suto Semito
[Lurah Somongari II di Kemanukan, 1869-1876]
Bin
Kanjeng Raden Mas Sastro Suwongso
[Lurah Somongari I di Kemanukan, 1863-1869]
Bin
Kanjeng Kyai Imam Ahmad Darso
[Kyai Imam Masjid Agung Tanjung Anom]
Bin
Kanjeng Kyai Imam Ahmad Purbo Kusumo
[Kyai Imam Langgar Agung Sumongari]
Bin
Kanjeng Pangeran Kedhana Kedhini
[Kyai Ageng Sumongari-I]
Bin
Kanjeng Kyai Imam As’ngari Mentosoro
[Kyai Masjid Agung Tanjung Anom]
Bin
Kanjeng Pangeran Ahmad As’ngari Nila Sraba
[Kenthol Bagelen]
Bin
Kanjeng Sunan Geseng Kyai Ageng Abdurrahman As’ngari
[Panembahan Cokro Joyo Ing Jolo Sutro, Piyungan, Bantul 1525]
Bin
Kanjeng Panembahan Maulana Husein As’ngari
Panembahan Wono Joyo, 1521]
Bin
Kanjeng Pangeran Maulana Wahdi As’ngari Wirantoko
Bin
Kanjeng Pangeran Maulana Hasan As’ngari Ing Kartosuro, Pajang
Bin
Kanjeng Panembahan Maulana Ahmad As’ngari
[Kyai Imam Masjid Agung Demak Bintoro]
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Muhammad
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Husein
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Askib
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Muhammad Wahid
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Hasan
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Asir
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana ‘Alawi
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Ahmad
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Musarir
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Jazar
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Musa
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Hajar
Bin
Kanjeng Sayyidina Al Imam Ja’far Ash-Shoddiq Radhiyallahu ‘Anhu
Bin
Kanjeng Sayyidina Al Imam Muhammad Al Baqir Radhiyallahu ‘Anhu
Bin
Kanjeng Sayyidina Al Imam Ali Zainal Abidin Al Madani Radhiyallahu ‘Anhu
Bin
Kanjeng Sayyidina Al Imam Hussain Radhiyallahu ‘Anhu
Bin
Kanjeng Sayyidina Al Imam Ali Murtadho Karamallahu Wajhah Radhiyallahu ‘Anhu
Bin
Abi Thalib

Berikut adalah Keluarga Besar Trah Kyai Ageng Somongari VII yang berada di Lampung dan Bengkulu, antara lain :

1. Kyai Wedana Raden Mas Sumo Marto dan Nyai Siti Kemiyem, berketurunan antara lain :

1] Raden Ajeng Siti Karni Saring (43 Metro Lampung)
2] Raden Mas Mohammad Karno (43 Metro Lampung)
3] Raden Mas Mohammad Karsino (43 Metro Lampung)
4] Alm. Raden Mas Mohammad Karmin (43 Metro Lampung)
5] Raden Ajeng Siti Karsinah (43 Metro Lampung)

2. Trah Kyai Wedana RM. Sumo Marto di 43 Metro Lampung

1] Raden Ajeng Siti Karni Saring dan Kyai Ahmad Dahwan berkedudukan di 43 Metro lampung, berketurunan antara lain :

(1) RA. Mujiyati + Jumadi (43 Metro Lampung)
(2) RA. Sumini + Alm. Prayit (43 Metro Lampung)
(3) RA. Surati + Tukino (43 Metro Lampung)
(4) RM. Suyadi + Marsinem (43 Metro Lampung)
(5) RA. Sutiyarsih + Ponimin (43 Metro Lampung)
(6) RA. Sutini + Wantoro (43 Metro Lampung)


2] Raden Mas Mohammad Karno Marto dan Almarhumah Nyai Siti Suripah, berdudukan di 43 Metro Lampung, berketurunan antara lain :

(1) RA. Marni + Giyono berkedudukan di Sumber Rejo 43 Polos Metro Lampung, dan berketurunan antara lain :

<1> Supriyati + Wahidin Rasyid, berkedudukan di Sumber Rejo 43 Polos Metro Lampung, dan berketurunan antara lain :
{1} Arkam Amrullah
{2} Mohammad Abdal Zikry

<2> Jahidin Fikri + Mirda berkedudukan di Palembang, dan berketurunan antara lain :
{1} Dinda Orlanda

<3> Amin Fadillah (Sumber Rejo 43 Polos Metro Lampung)

(2) RM. Marlan + Sumarni berkedudukan di Sumber Rejo 43 Metro Lampung, dan berketurunan antara lain :

<1> Elly Prasetiyo
<2> Rita Irmayani
<3> Khairul Fahmi

(3) RA. Mariyem + Mukhsin berkedudukan di Tanggerang, Banten, dan berketurunan antara lain :

<1> Eko Prasetyo + Sumiyati
<2> Dwi +
<3> Tri Kuswatun Hasanah
<4> Komar

(4) RM. Slamet + Siti Robi'ah, berkedudukan di Sumber Rejo, 43 Metro Lampung, dan berketurunan antara lain :

<1> Neneng Widia Astuti
<2> Firmansyah

(5) RM. Kisan + Yuliyah (43 Metro Lampung)

(6) RA. Marsiti + Rukman Ardiyansah (43 Metro Lampung)

(7) RM. Marsido + Umi Kulsum (43 Metro Lampung)


3] Raden Mas Mohammad Karsino dan Nyai Muryani berkedudukan di 43 Metro Lampung, berketurunan antara lain :

(1) RA. Wiwik + Widodo (Bengkulu)
(2) RA. Iyun + Gunawan (43 Metro)
(3) RA. Eny + - (Bengkulu)
(4) RM. Andri - (Bengkulu)


4] Alm. Raden Mas Mohammad Karmin di pusarakan di 43 Metro Lampung.


5] Raden Ajeng Siti Karsinah dan Mohammad Udin, berkedudukan di 43 Metro Lampung, berketurunan tunggal, yakni :

(1) RM. Mohammad Agus + Yani (43 Metro Lampung)


C. TRAH PANEMBAHAN WONGSOPATI YANG BERADA DI LAMPUNG


I. Trah Eyang Raden Mas Mangun Diarjo di Lampung

Berikut adalah keturunan dari Eyang Raden Mas Mangun Diarjo dari putranya yang bernama Kyai Wedana Raden Mas Sastro Wiyarso [Mbah Parjan] yang berkedudukan di Karang Anyar Metro dan di Kota Agung, Lampung.

1. Kyai Wedana Raden Mas Sastro Wiyarso [Mbah Parjan] + Siti Painem di Karang Anyar Metro, Lampung berketurunan, antara lain :

1] RA. Minten
berkedudukan di Sonayan, Gendeng, Prambanan, Jogjakarta

2] Alm. RM. Muhni
berkedudukan di Gemiling, Bandar Lampung

3] RA. Siti Painem
berkedudukan di Karang Anyar, Metro Lampung

4] RM. Hasan
berkedudukan di Kalasan, Sleman, Jogjakarta

5] RA. Siti Tumiyem
berkedudukan di Kenteng, Prambanan, Jogjakarta

Generasi kedua tercatat, antara lain :

1. Siti Marjiyah + Alm. Ahmad
berkedudukan di Kota Agung, Lampung

2. Siti Sarjiyem + Suparno

3. Siti Kopar + Pendi
berkedudukan di Palembang, Sumatera Selatan dan berketurunan, antara lain :

4. Samijo + Siti Mugini
berkedudukan di Karang Anyar 2 A, Lampung Selatan dan berketurunan, antara lain :

[1] Pono + Erni
berkedudukan di Karang Anyar 2 A, Lampung Selatan dan berketurunan, antara lain :
{1} Anis
{2} Elsa
{3}

[2] Ponilawati + Beny
berkedudukan di Karang Anyar 2 A, Lampung Selatan dan berketurunan, antara lain :
{1} Kaesa Sabrina Mahayani
{2} Aliyatun Hasanah

[3] Rika Ariani + Abujar Bin Sunarni Palembang
berkedudukan di Karang Anyar 2 A, Lampung Selatan dan berketurunan, antara lain :
{1} Risa Al Khorni

5. Sutardi + Siti Parti
berkedudukan di gemiling, Bandar Lampung.

II. Trah Klero Prambanan di Lampung

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari paman Giman Bin Musni dari keluarga besar Trah Wongsopati yang berada di Ledok Jati Agung, Karang Anyar, Lampung Selatan dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Keluarga Eyang Putri Siti Paijem [adik Eyang Raden Mas Musni bin Kyai Kromo Dimejo Klero] dan Raden Mas Kromo Arjo

[1] Keluarga Sugiman di Karang Anyar Metro Lampung
[2] Keluarga Jumadi di Karang Anyar Metro Lampung
[3] Keluarga Triyono di Karang Anyar Metro Lampung
[4] Keluarga Sumadi di Karang Anyar Metro Lampung

2. Keluarga Mbah Kromo Dimejo

1] Keluarga Alm. Suwardi di Klero, Prambanan, Jogjakarta

2] keluarga Wahono di Klero, Prambanan, Jogjakarta

3] Keluarga Darsono di Klero, Prambanan, Jogjakarta

4] Keluarga Tukiyati di Kuningan Cirebon, Jawa Barat

5] Keluarga Sriyanti di Klero, Prambanan, Jogjakarta

6] Keluarga Suratman di Klero, Prambanan, Jogjakarta

7] Keluarga Alm. Singkir Kirno di Klero, Prambanan, Jogjakarta

8] Keluarga Warsini di Klero, Prambanan, Jogjakarta

9] Keluarga Almh. Yunarti di Klero, Prambanan, Jogjakarta

3. Keluarga Mbah Mikem Bin Kromo Dimejo dan Mbah Siti Paidah di Kokap, Kulon Progo, Jogjakarta

1] Santoso di Jogjakarta
2] Suprapto di Jogjakarta
3] Sujono di Jogjakarta
4] Sutejo di Jogjakarta
5] Sridadi di Jogjakarta
6] Sutikno di Jogjakarta
7] Sudarsono di Gemiling Bandar Lampung


Akhir kata, saya menyadari banyak sekali kekuarangan dan keterbatasan materi risalah ini, untuk itu saya mohon maaf serta maklum adanya. Atas dukungan informasi, data ataupun dokumentasi berkaitan dengan sejarah Kyai Ageng Somongari, Kyai Kedana Kedini, Nyai Siti Dariyah, saya haturkan banyak terima-kasih. Lima papat punjul enem, menawi lepat nyuwun ngapunten, matur nuwun.

Demikianlah kiranya catatan singkat saya selama mudzakarah di Metro Lampung. Mohon maaf bila masih banyak terdapat kekurangan dan keterbatasan isi materi, baik informasi, data, dokumentasi, maupun catatan sejarah. Terima-kasih atas segala perhatian dan dukungan.

Pejaten, 27 Juli 2010
Ismu Pagu Al Daly