Jujur, Jajar lan Jejer Manembah Gusti Ilahi

Duk Djaman Semono, Kandjeng Edjang Boeyoet Ing Klero nate paring wewarah,".. Djoedjoer Lahir Bathin Berboedi Bowo Leksono Adedhasar Loehoering Agomo, Djedjer Welas Asih Sasamoning Titah Adedhasar Jiwo Kaoetaman Lan Roso Kamanoengsan, Lan Djadjar Manoenggal Wajibing Patrap Bebrayan Agoeng Adedhasar Endahing Tepo Salira Manembah Ngarsaning Goesti Allah Ingkang Moho Toenggal, Ngrenggo Tjiptaning Koesoema Djati Rila Adedharma Mrih Loehoering Bongso, Agomo, Boedoyo, Lan Sasamining Titahing Gesang Ing Ngalam Donya, Ikoe Lakoening Moekmin Sadjati.." [Wewaler KRT. Hasan Midaryo,1999]

Senin, 22 Maret 2010

Eyang KRT. Hasan Midaryo Kalasan




Bismillaahir rahmaanir rahiim..

Allaahummaj'al wa aushil mitsla tsawaabi maa qaraktuhu ilaa ruuhi..
Walidina wa Mursyidina wa Jadalina wa kutubina wa Nasabina =
Raden Mas Bagus Ahmad Saniyo, au ahlul asma =
Kanjeng Raden Tumenggung Hasan Midaryo Kalasan,
sedha ing Kalasan lajeng sumare ing Sasanalaya Klero
[mijil 1921-sedha, 2004 M]
Bin
Kanjeng Kyai Karto Sentono,
sumere ing Sasanalaya Klero
[sedha antawis warsa 1945 M]
Bin
Kanjeng Kyai Prawiro Sentono,
sumere ing Sasanalaya Klero
[sedha antawis warsa 1907 M]
Bin
Kanjeng Kyai Wirono Redjo,
sumare ing Sasanalaya Klero
[sedha ing warsa 1885 M]
Bin
Kanjeng Kyai Ageng Djoyo Wirono,
sumare ing Sasanalaya Klero
[sedha ing warsa 1840 M]
Bin
Kanjeng Kyai Ageng Bongso Wirono,
sumare ing Sasanalaya Klero
[sedha ing warsa 1805 M]
Bin
Kanjeng Kyai Ageng Suto Wirono
sumare ing Sasanalaya Klero
[sedha ing warsa 1775 M]
Bin
Kanjeng Kyai Ageng Suto Menggolo,
sumare ing Sasanalaya Klero
[sedha ing warsa 1740 M]
Bin
Kanjeng Gusti Panembahan Rekso Pati,
sumare ing Sasanalaya Klero
[sedha ing warsa 1709 M]
Bin
Kanjeng Gusti Panembahan Wongso Pati,
sumare ing Sasanalaya Klero
[sedha ing warsa 1680 M]
Bin
Kanjeng Gusti Adipati Toh Pati,
sumare ing Sasanalaya Tulung
[sedha ing warsa 1645 M]
Bin
Kanjeng Gusti Pangeran Mas Karang Lo Raden Mas Prawiro Wongso,
sumare ing Sasanalaya Taji Prambanan
[sedha ing warsa 1600 M]
Bin
Kanjeng Gusti Pangeran Mas Tedjo Kusumo,
sumare ing Sasanalaya Jogorogo
[sedha ing warsa 1565 M]
Bin
Kanjeng Gusti Pangeran Mas Maulana Abdullah Harya Pamungkas Sabrang Lor,
sumare ing Sabrang Lor
[sedha ing warsa 1528 M]
Bin
Kanjeng Gusti Pangeran Mas Maulana Abdul Qadir Sabrang Lor,
sumare ing Sabrang Lor
Bin
Kanjeng Gusti Pangeran Mas Maulana Muhammad Yunus Senopati Arya Sarjawala Japara,
sumare ing Sasanalaya Japara
Bin
Kanjeng Syaikhuna Maulana Abdul Khaliqul Idrus Japara,
sumare ing Sasanalaya Japara
Bin
Abdillah
Bani Nabiyullah Adam Khalifatullah fil ardh Allaihis salam

Al Fatihah..

Allaahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihu wa'fu anhu wa akrimu nuzulaha wawassi' madkha laha wataqabbal hasanaa taha wakaffir sayyiaatiha birahmatika Yaa arhamarrahimiin..

Wa bi idznillah wa bijahin nabiyuna Muhammadar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam wa bi izzatul Kitabullah Al Qur'an Al Karim alaiha
bi alfa alfin fadhilatul haqq Al Fatihah..

Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (Lahir di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, 1752 - Wafat di Yogyakarta, 1828) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah anak Pangeran Ronggo Natapraja [Panembahan Ageng Serang] yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya.

Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Kanjeng Sunan Kalijaga, dari trah Panembahan Hadi yang berkedudukan di Kadilangu Demak. ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Ia pahlawan nasional yang hampir terlupakan, mungkin karena namanya tak sepopuler R.A. Kartini atau Cut Nyak Dhien tapi beliau sangat berjasa bagi negeri ini.



Warga Kulon Progo mengabadikan monumen beliau di proliman jalan raya Wates-Jogja berupa patung beliau yang sedang menaiki kuda dengan gagah berani serta membawa tombak.

Nyi Ageng Serang (1752-1828) bersama ayah (Panembahan Serang) dan kakaknya (Kyai Ageng Serang) termasuk pemberontak-pemberontak yang merobek-robek Perjanjian Gianti (13-02-1755) dan meneruskan perlawanan bersenjata terhadap Belanda. Belanda menyergap pasukannya di Semarang. Ayah dan saudaranya gugur dalam pertempuran.

Ketika pecah perang Diponegoro pada tahun 1825, Nyi Ageng Serang kehilangan suaminya yang tewas dalam pertempuran. Nyi Ageng Serang kemudian meneruskan perjuangan, dan meskipun sudah lanjut usianya, ketika itu berumur 73 tahun, mendapat kepercayaan memimpin pasukan. Pasukannya membawa Panji "Gula Kelapa" (warna Merah Putih) di daerah Jawa Tengah bagian timur-laut.

Nyi Ageng Serang dalam pertempuran itu memprakarsai penggunaan daun Talas sebagai taktik penyamaran. Dua tahun sebelum Perang Diponegoro berakhir Nyi Ageng Serang wafat karena jatuh sakit, kemungkinan serangan wabah penyakit malaria sebagaimana penyakit yang banyak merenggut nyawa para prajuritnya, juga para prajurit opas Belanda di sepanjang pegunungan Menoreh.

Selanjutnya, perjuangan Nyi Ageng Serang dipimpin oleh cucunya yang bernama Raden Mas Papak yang bergabung dengan laskar Menoreh yang dipimpin oleh Raden Mas Singlon, salah satu putra Pangeran Diponegoro yang bergelar Pangeran Menoreh.

Nyi Ageng Serang, Pangeran Adi Suryo dan Pangeran Somo Negoro memimpin perlawanan di darah pegunungan Menoreh, Kadipaten Adi Karto serta daerah Kadipaten Kulon Progo. Pangeran Joyo Kusumo memimpin perlawanan di daerah Kokap pegunungan Menoreh bersama Raden Mas Leksono Dewo (Ki Sodewo) di daerah mata air Sendang Clereng dan sekitar wilayah Serang Pengasih yang merupakan wilayah Kadipaten Adi Karto.

Sementara setelah terjadi geger di Gua Selarong, Pangeran Diponegoro dan Tumenggung Danu Kusumo serta para Kenthol Bagelen selanjutnya bergerak ke arah barat dan memimpin perlawanan di daerah Bagelen dan Alas Abang Somongari, wilayah purworejo dan kutoarjo kini.

Pangeran Adi Winoto dan Tumenggung Mangundipuro memimpin perlawanan di daerah Kedu. Pangeran Sayid Abu Bakar dan Tumenggung Joyo Mustopo memimpin perlawanan di daerah Lowano. Pangeran Joyo Kusumo memimpin perlawanan di daerah Ngayogyakarto bagian utara. Pangeran Suryo Negoro, Tumenggung Somodiningrat dan Tumenggung Suro Negoro memimpin perlawanan di daerah kuta negara Mataram dan wilayah timur Kraton Ngayogyakarto.

Pangeran Singosari dan Tumenggung Warso Kusumo memimpin perlawanan di daerah Gunung Kidul hingga daerah Wonogiri. Tumenggung Karto Pengalasan bersama Raden Mas Wirono Rejo dengan Laskar Prambanan memimpin perlawanan di daerah Plered. Dan Tumenggung Mertoloyo memimpin perlawanan di daerah Pajang, serta Tumenggung Kartodirjo memimpin perlawanan di daerah Sukowati hingga daerah Sragen dan Sukoharjo kini.


Jejak Nyi Ageng Serang

Jalur itu tidak saja menawarkan pemandangan asri lahan pertanian dengan latar Perbukitan Menoreh, tetapi juga menawarkan kekayaan wisata budaya dan sejarah, mulai dari candi-candi, Bendungan Karang Talun, hingga makam Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang.

Dari arah Kota Magelang, Jawa Tengah, jalan samping ini diawali dari ibu kota Kabupaten Magelang, Mungkid, yang terletak sekitar 10 kilometer (km) ke arah selatan melalui jalan menuju kompleks wisata Candi Borobudur. Selepas kompleks kantor Bupati Magelang di Mungkid, akan ditemukan pertigaan besar. Jika membelok ke kanan akan menuju Candi Borobudur. Adapun jalur lurus akan menuju Candi Mendut.

Sekitar 900 meter dari pertigaan tersebut akan ditemukan Jembatan Kali Elo dengan pertigaan lain di ujungnya. Jalur utama ke kiri akan membawa pada Candi Mendut, sementara jalur ke kanan akan masuk ke jalur alternatif Kalibawang-Godean. Tepat di perbatasan provinsi ini, terdapat pintu air Karang Talun, yang juga dikenal dengan sebutan Ancol. Selain karena pemandangan unik, pintu air ini sarat dengan kisah sejarah Yogyakarta.

Pintu air, yang mampu mengairi 3.000 hektar lahan sawah itu, pertama kali dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1909, kemudian dipugar Pemerintah RI pada tahun 1980.

Pintu air Karangtalun merupakan hulu Selokan Mataram yang sangat dikenal warga Yogyakarta. Selokan, yang menghubungkan Sungai Progo dan Opak itu, dinormalisasi oleh Sultan Hamengku Buwono IX pada masa penjajahan Jepang dengan metode padat karya sebagai strategi melindungi rakyat Yogyakarta dari pengiriman kerja paksa ke luar Jawa.

Di sebuah perbukitan tak jauh dari bendungan, tersembunyi kisah kepahlawanan lain, yaitu makam perempuan pahlawan nasional Nyi Ageng Serang. Makam salah satu panglima perang kepercayaan Pangeran Diponegoro itu terletak di Dusun Beku, Pagerarjo, Kalibawang, Kulon Progo. Jalan Dekso-Muntilan berakhir pada perempatan Dekso, sekitar 30 km barat Kota Yogyakarta. Untuk mencapai Kota Yogyakarta, ambil jalan ke kiri menuju jalan lingkar barat.

Nyi Ageng Serang putri Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya.

Meski merupakan putra bangsawan, namun sejak kecil Nyi Ageng Serang dikenal dekat dengan rakyat. Setelah dewasa dia juga tampil sebagai salah satu panglima perang melawan penjajah. Semangatnya untuk bangkit selain untuk membela rakyat, juga dipicu kematian kakaknya saat membela Pangeran Mangkubumi melawan Paku Buwana I yang dibantu Belanda.

Setelah Perjanjian Giyanti, Nyi Ageng Serang pindah ke Jogja bersama Pangeran Mangkubumi. Namun perjuangan melawan pasukan penjajah terus dia lanjutkan. Saat itu Nyi Ageng Serang memimpin pasukan yang bernama Pasukan Siluman dengan keahlian Serang yang cepat hingga membuat pasukan musuh kerap kocar-kacir. Pasukan ini juga menjadi salah satu pasukan yang sangat diperhitungan Belanda waktu itu.

Ketika Perang Diponegoro berkobar pada 1825, Nyi Ageng Serang juga menjadi salah satu panglima perangnya. Pasukannya semakin besar karena dibantu oleh kalangan bawah, khususnya petani yang banyak bergabung dengan pasukannya. Nyi Ageng Serang juga dikenal sebagai ahli siasat dan negosiasi.

Nyi Ageng Serang meninggal karena usia yang sudah lanjut dan dimakamkan di Dusun Beku, Pager harjo, Kalibawang, Kulon Progo. Makam ini terletak di atas bukit di desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, kurang lebih 6 kilometer dari jalan Dekso Muntilan. Jarak dari Yogyakarta kurang lebih 32 kilometer, dari kota Wates kurang lebih 30 kilometer.

Makam ini dipugar pada tahun 1983 dengan bangunan berbentuk joglo dan telah dimakamkan disini Nyi Ageng Serang beserta abdi dalemnya. Garwo ibu dan wayah dalem yang telah dimakmkan didesa Nglorong, kabupaten Sragen pada waktu pemugaran makam dipindahkan ke makam iniMakam ini terletak di atas bukit kurang lebih 6 km dari jalan Dekso-Muntilan. Jarak dari Yogyakarta ± 32 km, dari kota Wates ± 30 km.

Makam ini dipugar pada 1983 dengan bangunan berbentuk joglo. Pada saat dipugar, makam suami, ibu, cucu dan yang telah dimakamkan di desa Nglorong, Kabupaten Sragen di pindahkan di tempat ini.

Nyi Ageng Serang memang telah lama wafat, namun semangatnya masih dapat terlihat pada bagaimana semangat serta prestasi para pewaris semangat cita-cita perjuangan Nyi Ageng Serang di Kota Wates, Kulon Progo. [Kawan Indonesia]

Petilasan Nyi Ageng Serang

Sendang Suruh
Giri Tengah Magelang

Pada masa perang, Pangeran Diponegoro bergerilya dan singgah di Kalitengah selama 7 bulan di rumah Nyi Ageng Serang. Pangeran Diponegoro adalah seorang yang taat beragama. Saat beliau mencari sumber air untuk bersuci, akhirnya menemukan Sendang Suruh dan beliau beribadah disitu. Dahulu ada sebuah surau didekat sendan tersebut.

Hingga saat ini sendang tersebut masih ada, airnya tak pernah habis meskipun musim kemarau. Di dekat sendang terdapat peninggalan berupa batu yang konon ada cap kakinya. Kini batu tersebut sudah dibalik dan dikelilingi oleh tembok setinggi 1 meter. Di sekeliling sendang terdapat hutan kecil bernama Hutan Suruh. Banyak tumbuh pepohonan rindang, serta beberapa pohon yang sudah sangat tua berumur ratusan tahun seperti pohon Kecik, Wadang, dan Bendo, terletak di sebelah sendang.

Pos Mati merupakan nama sebuah puncak bukit yang terletak di sisi barat laut Desa Giritengah, berbatasan dengan Desa Ngadiharjo. Menurut sejarah, pada jaman perang digunakan oleh Pangeran Dipinegoro sebagai tempat pengintaian musuh serta tempat penyimpanan benda-benda pusaka seperti pedang, keris, tombak, dll. Di atas puncaknya terdapat 2 pohon pinus yang hidup sampai sekarang. Dari tempat ini kita bisa melihat sunrisedi atas Candi Borobudur dan Gunung Merbabu.

Bukit Limasan


Bukit Limasan merupakan bagian dari perbukitan Menoreh yang menonjol keluar. Bukit ini juga erat kaitannya dengan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Di salah satu bagian bukit Limasan terdapat sebuah batu yang dipercaya sebagai batu keramat. Batu tersebut bentuknya menyerupai babi/celeng sehingga disebut Watu Celeng.

Bale Kambang/Bale Gedhe

Bale Kambang adalah sebuah bangunan kecil yang dulu digunakan sebagai pos istirahat oleh Nyi Ageng Serang pada zaman Perang Diponegoro. Dulunya bangunan ini berupa pondok bambu, kemudian dibuat permanen pada masa kepemimpinan Bapak Lurah Sochib. Bale Kambang sampai saat ini masih dianggap keramat oleh masyarakat sekitar.


Wasiat Nyi Ageng Serang :


" Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa,
kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan,
Tidak akan terperosok hidupnya,
Dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup,
Karena Tuhan akan selalu menuntun
Dan melimpahkan anugrahNya
yang tiada ternilai harganya"

Rumongso melu handerbeni (merasa ikut memiliki), Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan), dan Mulat Sario hangroso wani (mawas diri dan berani bertanggung jawab). Wasiat tersebut disampaikan Nyi Ageng Serang pada saat beliau mendengarkan keluhan keprihatinan para pengikutnya dan rakyat, akibat perlakuan kejam kaum penjajah, yakni Belanda.

[dicomot dari berbagai sumber]





Raden Mas Sentot Ali Basyah

Kanjeng Kyai Modjo


Kyai Modjo lahir sekitar tahun 1792 dan kemudian menjadi guru agama (ulama) yang sangat berpengaruh daerah Pajang dekat Delanggu, Surakarta. Nama sebenarnya adalah Muslim Mochammad Khalifah.

Ayah Kyai Modjo bernama Iman Abdul Arif, yang merupakan seorang ulama terkenal pada masa itu di dusun Baderan dan Modjo, kedua dusun tersebut berada dekat Pajang dan merupakan tanah pemberian (perdikan / swatantra) Raja Surakarta kepada beliau. Belum diketahui latar belakang keluarga beliau, kecuali menurut suatu sumber (Babcock, 1989) Iman Abdul Ngarip memiliki alur keturunan dari kerajaan Pajang. Sedangkan ibu Kyai Modjo adalah saudara perempuan HB III, dan dengan demikian ditinjau dari hubungan kekerabatan Kyai Modjo adalah kemenakan Pangeran Diponegoro karena ibu Kyai Modjo (R.A Mursilah bersepupu dengan Pangeran Diponegoro.

Meskipun ibunya seorang ningrat kraton, Kyai Modjo dibesarkan di luar kraton. Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan menetap di sana selama beberapa waktu (Ali Munhanif, 2003) Kyai Modjo kemudian memimpin satu pesantren di negeri Modjo.

Kyai modjo menikah dengan R.A Mangubumi (Babcock, 1989), janda cerai dari Pangeran Mangkubumi - paman Pangeran Diponegoro dan karena perkawinan ini Pangeran Diponegoro memanggil Kyai Modjo dengan sebutan “paman”, meskipun dari garis ayah Kyai modjo adalah “kemenakan” Pangeran Diponegoro (ibu Kyai modjo (R.A Mursilah) adalah sepupu Pangeran Diponegoro).

Kyai Mojo mempelajari agama Islam dengan berguru kepada Kyai Syarifudin di Gading Santren Klaten. Setelah dewasa, ia berguru kepada kyai di Ponorogo. Disinilah Kyai Mojo mendapatkan pengajaran tentang ilmu kanuragan. Sejak saat itulah beliau terkenal akan kesaktiannya, di samping terkenal akan pendidikan agama dan pesantrennya. Ia termasuk salah seorang kepercayaan Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono VI (PB VI).

Sepeninggal ayahnya, Kyai Modjo melanjutkan tugas ayahnya sebagai guru agama di (pesantren) Modjo di mana banyak putra dan putri dari Kraton Solo belajar di pesantrennya di Modjo. Kelak nama Muslim Mochammad Khalifah menjadi terkenal sebagai Kyai Modjo. Keulamaannya dan ada pertalian darah dengan Kraton Yogyakarta (baca Pangeran Diponegoro) kemungkinan membuat Pangeran Diponegoro memilih Kyai Modjo sebagai penasehat agamanya sekaligus panglima perangnya.

Dekadensi moral yang terjadi di kraton kemudian berimbas pada kehidupan masyarakat luas semakin menderita, telah menjadi sebab keluarga Iman Abdul Ngarip, khususnya Muhammad Muslim (Kyai Modjo) beserta saudara-saudaranya (Kyai Khasan Mochammad, Kyai Khasan Besari, dan Kyai Baderan) dan masyarakat luas mengangkat senjata menentang Belanda.

Setelah di "penangkapan" oleh Belanda pada 17 Nopember 1828 di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah, Kyai Modjo dibawa ke Batavia dan selanjutnya diasingkan ke Tondano - Minahasa (Sulawesi Utara) hingga wafat di sana pada tanggal 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun. Ikut bersama beliau dalam pengasingan di Tondano adalah satu putranya (Gazaly), 5 orang kerabat dekat – ada pertalian darah (Tumenggung Reksonegoro Kyai Pulukadang, Tumenggung Zess Pajang, Ilyas Zess, Wiso/Ngiso Pulukadang, dan Kyai Baderan/Kyai Sepuh) serta lebih dari 50 orang pengikut lainnya yang semuanya laki-laki. Istri beliau menyusul ke Tondano setahun kemudian.

Kecuali Kyai Modjo, hampir semua pengikutnya menikah dengan wanita Tondano (Tombokan, Walalangi, Tumbelaka, Rumbayan, dan lain-lain) dan dari perkawinan ini lahir beberapa keluarga yang dewasa ini dikenal dengan nama keluarga (marga,fam) antara lain "Pulukadang", "Modjo", "Baderan", "Zess", "Kyai Demak", "Suratinoyo", "Nurhamidin", "Djoyosuroto", "Sutaruno", "Kyai Marjo", dan lain-lain.

Kyai Modjo merupakan pendiri Kampung Jawa Tondano di Minahasa dan menjadi cikal bakal masuknya Agama Islam di Minahasa. Di Tondano beliau menyalurkan ilmu kesaktiannya (yang dipelajarinya di Ponorogo) kepada pengikutnya dalam bentuk ilmu bela diri dan kemudian menjadi cikal bakal pencak silat.

Kanjeng Pangeran Diponegoro III

Kanjeng Pangeran Diponegoro II

Pangeran Diponegoro Anom



Ngungak jati dhiri lan watake Pangeran Diponegoro [1787-1855]

Pangeran Diponegoro iku putra mbarepe Sri Sultan Hamengkubuwana III saka garwa ampeyan. "Babad Diponegoro nyebutake yen Pangeran Diponegoro lair dina Jemuah, tanggal 8 Muharam taun Be, utawa 11 November 1785. Nanging windune ora jumbuh. Taun 1785 windune Langkir, kamangka miturut Babad Diponegoro, windu kelairane iku Kulawu. Yen petungane linandhesan windu Kulawu, dina Jemuah tanggal 8 Muharam, taun Be, tibane ing taun 1704 Jawa utawa 6 Februari 1778.

Buku asesirah Sultan Abdul Kamit Herucakra Kalifah Rasulullah di Jawa 1787-1855, weton Museum Radya Pustaka Surakarta, taun 1990, kang ditulis dening Dr Soewito Santosa kang dibiyantu dening pepanthan redhaksi KRT Hardjonagoro, Oetari Koento Wibisono SH, Happy H Suryadjaya, Dr Sri Hastanto, RT Diarto Wiromanggolo, RT Hardjosuwarno lan Agus Sutanto BcHk, njlentrehake maneka pradondi kang sasuwene iki tuwuh lan ngrembaka yen ngrembug bab sujarah perjuwangane Pangeran Diponegoro nglawan Kumpeni Walanda.


Pangeran Diponegoro tumrap bangsa Indonesia kalebu pahlawan. Panjenengane tanpa kendhat kabiji tansah mbela rakyat cilik kang uripe kaningaya amarga kawicaksanane paprentahan Kasultanan Ngayogyakarta kang cedhak marang paprentahan penjajah Walanda. Paprentahan kang lumaku ora bisa ngayomi urip lan panguripane rakyat cilik. Adil lan ukum ora jejeg tumrap rakyat cilik. Ananging tumrap bangsa Walanda lan saperangan punggawa praja ing Kasultanan Ngayogyakarta jaman iku, Pangeran Diponegoro kabiji minangka pemberontak. Wong kang tansah ngganggu gawe lakuning paprentahan kang dianggep wus sah. Saengga Pangeran Diponegoro didunungake minangka mungsuhe pamarentah.


Yektine riwayat lan sujarah uripe Pangeran Diponegoro pancen narik kawigatene para sujana sarjana saka pirang-pirang negara, kalebu saka Indonesia dhewe. Kanyatan yen Pangeran Diponegoro iku lair saka garwa ampeyan utawa selir dadi pancadan maneka rupa tulisan saka para sejarahwan utawa sarjana Walanda nalika nulis bab urip lan kridhane Pangeran Diponegoro. Miturut andharan ing maneka warna buku asil karyane sejarahwan lan sarjana saka Walanda iku, akeh kang nganggep yen kridhane Pangeran Diponegoro nglawan paprentahan Kasultanan Ngayogyakarta lan paprentahan Walanda amarga krentege kanggo nglenggahi dhampar keprabon ing Kasultanan Ngayogyakarta.


Kamangka, adhedhasar Babad Diponegoro lan Babad Cakranegara, Pangeran Diponegoro yektine mangerteni yen sing duwe hak nglenggahi dhampar keprabon ing Kasultanan Ngayogyakarta ora liya ya RM Ambyah. Ing Babad Cakranegara cetha dicritakake nalika Sri Sultan Hamengkubuwana III wawangunem kalawan RM Ambyah. Ing kono dijlentrehake yen RM Ambyah lan Pangeran Diponegoro wus mangerteni kepriye larah-larahe waris keprabon sasurute Hamengkubuwana III.


Pangeran Diponegoro nglilakake hak kang sadurunge diparingake dening ramane, Hamengku buwana III, kanggo nglenggagi dhampar keprabon Kasultanan Ngayogykarta, marang RM Ambyah. Pangeran Diponegoro ngugemi pilihan iku amarga ora kepengin nyekel urusan kadonyan lan pengin konsentrasi ing upaya ngabekti marang Gusti Kang Maha Kuwasa lan agama.


Saliyane iku, Pangeran Diponegoro uga mangerteni yektine adhedhasar adat lan pranatan, ya mung putra kang lair saka garwa prameswari kang duwe hak nglintir kalungguhan nata. Kacihna, ing agama Islam ana kalodhangan nemtokake lan netepake jejering pemimpin kang dipilih utawa ditetepake dening pemimpin sadurunge. Janji saka Hamengkubuwana III marang Pangeran Diponegoro yen besuk bakal nglintir kalenggahan nata ing Kasultanan Ngayogyakarta ora tinulis.


Ing pambukaning buku iki, Soewito Santosa njlentrehake, yektine naskah bab Sultan Abdulkamit utawa Pangeran Diponegoro iku wus ditulis wiwit 17 taun sadurunge dibabar dening Museum Radya Pustaka. Sing duwe krenteg kanggo mbabar ora liya KRT Hardjonagoro (saiki Panembahan Hardjonagoro-red) kang ing taun 1990 iku nglenggahi jejering Pangarsa Museum Radya Pustaka.


Soewito njlentrehake sasuwene iki akeh naskah sujarah bab urip lan kridhane Pangeran Diponegoro kang njupuk sumber saka tulisan-tulisan karyane para sejarahwan lan sujana sarjana nagara Walanda. Kamangka ing tanah Jawa yektine ana sumber kang luwih wigati kang sasuwene iki durung didhudhah, yaiku Babad Diponegoro karyane Pangeran Diponegoro dhewe lan Babad Cakranegara karyane Tumenggung Cakranegara, wakil senapati Kasunanan Surakarta kang mbiyantu Walanda lan dumunung ing Purwareja.


Asal-usule Pangeran Diponegoro kang miyos saka garwa ampeyan ndadekake panjenengane ngugemi sikep sakmadya marang para pangeran. Dening wong-wong Walanda, sikep mangkono iku dibiji umuk. Dina-dina ndalem uripe Pangeran Diponegoro dhewe ora kabeh dilakoni ing sajroning wewengkon Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Wiwit isih cilik malah urip ing sanjabane karaton, yaiku ing Tegalreja, kang ndadekake panjenengane tansah srawung kalawan para among tani lan rakyat cilik liyane.


Piwulange embahe kang tansah lelandhesan agama Islam uga ndadekake Pangeran Diponegoro luwih cedhak marang rakyat cilik. Pangeran Diponegoro uga kerep mbiyantu among tani kang katemben nandur pari utawa panen pari. Yen katemben nekani pondhok-pondhok pesantren uga tansah srawung karo santri-santri kang asale saka desa lan uga tansah nyandhang wulung, sandhangane para Walisanga kang kaprah ing madyaning bebrayan wong cilik. Miturut panganggit buku iki, saksapaa kang tau maca buku Babad Diponegoro, bakal antuk dudutan yektine ya wewengkon papan tuwuh lan ngrembakane jiwa kang mernani sikep lan watake Pangeran Diponegoro.


Panjenengane tanpa kendhat nglakoni tapa brata. Pangeran Diponegoro uga nyinau piwulang-piwulang asumber kitab Ramayana, Arjunawijaya lan kapustakan warisan pada leluhur tanah Jawa liyane. Saka kanyatan iku, miturut andharan ing buku iki, Pangeran Diponegoro mujudake pangeran Jawa kang ora kendhat ngudi kawruh piwulange para leluhur lan ngaluhur kayadene Panembahan Senapati, ananging uga panggah lan ora mingkuh saka ngugemi pranatan lan piwulang agama Islam. Uripe wiwit cilik kang raket kalawan donyaning pondhok pesantren ndadekake wong-wong Walanda ngecap yen Pangeran Diponegoro iku sawijining dweepr, senengane ngalamun.


Yektine, lelandhesan katrangan ing Babad Diponegoro, cap dweeper saka wong-wong Walanda iku amarga ora lelandhesan pangerten kang murwat bab tasawuf. Pangeran Diponegoro uga nyinau tasawuf, salah sijine lumantar buku Nasikatulmulki kang asline asesirah Nashikatul Muluk anggitane Al Ghazali.


Pehak Walanda uga mbiji yen Pangeran Diponegoro iku duwe sikep kerep rangu-rangu. Anatarane kabukten nalika Pangeran Diponegoro duwe pepenginan mati lampus. Yektine, miturut andharan ing buku iki, nalika Pangeran Diponegoro duwe pepenginan mati lampus utawa bunuh diri, ora beda kalawan rasane wong-wong kaprah kang katemben duwe sanggan abot.


Nalika iku Pangeran Diponegoro tansah meruhi wong-wong cilik, kawula kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat kang uripe tansah kaningaya lan tansah nandang kasangsaya amarga trekahe penjajah Walanda. Wong-wong cilik ing Ngayogyakarta wektu iku ora bisa nyambut gawe kanthi temen-temen kanggo nyukupi kabutuhane lan kabutuhan kulwargane amarga kudu netepi aturane penjajah Walanda, kayadene pajek kang maneka rupa lan kabeh larang.


Kanyatane, Pangeran Diponegoro banjur milih sikep nuladha pilihane Nabi Muhammad SAW lan Nabi Isa AS nalika nampa jejibahan kanthi ati kang sabar, mantep lan semendhe marang Gusti Kang Maha Kuwasa. Kanthi mangkono, sikepe Pangeran Diponegoro kang rangu-rangu, malah kepara pengin mati lampus yektine nuduhake sikepe manungsa kaprah yen katemben nyangga bab utawa prekara kang abot.


Lan nalika wusana bisa semendhe marang Gusti Kang Maha Kuwasa, sikep rangu-rangu iku malih dadi antebing ati kanggo kanggo nglawan kabeh pehak kang tumindak dur angkara. Ing buku ini dijlentrehake yen laku uripe Pangeran Diponegoro wiwit timur nganti netepake sikep nglawan penjajah Walanda lan paprentahan Kasultanan Ngayogyakarta kang prasasat dikuwasani dening Patih Danureja, memper kalawan laku uripe Nabi Muhammad SAW wiwit timur nganti nampa wahyu minangka Nabi kang pungkasan saka Gusti Allah Kang Maha Kuwasa.


Pangeran Diponegoro tansah nggilut agama Islam


Buku asesirah Sultan Abdul Kamit Herucakra Kalifah Rasulullah di Jawa 1787-1855 ora mligi njlentrehake bab perjuwangane Pangeran Diponegoro nglawan penjajah Walanda. Buku iki luwih akeh ngrembug bab pribadine, lan mligine kang gegayutan karo anggone nggilut lan ngetrapake piwulang agama Islam ing urip padinane. Ing buku iki ana perangan mligi kang njlentrehake tindake Pangeran Diponegoro nalika ditetepake minangka kalifah ing tanah Jawa. Lelandhesan Babad Dipanegara, Pangeran Diponegoro diangkat dadi kalifah nalika nenepi ing Guwa Secang, sawise maca Alquran, ing wanci lingsir srengenge, salebare nindakake solat Asar, mbeneri sasi Pasa.


Nalika iku Pangeran Diponegoro nembe lenggahan sangisore wit ringin, lan banjur krungu swara kang nyatakake yen panjenengane sinengkakake minangka kalifah Rasulullah ing tanah Jawa kanthi sesebutan Abdul Kamit Herucakra Sayidin Panatagama. Miturut andharan ing Babad Dipanegara, ungele swara sing dirungu kaya mangkene,”Heh Ngabdul Kamit sira, aranira mengko den paringi, iya marang Rabil’alamin, jeng Sultan Ngabdul Kamite, Herucakra sayidu, pan Panatagama ing Jawi, kalipah Rasulullah”.


Yen mindeng sesebutan utawa gelar tumrap Pangeran Diponegoro nalika sinengkakake minangka kalifah Rasulullah ing tanah Jawa, cetha ana perangan budaya Jawa lan budaya Arab. Perangan budaya Jawane katon ing sesebutan Herucakra, dene perangan budaya Arab katon ing sesebutan Abdul Kamit, Sayidin Panatagam, Kalifah Rasulullah.


Abdul Kamit kang uga tinulis Ngabdulkamit kalebu sesebutan kang lumrah, tegese abdine Al Hamid. Al Hamid dhewe ora liya salah sijine asma dalem Gusti Allah Kang Maha Kuwasa. Sayidin Panatagama yektine ana perangan Jawa lan Arabe, ananging tegese padha yaiku sayid din utawa pemimpin agama. Ana uga panemu yen Sayidin iku asale saka tembung syah id din. Dene Panatagama ateges nimpuna tata agama, kang raket tegese karo tembung Sayidin.


Tembung Kalifah Rasulullah ateges wakile Rasulullah Muhammad SAW. Tembung iki ngandhut tapsiran kanggo mbedakake kalenggahane Pangeran Diponegoro ing wewengkon agama Islam kang beda kalawan kelanggahane Sri Sultan saka Karaton Ngayogyakarta lan Sri Susuhunan saka Karaton Surakarta. Kekarone uga sinebut Sayidin Panataga, ananging katrangane Kalifatullah, wakil saka Allah SWT.


Sesebutan Herucakra wus akeh sing nggoleki tegese kang baku, ananging katrangan-katrangan sing tinemu rata-rata durung cetha njlentrehake tegese tembung Herucakra iku. Biyasane sesebutan iki digandhengake karo raja Jayabaya, kang nglenggahi dhampar keprabon krajan Kediri ing abad XI. Raja Jayabaya diwartakake ngathik pralambang kang nyebut jeneng Herucakra iku minangka raja waliullah kang nggenteni raja Sunda-rowang (ing tembe ana ratu jeneng waliullah, kang nggenteni ratu Sunda-rowang, punika arane Sang Prabu Erucakra...).


J Brandes (Pararaton, VKI, 49, 1896) ngandharake yen tembung heru = juweel (permata) lan tembung cakra asale saka tembung cakrawati = wereldrond (saindenging donya). Saengga Herucakra ateges het juweel des wereld (permataning donya). Dene miturut Pigeaud, tembung Herucakra asale saka tembung vairocana (jeneng sawijining wong Budha). Buku iki bisa kanggo mepaki kapustakan bab sujarah urip lan perjuwangane Pangeran Diponegoro, mligine kanggo ngerteni kepriye watak lan pribadine, wiwit isih timur nganti dewasane.


Apamaneh ing buku iki uga dipepaki katrangan-katrangan kang asipat filosofis nalika ngrembug lan njlentrehake bab sipat, watak lan jati dhirine Pangeran Dipanegare lelandhesan laku padinane, jenenge, wewengkon papan dununge lan uga kepriye sesambungane karo rakyat cilik. Saka buku iki bisa dimangerteni yektine Pangeran Diponegoro iku sawijining pangeran Jawa kang uripe luwih akeh ana sanjabane wewengkon karaton saengga luwih akeh sesambungane karo rakyat cilik.


Pangeran Diponegoro uga sawijining satriya kang ngugemi dharmane satriya lelandhesan budaya Hindu-Jawa kang wajib nengenake kapentingane rakyat. Ananging Pangeran Diponegoro uga sawijining santri kang wiwit cilik digegulang piwulang agama Islam saengga menjila dadi muslimin kang kuwat lan kandel rasa takwane.