Jujur, Jajar lan Jejer Manembah Gusti Ilahi

Duk Djaman Semono, Kandjeng Edjang Boeyoet Ing Klero nate paring wewarah,".. Djoedjoer Lahir Bathin Berboedi Bowo Leksono Adedhasar Loehoering Agomo, Djedjer Welas Asih Sasamoning Titah Adedhasar Jiwo Kaoetaman Lan Roso Kamanoengsan, Lan Djadjar Manoenggal Wajibing Patrap Bebrayan Agoeng Adedhasar Endahing Tepo Salira Manembah Ngarsaning Goesti Allah Ingkang Moho Toenggal, Ngrenggo Tjiptaning Koesoema Djati Rila Adedharma Mrih Loehoering Bongso, Agomo, Boedoyo, Lan Sasamining Titahing Gesang Ing Ngalam Donya, Ikoe Lakoening Moekmin Sadjati.." [Wewaler KRT. Hasan Midaryo,1999]

Kamis, 30 September 2010

Mengenang Tengku Abdullah Lam U


Pengantar

Aceh merupakan salah satu daerah di Nusantara yang memiliki khazanah intelektual muslim yang patut diperhitungkan. Abad ke 17 merupakan puncak zaman keemasannya. Hal ini dibuktikan dengan tampilnya ulama-ulama besar, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin Al Raniri, dan Abdur-Rauf Singkel.

Kemajuan yang dialami tersebut ternyata tidak selamanya abadi, karena lambat laun daerah yang juga dijuluki dengan sebutan Serambi Mekkah ini tidak pernah “sepi” dari polemik bahkan konflik yang berkepanjangan, bahkan kondisi tersebut masih terjadi hingga hari ini. Walaupun demikian, daerah ini masih menyisakan ulama-ulama yang memiliki komitmen yang tinggi dalam mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan kepada masyarakat.

Tulisan ini mencoba mendeskripsikan salah seorang tokoh ulama abad ke-20, yaitu Tgk. Abdullah Lam U yang lebih popular dengan gelar Abu Lam U. ulama ini memiliki keahlian di bidang seni syair dalam “membumikan” nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat, seperti yang akan diuraikan selanjutnya.

Biografi Singkat

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Umar bin Auf Lam U, selanjutnya disebut Abu Lam U. Dilahirkan di Lam U Aceh Besar pada penghujung abad ke-19, yaitu tahun 1888 M (1305 H).

Pada masa kelahirannya, kerajaan Aceh baru beberapa tahun memulai perang melawan aggressor Belanda. Jadi, dalam kondisi demikianlah ulama ini tumbuh dan berkembang serta dibina oleh ayahnya sehingga menjadi ulama yang memiliki nama yang cukup popouler, khususnya di bidang keagamaan.

Abu Lam U adalah putra Tgk. Chik Umar Lam U, ulama asli Aceh (bukan pendatang) yang memiliki keahlian dalam ilmu Fiqh dan hafidz al Qur`an. Ayah Abu Lam U memiliki 3 orang isteri; seorang berasal dari Yan (Malaysia). Melalui isterinya ini lahir 2 ulama besar, yaitu: Tgk. Ahmad Hasballah Indrapuri yang populer dengan nama Abu Indrapuri (lahir pada 1888 M/1305H), dan Tgk. Muhammad Dahlan atau Tgk. Madhan, yang bergelar Tgk. Chik di Yan (lahir pada tahun 1891 M/1308H). Isterinya yang kedua bernama Nyak sunteng berasal dari Lam U.

Abu Lam U memulai pendidikan dasar dari ayahnya, Tgk. Umar (Tgk. Umar Di Yan). Materi dasar yang dipelajarinya adalah Al Qur`an, menulis Arab, tauhid, dan ibadah. Setelah mendapat pendidikan dasar dari ayahnya, Abu Lam U melanjutkan pendidikanya pada dayah Piyeung, sebuah desa dalam kecamatan Montasik Kabupaten Aceh Besar, yang berjarak 8 km dari kampungnya. Gurunya di dayah ini bernama Abdullah bin Al Faqih yang juga ulama ternama. Melalui guru ini Abu Lam U mendalami materi tauhid, fiqh, sejarah Islam, Nahwu, Sharaf, dan lain-lain.

Faktor integritas intelektual yang baik yang dimiliki Abu Lam U menyebabkan gurunya tertarik kepadanya. Selain dijadikan menantu, ia juga sering dibawa pergi oleh Abdullah bin al Faqih ke daerah lain, dan di sanalah ia bertemu dengan tokoh-tokoh kenamaan dan berkenalan dengan para thalib (pelajar) lainnya.

Ulama dari Lam U ini juga pernah menimba ilmu di negeri jiran, Malaysia, tepatnya di kampung Yan. Di sana ia belajar pada seorang ulama yang dikenal dengan nama Teungku Chik di Bale. Putera Tgk. Umar ini pernah juga melakukan pengembaraan intelektualnya hingga ke Makkah bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji pada tahun 1924.

Ia menetap di sana selama 6 bulan dan menimba ilmu dari guru-guru besar yang mengajar di Masjidil Haram. Di negeri kelahiran nabi inilah Abu Lam U memperoleh informasi modernisasi pendidikan, sehingga Abu Lam U termasuk salah seorang dari ulama PUSA yang turut melakukan modernisasi pendidikan di Aceh sebelum kemerdekaan Indonesia.

Berkat ketekunan dan kegigihan dalam menimba ilmu, akhirnya Abu Lam U merupakan bagian dari ulama Aceh yang memiliki kapasitas ilmu keagamaan yang dalam, khususnya di bidang ilmu kebahasaan, tauhid, fiqh, dan sejarah. Hal ini tercermin dari kedudukan dan pengaruhnya dalam masyarakat serta karya yang pernah ditulisnya.

Kedudukan dan pengaruhnya daalam Masyarakatat

Abu Lam U tidak merasa sulit dalam mengabdikan ilmunya kepada masyarakat karena ayahnya, Tgk. Umar, memiliki lembaga pendidikan dayah, tempat dirinya menimba ilmu dasar pada masa kecil. Sepeninggal ayahnya, Abu Lam U melanjutkan kepemimpinan pada dayah tersebut. Jadi, tugas utama Abu Lam U adalah mengelola dayah tersebut.

Di samping itu, putra Abu Umar ini juga turut aktif mengajar masyarakat di sekitar kampung tersebut. Pembinaan nilai-nilai agama yang diberikan kepada mereka dikenal dengan meusifeut. Kegiatan ini biasanya dipentaskan bersama-sama secara sinkron hingga merupakan suatu kegiatan seni tari, karena ada gerakan kepala dan badan.

Demikian pula suara yang ditimbulkan olh para pesertanya yang melahirkan sebuah kepaduan. Karena ada rasa seni dan rangsangan dalam kegiatan ini, maka sari pelajaran yang diajarkan akan lebih mudah dipahami dan diterima oleh pelakunya sendiri bahkan juga orang yang turut menyaksikannya. Melalui meusifeut, masyarakat memperoleh ilmu pokok agama tentang tauhid dan aqidah, fiqh, akhlak/tasawuf, sejarah, dan lain-lain.

Abu Lam U juga pernah memangku jabatan qadhi pada masa Panglima Polem Muhammad Daud Syah. Ia juga memiliki andil besar dalam organisasi PUSA, oleh karenanya, dia merupakan bagian dari anak bangsa Aceh yang telah mereform sistem di Aceh. Putra Abu Umar ini juga merupakan bagian dari anggota Syarikat Islam (SI), organisasi politik yang turut membidani kemerdekaan Indonesia di Aceh.

Dari uraian di atas tampak dengan jelas bahwa Abu Lam U merupakan seorang tokoh Ulama Aceh pada masanya. Karena ketokohannya, putra Abu Umar ini termasuk salah seorang ulama yang diperhitungkan, sehingga sering sekali diundang dalam pertemuan-pertemuan besar yang dilakukan oleh Pemerintah, seperti undangan untuk menghadiri peletakan batu pertama berdirinya Kota Pelajar Mahasiswa Darussalam (Kopelma Darussalam) yang dilakukan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 September 1959.

Setelah sekian lama Abu Lam U mendermakan ilmunya kepada masyarakat luas, akhirnya pada tanggal 4 Juni 1967 berpulang ke rahmatullah dalam usia 79 tahun. Semoga amal baiknya diteladani oleh anak bangsa yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam dan mendapat ridha dari Allah SWT.

Sekilas Tentang Karyanya

Abu Lam U merupakan salah seorang tokoh intelektual muslim Aceh abad XX. Ia juga merupakan ulama yang aktif dan produktif. Aktif berarti mau menulis dan hal ini terbukti dengan adanya 3 risalah yang ditinggalkannya, yaitu:

1] Munjiatul Anam (Penyelamat Manusia),

2] Mursyidul Anam (Penuntun Manusia),

3] Sejarah Nabi Muhammad.

Produktif dalam arti bahwa karyanya, terutama Munjiatul Anam, banyak digunakan oleh masyarakat Aceh, terutama di desa-desa di kawasan Aceh Besar, hingga saat ini.

Penutup

Tgk. Abdullah Lam U yang lebih popular merupakan salah seorang ulama Aceh yang telah berupaya maksimal mendidik anak bangsa di Aceh, khususnya di Aceh Besar, agar mengetahui berbagai ajaran agama yang dibawa oleh Rasul.

Cara putra Tgk. Umar ini mengajarkan ilmu agama dengan menggunakan pendekatan syair tampak menjadi strategi yang jitu, khususnya penyampaian bagi masyarakat awam, karena cara tersebut tidak terkesan memaksa dan tidak pula membuat masyarakat jenuh. Dewasa ini cara tersebut semakin “membumi” di Aceh, khususnya dalam kegiatan dala’il khairat seiring dengan implementasi syariat Islam di Nanggroe Aceh Darussalam. Oleh karena itu, Abu Lam U dapat dikategorikan sebagai ulama pendidik melalui syair.

Disunting oleh Sekretaris Pesantren Modern Al-Falah Abu Lam U dari Karya Tulis Imran Muhammad

Syair Perahu Syaikh Hamzah Al Fansuri


Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.

Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba’id.

Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.

Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.

La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.

Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.

Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.

Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.

Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu ‘azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.

Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na’am, siang dan malam.

Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.

Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.

Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.

Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
“yakin akan Allah” nama pawangnya.

“Taharat dan istinja’” nama lantainya,
“kufur dan masiat” air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.

Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
“Allahu Akbar” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.

“Wallahu a’lam” nama rantaunya,
“iradat Allah” nama bandarnya,
“kudrat Allah” nama labuhannya,
“surga jannat an naim nama negerinya.

Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam’ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.

Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.

Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.

Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,
(baris ini tidak terbaca)

Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.

Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?

La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.

La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma’rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.

La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da’im dan ka’im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.

La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.

La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.

La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma’rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.

La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.

La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah.

*[Syeikh Hamzah Fansuri seorang ulama sufi Aceh abad 16. Seorang sufi penganut wihdatul wujud. Ajarannya ditentang Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, mufti Samudra Pasai saat itu dan kitab-kitabnya dibakar..... semoga Allah mengampuninya. Syair Perahu merupakan syair melayu klasik yang mampu melewati kurun 4 abad, masih dicari dan dihafal orang hingga kini. Sutan Takdir Alisyahbana mencantumkan syair ini pada bukunya "Puisi Lama" terbitan Balai Pustaka.]

Mengenang Syaikh Baros Hamzah Al fansuri


Syeikh Hamzah al-Fansuri Sasterawan sufi agung

Syeikh Hamzah al-Fansuri telah banyak dibicarakan orang, namun tidak dapat dinafikan perkara-perkara baru sentiasa ditemui oleh para peneliti. Pada mukadimah ini saya nyatakan bahawa tanpa diketahui siapakah yang pertama mengkhayal rupa tokoh agung sufi Nusantara itu, sehingga ditemui gambar imaginasi beliau.

Gambar Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat dipastikan sebagai gambar imaginasi, kerana pada zaman beliau memang belum ada kamera. Sebenarnya ia berlaku bukan pada Syeikh Hamzah al-Fansuri saja, tetapi juga terjadi pada ulama-ulama lainnya, termasuk Imam al-Ghazali, Syeikh 'Abdul Qadir al-Jilani, Syeikh Nuruddin ar-Raniri, Wali Sembilan dan lain-lain.

Hampir semua pengkaji yang membicarakan tokoh ulama ini pada zaman moden, selalu merujuk kepada karya-karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas. Barangkali dunia memang mengakui bahawa beliaulah orang yang paling banyak memperkenalkan Syeikh Hamzah al-Fansuri ke peringkat antarabangsa. Walau bagaimanapun apabila kita membaca keseluruhan karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas yang membicarakan Syeikh Hamzah al-Fansuri, bukanlah bererti kita tidak perlu mentelaah karya-karya lain lagi, kerana apabila kita mentelaah karya-karya selainnya, terutama sekali yang masih berupa manuskrip, tentu sedikit sebanyak kita akan menemukan perkara-perkara baru yang belum dibicarakan.

Karya terkini tentang Syeikh Hamzah al-Fansuri ialah buku yang diberi judul Tasawuf Yang Tertindas Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri. Buku setebal 444 halaman itu dikarang oleh Dr. Abdul Hadi W.M. dan terbitan pertama oleh Penerbit Paramadina, Jakarta, 2001. Sama ada karya-karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas mahupun karya Dr. Abdul Hadi W.M., sedikit pun tiada menyentuh gambar Syeikh Hamzah al-Fansuri seperti yang tersebut di atas.

Asal-usul dan pendidikan

Prof. A. Hasymi pada penyelidikannya yang lebih awal bertentangan dengan hasil penyelidikannya yang terakhir. Penyelidikan awal, ayah Syeikh Hamzah al-Fansuri nampaknya tidak ada hubungan adik beradik dengan ayah Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri. Penyelidikan terakhir beliau mengatakan bahawa Syeikh Hamzah al-Fansuri itu adalah adik beradik dengan Syeikh Ali al-Fansuri.

Syeikh Ali al-Fansuri adalah ayah kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri. Penyelidikan awal yang saya maksudkan ialah yang ditulis oleh Prof. A. Hasymi dalam Ruba'i Hamzah Fansuri yang dapat diambil pengertian daripada kalimatnya, "Ayah Hamzah pindah dari Fansur (Singkel) ke Barus untuk mengajar, kerana beliau juga seorang ulama besar, seperti halnya ayah Syeikh Abdur Rauf Fansuri yang juga ulama, sama-sama berasal dari Fansur (Singkel)" (terbitan DBP, 1976, hlm. 11).

Mengenai penyelidikan Prof. A. Hasymi yang menyebut Syeikh Hamzah al-Fansuri saudara Syeikh Ali al-Fansuri atau Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri adalah anak saudara kepada Syeikh Hamzah al-Fansuri, dapat dirujuk kepada kata pengantar buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh karya Abdul Hadi W.M. Dan L. K. Ara, diterbitkan oleh Penerbit Lotkala, tanpa menyebut tempat dan tarikh.

Walaupun Prof. A. Hasymi belum memberikan suatu pernyataan tegas bahawa beliau memansukhkan tulisannya yang disebut dalam Ruba'i Hamzah Fansuri, namun kita terpaksa memakai penyelidikan terakhir seperti yang telah dijelaskan di atas. Dr. Azyumardi Azra dalam bukunya, Jaringan Ulama mengatakan bahawa beliau tidak yakin bahawa Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu benar-benar keponakan (anak saudara) Syeikh Hamzah al-Fansuri. "Sebab, menurutnya, tidak ada sumber lain yang mendukung hal itu." Bagi saya ia masih boleh dibicarakan dan perlu penelitian yang lebih sempurna dan berkesinambungan. Sebab yang dinamakan sumber pendukung sesuatu pendapat, bukan hanya berdasarkan tulisan tetapi termasuklah cerita yang mutawatir.

Kemungkinan Prof. A. Hasymi yang berasal dari Aceh itu lebih banyak mendapatkan cerita yang mutawatir berbanding penelitian barat yang banyak disebut oleh Azra. Diterima atau tidak oleh pengkaji selain beliau, terpulanglah ijtihad masing-masing orang yang berkenaan.

Dalam buku Hamzah Fansuri Penyair Aceh, Prof. A. Hasymi menyebut bahawa Syeikh Hamzah Fansuri hidup sampai akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda ternyata juga ada perubahan daripada tulisan beliau yang termaktub dalam Ruba'i Hamzah Fansuri selengkapnya, "Hanya yang sudah pasti, bahawa beliau hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1011 H-1589-1604 M) sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Mahkota Alam (1016-1045 H-1607-1636 M)." Yang dimaksudkan dengan "ternyata juga ada perubahan", ialah pada kalimat, "sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda," menjadi kalimat "akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda."

Tarikh lahir Syeikh Hamzah al-Fansuri secara tepat belum dapat dipastikan, adapun tempat kelahirannya ada yang menyebut Barus atau Fansur. Disebut lebih terperinci oleh Prof. A. Hasymi bahawa Fansur itu satu kampung yang terletak antara Kota Singkel dengan Gosong Telaga (Aceh Selatan). Dalam zaman Kerajaan Aceh Darussalam, kampung Fansur itu terkenal sebagai pusat pendidikan Islam di bahagian Aceh Selatan. Pendapat lain menyebut bahawa beliau dilahirkan di Syahrun Nawi atau Ayuthia di Siam dan berhijrah serta menetap di Barus.

Drs. Abdur Rahman al-Ahmadi dalam kertas kerjanya menyebut bahawa ayah Syeikh Hamzah al-Fansuri bernama Syeikh Ismail Aceh bersama Wan Ismail dan Po Rome atau Po Ibrahim (1637- 1687 M) meninggal dunia dalam pertempuran melawan orang Yuwun (Annam) di Phanrang. Bahawa Syeikh Ismail Aceh itu pernah menjadi gabenor di Kota Sri Banoi menggantikan Gabenor Wan Ismail asal Patani yang melepaskan jabatan itu kerana usianya yang lanjut.

Drs. Abdur Rahman Al-Ahmadi berpendapat baru, dengan menambah Syahrun Nawi itu di Sri Banoi Sri Vini, selain yang telah disebutkan oleh ramai penulis bahawa Syahrun Nawi adalah di Siam atau Aceh. Dalam Patani, iaitu antara perjalanan dari Patani ke Senggora memang terdapat satu kampung yang dinamakan Nawi, berkemungkinan dari kampung itulah yang dimaksudkan seperti yang termaktub dalam syair Syeikh Hamzah al-Fansuri yang menyebut nama Syahrun Nawi itu. Kampung Nawi di Patani itu barangkali nama asalnya memang Syahrun Nawi, lalu telah diubah oleh Siam hingga bernama Nawi saja.

Syahrun Nawi adalah di Patani masih boleh diambil kira, kerana pada zaman dulu Patani dan sekitarnya adalah suatu kawasan yang memang ramai ulamanya. Saya telah sampai ke kampung tersebut (1992), berkali-kali kerana mencari manuskrip lama. Beberapa buah manuskrip memang saya peroleh di kampung itu. Lagi pula antara Aceh dan Patani sejak lama memang ada hubungan yang erat sekali.

Walau bagaimanapun Prof. A. Hasymi menyebut bahawa Syahrun Nawi itu adalah nama dari Aceh sebagai peringatan bagi seorang Pangeran dari Siam yang datang ke Aceh pada masa silam yang bernama Syahir Nuwi, yang membangun Aceh pada zaman sebelum Islam.

Daripada berbagai-bagai sumber disebutkan bahawa Syeikh Hamzah al-Fansuri telah belajar berbagai-bagai ilmu yang memakan masa lama. Selain belajar di Aceh sendiri beliau telah mengembara ke pelbagai tempat, di antaranya ke Banten (Jawa Barat), bahkan sumber yang lain menyebut bahawa beliau pernah mengembara keseluruh tanah Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Arab.

Dikatakan bahawa Syeikh Hamzah al-Fansuri sangat mahir dalam ilmu-ilmu fikah, tasawuf, falsafah, mantiq, ilmu kalam, sejarah, sastera dan lain-lain. Dalam bidang bahasa pula beliau menguasai dengan kemas seluruh sektor ilmu Arabiyah, fasih dalam ucapan bahasa itu, berkebolehan berbahasa Urdu, Parsi, Melayu dan Jawa.

Karya-keryanya

Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat digolongkan kepada peringkat awal dalam menghasilkan karya puisi/sastera dalam bahasa Melayu, sangat menonjol terutama sekali dalam sektor sufi. Lebih terserlah lagi kemasyhurannya kerana terjadi kontroversi yang dilemparkan oleh orang-orang yang tidak sependapat dengannya yang dimulai dengan karya-karya Syeikh Nuruddin ar-Raniri, berlanjutan terus hingga sampai ke hari ini karya-karya Syeikh Hamzah al-Fansuri selalu dibicarakan dalam forum-forum ilmiah.

Di bawah ini saya cuba menyenaraikan karya beliau yang telah diketahui, iaitu:

1). Syarb al- 'Asyiqin atau Zinatul Muwahhidin.

2). Asrar al-'Arifin fi Bayan 'Ilm as-Suluk wa at-Tauhid.

3). Al-Muntahi.

4). Ruba'i Hamzah Fansuri.

5). Kasyf Sirri Tajalli ash-Shibyan.

6). Kitab fi Bayani Ma'rifah.

7). Syair Si Burung Pingai.

8). Syair Si Burung Pungguk.

9). Syair Sidang Faqir.

10). Syair Dagang.

11). Syair Perahu.

12). Syair Ikan Tongkol.

Keterangan lengkap mengenai data karya Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat dirujuk dalam buku yang saya susun berjudul Al-Ma'rifah Pelbagai Aspek Tasawuf Nusantara, jilid 1. Senarai yang tersebut di atas merupakan maklumat yang terlengkap buat sementara dan akan ditambah lagi jika terdapat maklumat baru yang belum termuat dalam senarai di atas.

Mengakhiri artikel ini di sini perlu dijelaskan bahawa makam Syeikh Hamzah al-Fansuri telah ditemui sebagaimana ditulis oleh Dada Meuraxa: "Di satu kampung yang bernama Obor terletak di hulu Sungai Singkil, terdapat makam ulama dan pujangga Hamzah Fansuri. Makam itu bertulis: Inilah makam Hamzah Fansuri mursit Syeikh Abdurrauf = Hamzah Fansuri guru Syeikh Abdur Rauf."

Mengenai tahun wafat Syeikh Hamzah al-Fansuri secara tepat selama ini tidak pernah disebut. Tetapi Azra dalam Jaringan Ulama menyebut bahawa ulama sufi itu wafat pada tahun 1016 H/1607 M. Disebutkan tahunnya itu disekalikannya membantah bahawa Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri (Al-Sinkili, menurut istilahnya) "tidak mungkin bertemu dengan ulama sufi itu", menurutnya "Al-Sinkili bahkan belum lahir".

Seolah-olah Azra menolak mentah-mentah tahun kelahiran Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri yang disebut oleh A. Hasymi tahun 1001 H/1592 M itu, kemungkinan dia berpegang pada tahun kelahiran 1024 H/1615 M, atau pendapat lain 1620 M, sedangkan tahun kewafatan Syeikh Hamzah al-Fansuri yang disebutnya 1016 H/1607 M itu belum juga tentu betul. Wallahu a'lam.

Penutup

Gambar imaginasi Syeikh Hamzah al-Fansuri yang saya sebut pada mukadimah, walau pun saya sendiri lebih mengutamakan sesuatu yang asli, namun terpaksa disiarkan juga. Pada zaman kita selain orang yang suka kepada keaslian, sebaliknya sangat ramai yang suka kepada sesuatu yang bercorak tiruan.

Bunga tiruan lebih mendapat pasaran daripada bunga yang asli. Ramai yang menyanggah ilmu yang bercorak rohani, kerana terpengaruh dengan persekitaran yang bercorak fantasi. Pembangunan fizikal lebih meluas dibicarakan berbanding pembinaan iman dan makrifat.

Rabu, 29 September 2010

Rabithah Syaikh Maulana Daly Asy-Syadzily

"Dengan Bismillah kalam kami bermula
serta Sholawat pada Sayidina Rasulullah..

Bermula kalimat Innallaaha 'alimun khabir
Sesungguhnya Allah Maha Sempurna IlmuNya
Lagi Maha Mengetahui seluruh Rahasia hambaNya..

Telah berwasiat kepada kami
leluhur dan Mursyid kami nan mulia..

Abuya Haji Faiman walid dari Haji Daliman
Maulana Musthafa Iman di Pulau Sembilan
atas sanad wasilah pendahulunya..

Tuk Haji Abdullah Iman Imam Darul Langkat
daripada sanad Maulana Ali Al Jawi..

Daripada wasilah auliya di Mataram Jawi
Kyai Suro Gedhug dalam kauniyah Al Jawi..

Bersambung pada Haji Maulana Ahmad Kamal
yang jauh berhijrah ke negeri seberang..

Sanad berlanjut pada Tok Maulana Abdul Qadir
Ibni Tok Maulana Abdul Karim Asy-Syadzily..

Putera dari Tok Maulana Abdul Jalil bin Ali
adalah musafir yang berkauniyah di negeri Pasai..

Dan Tok Maulana Ali putera Tok Maulana Ahmad
mengikuti takdir hingga ke makam Rasulullah..

Berkelana mengembarai luasnya hikmah Iman..
kesejatian hidup menjadi abdillah di dunia fana..

Sanad bersambung pada Syaikh Maulana Najmuddin
auliya masyhur yang hidup di negeri Islam Pasai..

Daripadanya hikmah dan wasilah berlanjut
hadrat Mawla Syaikhuna Asy-Syadzily Al Jawi..

Para auliya yang berjuang semasa Wali Sanga
mengembara hidupkan paku tauhid di bumi Jawa..

Syaikh Maulana Hasan Nuruddin Asy-Syadzily
berpusara di Alas Rahtawu Gunung Muria..

Syaikh Maulana Mohammad Shalih Al Bantani
berpusara di Gunung Santri negeri Jawi Maghrib..

Sanad berlanjut pada sang walid ulama Malaka
yang bertawajuh dalam kalam hidayah dan inayah..

Syaikh Maulana Malik Abdurrahman Al Malaka
berhijrah hingga wafat di Darul Malik Al Mulk..

Darimana hendak kemana, wahay saudara
janganlah lupa hendak pulang kemana jua..

Berlanjut pada Syaikh Maulana Malik Abdullah
Waliyul Qutubuddin yang uzlah diri di bumi Jawi..

Ialah putra Syaikh Maulana Malik Ahmad Al Jawi
Musyarif yang berkauniyah di negeri Cakra Buana..

Bilamana susah mencari tiada berjumpa
Tiada mencari justru bersua wujud akhirnya..

Syaikh Maulana Abdul Malik bin Ahmad Asy-Syadzily
dari Al Quds berlayar berakhir di ujung Jawi Maghrib..

Dari negeri Jedah menuju Masjidil Aqsa
Syaikh Maulana Ahmad Awwaluddin berkelana..

Adalah putera daripada Saudagar dari Tunisia
Syaikh Maulana Hasan Ali bin Ali Asy-Syadzily..

Yang menyembunyikan ihwal diri dalam sunyi
tiada henti bermasyuk dalam luas lautan tauhid..

Asrar Syaikh Nurruddin ialah tarikat kami bermula
hadrat Syaikh Maulana Abu Hasan Ali Asy-Syadzily..

Putera Abu Abdullah bin Abdul Jabar At-Tunisi
ialah putera daripada Abu Thamiim bin Abu Hurmuz..

Adalah keturunan daripada Abu Qushaiy bin Abu Yusuf
bin Abu Yushaqq bin Abu Wardh bin Abu Batthal..

ialah keturunan daripada Abu Ali bin Abu Ahmad
bin Abu Muhammad bin Abu Issa bin Abu Idhris..

ialah keturunan daripada Abu Umar bin Sayyid Idhris
bin Sayyid Abdullah bin Sayyiduna Hasan Al Mutsanna..

Ialah putera dari Sayyiduna Al Imam Hasan As-Sabti
Ibni Sayyidina Al Imam Ali Al Haidar Amirul Mukminin..

Demikianlah kiranya asrar disampaikan maqam Bani ini
dalam khauf ilallah kiranya iman hidup mati kami..

Betapapun tinggi wasilah nasabiyah
kemuliaan nasab pendahulu kami?

Tidaklah sekali-kali,
kami akan bersandar kepadanya!

Kami akan membangun
sebagaimana leluhur kami membangun..

Dan suka rela dalam berkarya
sebagaimana mereka yang telah berkarya..

bukanlah seorang Al Daly yang sejati
yang berkata lihatlah karya leluhurku!

Sesungguhnya Al Daly yang sejati
Ialah yang berkata inilah aku dan karyaku..

Sebagaimana Rasulullah telah bersabda
dan menjadi sanad tarikat hidup kita..

i'mal li dunyaka ka annaka ta'isyu abadan
wa'mal li akhirati ka annaka tamutu ghadan..

Bekerjalah untuk kepentingan duniamu
Bagaikan engkau akan hidup selamanya..

Dan kerjakanlah kewajiban akheratmu
Bagaikan engkau akan mati esok pagi.

Hasbunallaah cukuplah Allah bagi kami
keyakinan adalah mahkota keimanan..

Wattabi' sabiila man anaaba ilayyaa..
Dan hendaklah engkau mengikuti
jalan orang-orang yang sudah bisa kembali..

Ma'urifa bihi minal khisolil hamidati
wal akhlaqil jamiilati..

Apa yang diketahui pada manusia
tentang budi pekertinya yang terpuji
dan akhlaknya yang baik..

Qul kafa billahi baini wa bainakum syahidan
wa ya'lamu ma fissamawati wal ardhli..

Katakanlah, cukuplah Allah menjadi saksi
antaraku dan antaramu..

Dan Allah Mengetahui apa ada yang di langit
dan apa yang terdapat di bumi..

Hamdallah wa syukrulillah berakhir nazham ini
semoga anak cucuku nanti tiada khilaf salah guna..

Al khairu bi yadika
Wasy-syarru laisa ilaika..

Segala kebaikan itu dalam kekuasaanmu
Dan segala keburukan itu tiadalah patut kembali padamu.."

[Catatan Syaikh Pulau Sembilan, 1976]


Kakeknda tercinta juga Mursyid kami yang mulia, Al Allamah hadratus Syaikhuna Maulana Mohammad Daliman bin Datuk Haji Maulana Mohammad Faiman bin Syaikh Maulana Abdullah Langkat bin Ali Asy-Syadzily Pulau Sembilan, dan Nenek tercinta yang mulia, Hajjah Syarifah Siti Fatimah binti Raden Mas Wiro Semito bin Kyai Joyo Semito bin Pangeran Haji Abdullah As-Smitha Al Jawi, adalah Walid dari Ramanda kami, Abuya Maulana Suryaman Daly. Yang seiring riwayat, bermula sanad silsilah dan wasilah Waliduna Bani Maulana Daly yang berpusat di manzilah Medan, Sumatera Utara, serta di Pulau Sembilan, Langkat, Aceh, Palembang dan Jawa, serta beberapa zuriyatnya berada di negeri Semenanjung Malaysia.

Ketika dalam proses suluk, atau menelusuri jejak sejarah atau wasilah sanad silsilah para leluhur Bani Maulana Daly di Medan, saya sempat mendapat kesulitan berkisar adanya adab taqlid membicarakan perihal sanad silsilah awal Bani Maulana Daly? Mengapa demikian?, begitulah pertanyaan saya yang terus menjadi gundukan rasa penasaran akal dan dendam kerinduan bathin yang terus bergelora. Mungkin, kerinduan jiwa yang bersemayam dalam aliran DNA darah inilah yang ingin melepas kerinduannya, darimana orang tua kami yang telah pergi merantau ke tanah Jawi ini berasal? Dan bersalal dari rumpun keturunan siapakah pula? Itu saja, bukan karena maksud lainnya. Demikian alasan saya sampaikan kepada beberapa Datuk.

Pesan para Datuk di Medan, adalah agar kiranya kemuliaan sanad silsilah tidak membutakan mata keimanan kita kepada Allahu Jalla Jalalluh, tidak menjadikan takabur diri, dan generasi muda jatuh sesat oleh karena memberhalakan leluhur dikarenakan sejarah ataupun kejayaan masa lampaunya, sehingga mudah jatuh dalam lembah bid'ah, ataupun fitnah. Oleh sebab itu, terdapat hujjah keluarga yang mentaqlid tentang hal silsilah tersebut, oleh karena yang Allahu Jalla Jalalluh pandang daripada hambaNya bukanlah tingginya derajat sanad silsilah melainkan takwanya.

Ada satu doa Ramanda yang saya suka, meski Beliau tidak pernah menceritakan darimana sanadnya?, namun sudah tentu bersanad pada doa-doa harian yang di amalkan oleh Kakeknda, sebagaimana berikut :

"Allahumma shalli 'ala Muhammadin wa 'ala aalihi wa ash-haabihi, wa aulaadihii, wa azwaajihii, wa dzurriyyatihii, wa ahli baitihii, wa ash-haarihii, wa asy-syaa'ihii, wa muhibbiihi, wa ummatihii, wa 'alainaa ma'ahum ajma'iin, Ya Arhamar raahimiin.."

Ya Allah. mohon diberikan tambahan rahmatMu bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasalam, beserta para sahabatnya, anak-anaknya, isteri-isterinya, keturunannya, ahli keluarganya, semua besannya, semua menantunya, semua saudara iparnya, semua pembelanya, para pencintanya, serta sekalian umatnya.. Kiranya itu semua kembali kepada kami termasuk golongan mereka semua, wahay Tuhan Yang Maha Pengasih dari sekalian yang pengasih..

Dalam diri saya terdapat pergumulan dua arus budaya. Yakni, budaya Melayu Ramanda dan budaya Jawi Ibunda, sehingga di masa remaja saya mengalami distorsi jati diri karena kedua orang tua saya tinggal di kota Jogjakarta. Jelas, kultur budaya Jawa berbeda dengan Melayu, sehingga bathin saya terpanggil untuk menelusuri sejarah orang tua tercinta.

"Haadzaa min fadhli Rabbii..", ini semua adalah karena Anugerah dari Tuhanku.. "demikianlah jawaban singkat dari Abuya Syaikhuna Maulana Mohammad Daliman jika menjawab pertanyaan dari para tamu, ataukah jama'ah yang beri'tibarah fikir bersama Beliau semasa hayatnya di Manzilah Mandala Medan, Sumatera Utara.

Pesan dari Abuya Syaikh Mandala, ".. Min Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu man qala : "Innaa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam qala, "Khairunnaasi anfa'uhum linnaas..". Bahwa di dalam Kitab Riadhus Shalihin Jilid II yang disusun oleh Tuan Haji Salim Bahreisy, diriwayatkan bahwa dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfa'at kepada manusia lainnya..".

Hingga akhirnya, Alhamdulillah, saya memperolehnya juga meskipun harus melalui berbagai macam ujian dan rintangan, namun tiada mengapa. dan sekali lagi, saya memohonkan ampunan maaf dari seluruh Sesepuh dan para Datuk yang mulia di Sumatera, sekiranya saya mengikhti'rafkan kerinduan bathin dan resah jiwa dalam aliran darah saya kepada para Leluhur di Medan atau Pulau Sembilan. Semakin misteri semakin penasaran hati saya untuk mencari tahu ada apakah gerangan didalamnya?

Kakeknda Abuya Syaikh Maulana Mohammad Daliman lahir pada tahun Dal, atau tanggal 6 Juni 1906 di kota Medan, Sumatera Utara. Dan Beliau wafat pada hari Sabtu, tanggal 2 September 1989 pada pukul 17.55 WIB. di kediaman Beliau, Jl. Tanggok Bongkar Perum. Mandala Medan, Sumatera Utara. Dan setiap jatuh penanggalan hari mangkat Beliau di adakan pula peringatan Haul Abuya oleh kerabat keluarga, baik yang berada di sumatera maupun yang berada di Jogja.

Kemudian, Neneknda Hajjah Syarifah Siti Fatimah lahir di Kota Medan pada tanggal 31 Desember 1909 dan wafat pada hari Rabu tanggal 12 Mei 2004 pada pukul 17.00 WIB. di kediaman Beliau, Jl. Tanggok Bongkar Perum. Mandala Medan, Sumatera Utara.

Di kisahkan secara singkat oleh Ramanda, bahwa Kakenda semasa hidupnya sering berpindah-pindah tempat tinggal oleh karena mengikuti penugasan Beliau sebagai seorang Syahbandar Pelabuhan. Beliau pernah bertugas sebagai Syahbandar di Pelabuhan Pangkalan Berandan, Pelabuhan Pangkalan Susu di kota Langkat, dan terakhir hingga pensiunnya bertugas sebagai Syahbandar di Pelabuhan Belawan yang berada di Sumatera Utara. Jabatan yang tentu saja teramat menyibakkan Beliau, selain menyempatkan waktu untuk mengajarkan ilmu keagamaan dengan metode halaqah di kediaman Beliau, atau menjadi salah satu Imam besar di Pulau Sembilan yang berada di daerah Langkat.

Adapun dari pernikahan Abuya Syaikh Maulana Mohammad Daliman dengan Neneknda Ummu Hajjah Siti Fatimah, terlahir 10 anak. Bahkan, Neneknda Ummu Hajjah Siti Fatimah mempunyai seorang anak angkat yang sangat dikasihi Beliau sebagaimana putra-putrinya yang lain. Berikut nama-nama anak-anak dari Kakek dan Nenek Mandala Medan, demikian kami menyebutnya, antara lain :

1] Alm. Haji Maulana Mohammad Misnan Kresna Daly di Medan

2] Alm. Maulana Mohammad Saylan Daly di Medan

3] Haji Maulana Mohammad Radian Daly di Jakarta

4] Almh. Syarifah Siti Masdalena Daly di Medan

5] Alm. Maulana Sabaruddin Surya Dharma Daly di Medan

6] Syarifah Siti Maryam Daly di Medan

7] Almh. Hj. Syarifah Siti Mariany Daly di Tangerang

8] Almh. Syarifah Siti Suriaty Daly di Medan

9] Maulana Mohammad Suryaman Daly di Jogjakarta

10] H. Maulana Mohammad Syamsuardi Daly di Bekasi

Dan putra angkat Neneknda Ummu Hajjah Syarifah Siti Fatimah, yakni :

11] Drs. H. Chairy Wahyudi di Medan

Menurut riwayatnya, bahwa ada leluhur dari kedua orang-tua Kakeknda maupun Neneknda Medan dikisahkan bahwa sebelumnya merupakan perantauan dari tanah Jawa, ketika terjadi perang besar di tanah Jawa. Dan berdasarkan Babad Tanah Jawi, Babad Demak Pesisiran, Babad Wali Sanga, Babad Geger Bedahing Mataram, hingga Babad Diponegoro, dapat menjadi acuan historiografi penelurusan kesejarahannya, atau paling tidak menentukan pada masa pemerintahan Dinasti siapakah para leluhur kita tersebut menjalani kehidupannya?

Terlebih, sangat beruntung bagi kita jika para leluhur juga mempunyai catatan manakib perjalanan hidupnya atau para pendahulunya, manuskrip sejarah tersebut jelas menjadi harta karun bagi tersusunnya penelusuran sejarah hidup para pendahulu kita, atau sekilas potret dokumentasi kehidupannya di masa lalu? Atau, karya-karyanya, baik yang tertulis maupun karya seni lainnya untuk mengagumi kekayaan wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman bathinnya sesuai dengan latar belakang masa kehidupannya. Atau, paling tidak tinggalan catatan tentang sanad silsilah keluarga, sebagai sarana menelusuri jejak sejarah dan menemukan saudara satu Klan yang mungkin masih banyak yang tercerai-berai karena kondisi zaman itu?

Syahdan, orang-tua Kakeknda Syaikh Mandala Medan disebutkan berasal dari tlatah Mataram, atau daerah yang bernama kampung Soro Gedhug di daerah Prambanan, kota Jogjakarta sekarang. Namun, setelah mengadakan penelusuran rendezvous ke daerah tersebut, ternyata tidak membuahkan hasil pencarian yang memuaskan. Baik berupa situs petilasankah, ahli waris keluargakah, atau nama-nama ahlul kubur di daerah tersebut juga belum saya peroleh data informasinya dengan maksimal. Meski demikian, tidak menyurutkan semangat napak tilas saya ke daerah Soro Gedhug, Prambanan. Atau paling tidak, menemukan tokoh yang pernah disebut sebagai Kyai Demang Soro Gedhug ing Mataram itu? Atau, Ayah dari kakek buyut saya dari jalur sanad silsilah Ramanda saya di Wates, Kulon Progo, Jogja.

Kemudian, bahwa orang-tua Neneknda Syarifah Mandala Medan juga disebutkan berasal dari tlatah Surakarta, atau wilayah Solo kini. Hal tersebut, terbukti dengan perjalanan Neneknda berziarah ke Makam Kerabat Raja Kartasura di kota Solo. Juga, disebutkan jika Neneknda juga punya leluhur di Kasepuhan Cirebon dan Kasepuhan Banten, bahkan Beliau juga pernah berziarah pula kesana. Mungkin, di bandingkan dengan Kakeknda?, Neneknda kami justru lebih sering berkisah tentang sekilas kisah riwayat para leluhur beliau yang ada di tanah Jawa.

Namun sayangnya, ialah tidak satu pun sanad riwayat yang pernah dikisahkan Beliau semasa hidupnya di catat oleh anak keturunannya? Dan yang saya alami, saya pun agak kesulitan untuk menelusuri atau sekedar mencatat perjalanan sejarah Beliau dan leluhur Beliau untuk sekedar dokumentasi sejarah keluarga. Kalau boleh saya bertanya pada Pembaca terkasih?, "Siapa yang tidak merasa rindu kepada para leluhur kedua orang-tuanya?". Terlebih, setelah banyak para sesepuh yang berpulang ke Rahmatullah?, hendak kemana lagi kita akan bertanya ihwal sejarah asal usul leluhur keluarga kita? Generasi muda kini tentulah tidak semuanya peduli hal ini, kan?

Kita kembali lagi, bahwa pada masa perang besar di tanah Jawa, banyak terjadi urbanisasi ke tanah seberang atau Sumatera, maka banyak terjadi proses asimilasi kultur budaya Jawa dan Melayu di pesisiran Sumatera Utara. Sehingga, akhirnya banyak pula orang Melayu di Sumatera Utara yang disebut juga dengan "Orang Jadel atau Jawa Deli", oleh sebab dari kawin campur di masa penjajahan. Jika masyarakat Melayu asli disebut sebagai "Orang Maya-Maya", atau orang Melayu Pesisiran. Hal tersebut mungkin karena banyak orang Melayu yang berprofesi sebagai saudagar atau pelaut ulung. Maka biasanya, orang Melayu bermukim di daerah pesisiran.

Dan hal yang sudah menjadi kebiasaannya adalah berfam nama leluhurnya, misalnya gelar "Datuk", "Maulana", "Syah", "Musyarif", atau "Masyaikh" oleh karena tokoh pendahulu pernah mengabdikan diri pada Kerajaan Islam Melayu dahulu semasa hidupnya. Sementara fam keluarga Melayu lainnya, misalnya : Maulana Syah, Maulana Al Akbar, Maulana Al Malik, Maulana Al Daly, Maulana Ar-Rasyid dan sebagainya. Atau, gelar berdasarkan tempat tinggalnya, misalnya : Datuk atau Tok Pasai, Tok As-Singkili, Tok Langkat, Tok Pulau Sembilan dan sebagainya.

Ada juga orang Jawa yang berada di Sumatera karena dibawa oleh pemerintah kolonialis Hindia Belanda guna menjadi buruh-buruh perkebunan atau pabrik milik Meenir-Meenir Belanda, sehingga akhirnya sering juga disebut "Jakon atau Jawa Kontrak.

Pada masa penjajahan pemerintahan VOC Kolonial Hindia Belanda, banyak para alim ulama atau bangsawan yang berseberangan dengan politik kolonialis mengalami penderitaan pedih, akibat mereka diburu prajurit kompeni, atau diburu prajurit kerajaan yang bersekutu dengan VOC dengan dalih tuduhan bahwa mereka di golongkan sebagai kaum pemberontak. Bahwa para alim ulama dan para bangsawan yang mengabdikan hidupnya pada jalan keagamaan dianggap ancaman bagi petinggi pemerintahan kolonialis VOC di tanah Jawa.

Dalam kasus tersebut, agaknya beberapa leluhur Kakeknda dan Neneknda mengalaminya pula. Sehingga, dalam pelarian atau perantauannya, banyak nama-nama yang diganti sebagaimana nama pribumi lokal [nama-nama orang Jawa umumnya] agar tidak menimbulkan kecurigaan mata-mata kompeni, atau penguasa yang bersekutu dengannya.

Sehingga, nama-nama asli atau nama kecil para leluhur menjadi terselubung oleh nama-nama sapaan Beliau semua. Hal ini, menjadi terasa agak sulit untuk menelusuri jejak kesejarahan, karena rentan menimbulkan banyak sebutan, juga tafsir didalamnya? Misalnya, Daliman adalah panggilan harian untuk Abdal Iman? Atau, Paiman adalah panggilan harian untuk Musthafa Iman? Namun, setelah melalui proses suluk mudzakarah dan rabithah akhirnya terjawab juga..


[bersambung, dzhuhur dululaah..]





Selasa, 14 September 2010

Menelusur Babad Wongsopati di Klero Prambanan



I. TRAH

1. Trah Raden Patah Sultan Demak Bintoro-I
2. Trah Pati Unus Sabrang Lor-I ing Pulau Besar Selangor Malaysia
3. Trah Pangeran Haryo Pamungkas Sabrang Lor-II ing Demak Bintoro
4. Trah Panembahan Tejo Kusumo ing Jogorogo
5. Trah Ki Ageng Karang Lo ing Taji
6. Trah Adipati Tohpati ing Tulung
7. Trah Panembahan Wongsopati ing Klero
8. Trah Tumenggung Reksopati ing Klero
9. Trah Tumenggung Suto Menggolo ing Klero
10. Trah Mpu Klero-I Kyai Suto Wirono
11. Trah Mpu Klero-II Kyai Bongso Wirono
12. Trah Mpu Klero-III Kyai Joyo Wirono
13. Trah Raden Mas Rono Redjo ing Klero
14. Trah Mpu Klero-IV Kyai Karto Dreya Kentheng
15. Trah Mpu Klero-V Kyai Karto Sentono
16. Trah KRT. Hasan Midaryo Kalasan [RM. Bagus Saniyo]


Bila dirunut dari sanad silsilahnya, Trah Panembahan Wongsopati bermula dari darah Raden Patah atau Sultan Demak Bintoro-I dan melalui putrinya, Ratu Pembayun maka trah darah berlanjut ke jalur trah menantu Sultan Demak Bintoro-I yang kemudian menjadi Sultan Demak Bintoro-II, yakni Pati Unus Sabrang Lor-I. Dalam versi silsilah ini memang terdapat beberapa versi sanad silsilah berkaitan dengan Pangeran Sabrang Lor?

Bahwa, dalam Babad Tanah Jawi, disebutkan jika Pangeran Sabrang Lor merupakan putra Raden Patah atau Sultan Demak Bintoro-I, sedangkan dalam versi Babad Demak dan Babad Wali Songso justru disebutkan jika Pangeran Adipati Sabrang Lor-I atau Raden Maulana Abdul Qadir Al Idrus bin Adipati Jepara Maulana Muhammad Yunus Al Idrus Bin Syaikh Maulana Abdul Khaliqul Al Idrus dari Persia adalah suami dari Ratu Pembayun putri sulung Raden Patah.

Sedangkan, Pangeran Haryo Sasongko putra kedua Sultan Demak Bintoro-I bergelar Pangeran Sabrang Kulon, yang masa kehidupannya lebih banyak berhubungan diplomatis dengan kerajaan Islam di Jawa Barat pada masa itu yang dimaksud adalah Kasultanan Cirebon dan Kasultanan Banten, sehingga di beri gelar Adipati Sabrang Kulon .

Dari trah darah Pati Unus Pangeran Sabrang Lor-I atau Sultan Demak Bintoro-II selanjutnya kedudukan putra sulung Pangeran Sabrang Lor-I, yakni Pangeran Maulana Abdullah Haryo Pamungkas yang nantinya bergelar Pangeran sabrang Lor-II karena gugur dalam ekspedisi serangan Demak pada Portuguis ke Pulau Besar Malaka, maka trah darah Sultan berubah menjadi trah darah kusuman atau trah pangeran.

Selanjutnya, dari trah darah Pangeran Sabrang Lor-II Maulana Abdullah Al Idrus atau Pangeran Haryo Pamungkas berlanjut ke trah darah salah satu putranya yang bernama Pangeran Tejo Kusumo yang rupanya lebih mencintai jalan keagamaan dibandingkan derajat kerajaan Demak, sehingga Pangeran Tejo Kusumo berguru ke Ponorogo dan bergelar sebagai Panembahan Jogorogo-I. Maka, trah darah kusuman berubah menjadi trah darah panembahan atau istilah Jawa untuk menghormati tokoh keagamaan atau kebathinan Jawa.

Kemudian dari putra tertua Pangeran Tejo Kusumo atau Panembahan Jogorogo yang bernama Raden Haryo Wongso atau dikenal sebagai Ki Ageng Ampuhan dari Wod Waru [sekitar Prambanan] karena ilmu kesaktiannya, maka trah darah panembahan berubah menjadi trah darah ki agengan.

Dan berlanjut pada putra sulung Ki Ageng Ampuhan yang bernama Raden Wiro Wongso atau dikenal sebagai Ki Ageng karang Lo dari Tadji Prambanan.

Selanjutnya, dari putra ke-4 Ki Ageng Ampuhan yang bernama Raden Wongso Joyo yang mengabdikan diri ke Kasultanan Mataram hingga dilantik menjadi seorang Adipati di daerah Tulung bergelar Kanjeng Hadipati Tohpati ing Tulung. Hidup pada masa Babad Sengkolo ing Mataram ketika terjadinya geger perang Pangeran Truno Joyo dengan dukungan Laskar Madura melakukan makar di Kraton Mataram.

Paska Perang Truno Joyo, salah seorang putra Raden Wongso Joyo atau Hadipati Tohpati ing Tulung yang bernama raden Wongso Pati bersama beberapa anggota kerabat keluarga Tulung mengungsi ke daerah Wukir Sewu [Pegunungan Sewu di Prambanan] dan berganti jati diri atau Kelire Loro [Identitas Ganda, penyamaran dari putra Adipati menjadi petani] yang hingga kini kemudian dikenal sebagai tlatah Klero?.

Raden Wongsopati mengabdikan diri pada jalan keagaman dan kebathinan sehingga kemudian dikenal oleh masyarakat Prambanan dan Bayat sebagai Panembahan Wongsopati ing Wukir Kenaran, atau "Taken Aran" [mempertanyakan nama]. Adapun Wukir Kenaran dapat diperkirakan sebagai salah satu petilasan ketika Kanjeng Sunan Kali Jogo mengajarkan Ilmu Makrifat kepada Kanjeng Adipati Semarang, atau Pangeran Made Pandan yang bergelar Kanjeng Sunan Pandan Aran, atau Sunan Bayat.

Pada masanya, Panembahan Wongsopati menjadi salah satu pelindung keturunan Kanjeng Sunan Pandan Aran di Bayat, Klaten. hal tersebut merupakan amanat agung dari Kanjeng Sunan Kali Jogo di Kali Gajah Wong dekat Prambanan kepada Ki Ageng Karang Lo [Eyang Buyut Panembahan Wongsopati], Ki Gede Pemanahan, Ki Juru Mertani, Panembahan Senopati, dan Raden Kenthol Kuning atau salah satu cucu Sunan Bayat-I.

Panembahan Wongsopati wafat pada tahun 1680 dan dipusaraan di Sasanala Wongsopati Klero, Desa Sumber Harjo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman , Jogjakarta.

Maka demikianlah sekilas kisah sang Cikal Bakal atau Pepundhen Klero yang bergelar Kanjeng Panembahan Wongsopati.

Selanjutnya, Trah Panembahan Wongsopati diteruskan melalui trah darah putranya yang bernama Raden Sopati atau Tumenggung Reksopati yang mengabdikan diri ke Kraton Mataram, dan diangkat sebagai Tumenggung Telik sandhi Mataram hingga wafatnya pada tahun 1709, dipusarakan di Sasanalaya Panembahan Wongsopati yang berada di Klero.

Trah darah Tumenggung Reksopati selanjutnya digantikan oleh trah darah putranya yang bernama Raden Suto Menggolo, yang juga meneruskan jejak Ayahandanya mengabdikan diri pada Kraton Mataram hingga berkedudukan sebagai Tumenggung Prajurit Sandhi Yudha Mataram. Tumenggung Suto Menggolo wafat pada tahun 1740 dan dipusarakan di Sasanalaya Panembahan Wongsopati Klero.

Generasi Trah darah Panembahan Wongsopati yang muncul selanjutnya adalah trah darah para Mpu atau Ki Ageng, antara lain :

1. Trah Mpu Klero-I Kyai Suto Wirono [wafat 1775]

2. Trah Mpu Klero-II Kyai Bongso Wirono [wafat 1805]

3. Trah Mpu Klero-III Kyai Joyo Wirono [wafat 1840]

4. Trah Mpu Klero-IV Raden Rono Redjo ing Klero [wafat 1885]

5. Trah Mpu Klero-V Kyai Karto Dreyan Kentheng [wafat 1943]

6. Trah Mpu Klero-VI Kyai Karto Sentono [wafat akhir 1950-an]

7. Trah KRT. Hasan Midaryo Kalasan [RM. Bagus Saniyo, 1921-2004]

Dari Trah Raden Mas Rono Redjo di Klero, kemudian pada generasi selanjutnya berkedudukan di dua tempat, yakni di Klero dan di Kentheng. Jika di renung sekilas, maka kedudukan Brayat Trah Wongsopaten Klero sebagai Kasepuhan dan Brayat Trah Wongsopaten Kentheng sebagai Kanomannya.

Dan seterusnya, berlanjut hingga pada generasi Trah Kyai Kartodreyan yang berkedudukan di Dusun Kentheng, Kenaran, Desa Sumber Harjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Jogjakarta.


II. BABAD

1. Babad Tanah Jawi
2. Babad Demak Pasisiran
3. Babad Wali Songo
4. Babad Pajang
5. Babad Mataram
6. Babad Panembahan Wongsopati
7. Babad Kyai Mpu Kenaran
8. Babad Kyai Mpu Karto Dreyan
8. Babad Kyai Hasan Midaryo Kalasan


III. PETILASAN

1. Petilasan Kanjeng Sunan Kali Jogo di Pegunungan Sewu Prambanan
2. Petilasan Pertapan Ki Juru Martani di Pegunungan Sewu
3. Petilasan Pertapan Kanjeng Kanjeng Panembahan Wongsopati di tlatah Wukir Kenaran
4. Petilasan Pertapan Kyai Tumenggung Reksopati di Pegunungan Kenaran
5. Petilasan Kyai Modjo II di Pegunungan Kenaran
6. Petilasan Dhampar Kanjeng Pangeran Tejo Kusumo di Sasanalaya Wetan Kentheng Kenaran
7. Petilasan Pertapan Kyai Mpu Karto Dreyan di Wetan Kentheng Kenaran
8. Petilasan Pertapan Kyai Kalasan di Sasanalaya Wetan Kentheng Kenaran


IV. SASANALAYA WONGSOPATI

1. Makam Cikal Bakal Trah Panembahan Wongsopati
2. Makam Trah Kyai Tumenggung Reksopati
3. Makam Trah Kyai Mpu Klero
4. Makam Trah Kyai Mpu Karto Dreyan
5. Makam Trah Kyai Mpu Karto Sentono
6. Makam Trah Kyai KRT. Hasan Midaryo Kalasan


V. WARISAN TRADISI TRAH WONGSOPATEN

1. Ajaran Filsafat Hidup Kejawen
2. Ilmu Patrap
3. Ilmu Tosan Aji
4. Ilmu Pencak Silat
5. Tradisi Syawalan Trah Brayat Ageng Kartodreyan

Mohon maaf atas segala kekurangan, serta mohon dukungan informasi yang berkaitan dengan Babad Klero dan Babad Kentheng. Matur sembah nuwun sanget.

Batawi Kidul, 15 September 2010


Ismu Daly

Syawalan Bani Suryaman Daly di Wates


taqoballaahu minna wa minkum
wa taqoballaahu ya karim
minal aidin wal fa aidin

Indahnya berlebaran bersama keluarga..

Setelah seluruh keluarga besar Bani Abuya Maulana Suryaman Daly melaksanakan Sholat Idul Mubarok di Alun-Alun Wates, kemudian mengikuti acara Syawalan bersama warga masyarakat RT. 74/RW. 34 Dipan Wates yang bertempat di Ndalem Pendopo Ageng Gedung Kesenian Wates, selanjutnya seluruh keluarga melaksanakan acara Atur Sembah Sungkeman halal bi halal keluarga di Ndalem Kakek Wates.

Sebagaimana sudah menjadi tradisi keluarga Bani Abuya Maulana Suryaman Daly, maka acara Atur Sembah Sungkeman Syawalan dibuka dengan adi cara pembukaan oleh anak tertua [pambarep], yakni Pak Wo' Ismu Daly.

Pelaksanaan adi cara pembukaan acara Atur Sembah Sungkeman dengan sambutan serta penyampaian hikmah Ramadhan, hikmah keberkahan bulan Syawal serta hikmah tabarukan birrul walaidain atau adab sungkeman dan permohonan maaf lahir wal bathin seluruh anak, menantu, dan cucu kepada sesepuh keluarga, yakni Kakeknda Abuya Maulana Suryaman Bin Syaikhuna Maulana Dal Iman dan Neneknda RA. Istiningsih Binti KRT. Ahmad Hasan Midaryo [Kakek-Nenek Wates] Tercinta.

Serta menghaturkan permohonan nasehat dan doa restu dari sesepuh agar seluruh keluarga besar mendapatkan keberkahan Ridho Gusti Allah Azza Wa Jalla, Syafaat Kanjeng Rasulullah Sayyidina Maulana Musthafa Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasalam, menjadi keluarga besar Mukmin Sejati yang berakhlaq Al Qur'an, kuat Iman, cinta amal ibadah, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah, wa barakah, guyub rukun dan diberi limpahan murah rizqi serta keselamatan hidup, baik lahir bathin di dunia hingga akherat kelak dalam kemuliaan iman , ihsan dan Islam. Allahumma amiin Insya Allah..

Pembacaan doa mukadimah syawalan dan muhasabah halal bi halal, sebelumnya dimulai dengan bertawasul kepada Kanjeng Rasulullah, para leluhur di Jawa maupun di Sumatera.. Antara lain, menyampaikan salam takzhim serta doa rabithah bathin kami kepada :

1] Kedua orang tua Ramanda dan kakeknda kami tercinta, yakni :

1.1. Almarhum Abuya Syaikhuna Maulana Mohammad Daliman bin Datuk Haji Maulana Mohammad Faiman bin Datuk Haji Maulana Mohammad Abdullah bin Syaikh Maulana Mohammad Ali Asy-Syadzily di Pulau Sembilan, Sumatera Utara, yang dipusarakan di Gubah Maqam Mandala Medan, Sumatera Utara.

1.2. Almarhummah Ummi Siti Fatimah binti Raden Mas Wiro Semito bin Kyai Joyo Semito bin Pangeran Haji Abdullah As-Smitha Al Jawi, yang dipusarakan di Gubah Maqam Mandala, Medan, Sumatera Utara.

2] Kedua orang tua Ibunda dan Neneknda kami tercinta, yakni :

2.1. Almarhum Kanjeng Eyang KRT. Hasan Midaryo bin Kyai Ageng Karto Sentono bin Kyai ageng Karto Driya bin Raden Mas Wirono Rejo bin Kyai Ageng Wongsopati, yang telah dipusarakan di Sasanalaya Panembahan Wongsopati di Klero, Prambanan, Jogjakarta.

2.2. Almarhummah Nyai Siti Dariyah binti Kyai Sumo Marto bin Kyai Sumo Wicitro bin Kyai Demang Sumo Negoro bin Kyai Ageng Somongari, yang telah dipusarakan di Sasanalaya Panembahan Wongsopati di Klero, Prambanan, Jogjakarta.

3] Kakanda kami yang telah berpulang ke Hadratullah, yakni :

Almarhum Ismu Maulana Aji Daly, yang telah wafat sekitar tahun tujuh puluh enaman dan kemudian dipusarakan di Pasareyan Kyai Ageng Sastro di pinggir Kali Serang Pengasih, Kulon Progo, Jogjakarta.

Dan mengucapkan iqrar kalimatul haqq syahadatain oleh seluruh keluarga besar.

Pembacaan Adab Sholawat kepada Kanjeng Nabiyuna Maulana Musthafa Sayidina Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam mengiringi pembukaan acara Atur Sembah Sungkeman dari seluruh anak, menantu dan cucu kepada Sesepuh keluarga, yakni Kakeknda Tercinta Abuya Maulana Suryaman Daly dan Neneknda Tercinta RA. Istiningsih.

Kakeknda Tercinta, Abuya Maulana Suryaman Daly dengan penuh rasa haru dan rasa syukur ke Hadratullah Robbul Maghfirah menyampaikan sepatah kata nasehat kepada seluruh anggota keluarga, serta harapan beliau bagi segenap keluarga, dan doa Beliau untuk seluruh keluarga besar agar menjadi keluarga besar yang di Ridhoi Gusti Allah Azza Wa Jalla menjadi satu bahtera Mukmin Sejati, Sholihin was sholihat, dan Keluarga Muslim yang berakhlaq mulia sebagaimana tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam kepada ummatnya.

Pak Wo' Ismu Daly mengawali acara Atur Sembah Sungkeman kepada Sesepuh, dengan menghaturkan salam sungkem takzhim, sembah sujud di kaki kedua orang tua dan menyampaikan permohonan maaf lahir wal bathin kehadapan Kanjeng Ramanda Tercinta, Abuya Maulana Suryaman Daly..

Bude Risda Hasan binti Ncik Hasan Musa, istri Pak Wo' Ismu Daly menghaturkan salam sungkem takzhim dan permohonan maaf lahir wal bathin selaku anak menantu kepada Ayah Mertua, Abuya Maulana Suryaman Daly..

Pak Wo' Ismu Daly mengaturkan salam sungkem takzhim dan sembah sujud permohonan maaf lahir wal bathin kepada Mamanda Tercinta, yakni Neneknda RA. Istiningsih..

Neneknda tercinta, RA. Istiningsih menerima salam sungkem takzhim dan sembah sujud permohonan maaf lahir wal bathin dari putra pambarep, yakni Pak Wo' Ismu Daly.. Dan Beliau juga memberikan nasehat-nasehat mulia serta doa restu pada keluarga baru Pak Wo' yang baru berumur setengah tahun.. hehehe..

Pak Wo' Ismu Daly menerima arahan nasehat dan doa dari Mamanda Tercinta, RA. Istiningsih..

Kanjeng Neneknda Tercinta, RA. Istiningsih sedang menerima salam takzhim dan sembah sujud dan permohonan maaf lahir wal bathin dari putri tercinta, yakni Mama Melina Daly [Anak Kedua] .. setelah sebelumnya, menghaturkan salam takzhim sembah sungkem dan permohonan maaf kepada Kanjeng Ramanda Tercinta, Abuya Maulana Suryaman Daly..

Kakeknda Tercinta, Abuya Maulana Suryaman Daly menerima salam takzhim sembah sungkem dan permohonan maaf dari menantu yang paling metal, yakni RM. Retno Hastoro suami dari Mama Eny Daly..

Kanjeng Neneknda Tercinta menerima salam takzhim sembah sungkem dan permohonan maaf lahir wal bathin dari putri tercinta, yakni Mama Melina Daly [Anak Kedua]..

Om RM. Retno Hastoro suami Mama Eny Daly menghaturkan sembah sungkem dan permohonan maaf lahir bathin kepada Ibu Mertua..

Kanjeng Neneknda RA. Istiningsih Tercinta menerima salam takzhim sembah sungkem dan permohonan maaf lahir bathin dari menantu, yakni RM. Retno Hastoro yang selanjutnya di ikuti oleh Mama Eny Daly..

Kanjeng Ramanda Tercinta, Abuya Maulana Suryaman Daly menerima salam takzhim sungkem dan permohonan maaf lahir bathin dari putri tercinta, yakni Mama Eny Daly [Anak Ketiga]..

Pak Wo' Ismu Daly saling bermaaf-maafan dengan Adinda Tercinta, Mama Melina Daly..

Kakek dan Nenek Wates menerima salam takzhim sembah sungkem dari seluruh anak, menantu dan cucu-cucu secara berurutan dari putra tertua sampai putra bungsu.. dengan suasana yang penuh haru dan khidmat..

Kedua Orang Tua adalah sumber kekuatan hidup dan pusaka perjalanan amal kehidupan di muka bumi ini..

Om Adhytia Daly [Anak Ke-Empat] sedang menghaturkan salam takzhim sembah sungkem dan permohonan maaf kepada Kanjeng Ramanda Tercinta, Abuya Maulana Suryaman Daly..

Om RM. Retno Hastoro, suami Mama Eny Daly sedang menjadi juru rekam..

Mama Eny Daly menghaturkan sembah sungkem dan memohon maaf kepada Kanjeng Mamanda Tercinta..

Dan tampak pula Mama Melina daly saling bermaaf-maafan dengan Pak Wo' Ismu Daly..

Wuih wuiih ampawnya de' Echi buaaaaaaaanyak bangeet.. hehehe mau di tabung buat beli Laptop buat de' Echi belajar..

[cucu Kakek Nenek Wates yang rajin menabung dan banyak piala juara melukisnya, kami sayaaaaang dan banggaa pada de' Echi.. rajin belajar ya.. jangan suka cengeng..?]

Kalo ada Mama Eny Daly.. suasana kebersamaan keluarga pasti seru..!!
Kami semua sayaaaaaaaang banget sama Ibu Guru.. hehe..

Om Adhytia Daly saling bermaaf-maafan dengan Kang Mas Tercinta, Pak Wo' Ismu Daly..

Om Indra Daly menghaturkan sembah sungkem dan memohon maaf kepada Kanjeng Mamanda Tercinta.. setelah sebelumnya bersujud dan menghaturkan permohonan maaf lahir wal bathin kepada Kanjeng Ramanda Tercinta..

Mama Eny Daly saling bermaaf-maafan dengan Kakanda Tercinta, Mama Melina Daly..
Inilah wanita-wanita tangguh berhati mulia dari negeri Wates kebanggaan keluarga..

Om Adhytia Daly saling bermaaf-maafan dengan Kang Mas tercinta, Pak Wo' Ismu Daly..


de' Echi menghaturkan sungkem dan bermaaf-maafan dengan Kakeknda Tercinta, Buya Maulana Suryaman Daly..

Om Adhytia Daly saling bermaaf-maafan dengan Kakak Ipar, Mbak Risda Hasan..

Nenek Wates Tercinta, RA. Istiningsih menerima sembah sungkem dari cucu tercinta, de' Hyuga putra kedua Mama Melina Daly..

"de' Hyuga minta maaf lahir bathin ya Nek..?"

Mama Melina Daly dan Om Adhytia Daly saling bermaaf-maafan..

Pak Wo' Ismu Daly saling bermaaf-maafan dengan Adimas Bungsu Tercinta, Om Indra Daly..

Nenek Wates Tercinta abis bagi-bagi amplop ampaw buat cucu-cucu.. wah asyiknya..

Pak Wo' Ismu Daly dan Bude Risda Hasan, istri Pak Wo' Ismu Daly menerima sungkem dari Om Indra Daly dan Hyuga Ahadan khaliq putra kedua Mama Melina Daly..

Pak Wo' menerima salam sungkem dari de Echi putri Mama Eny Daly..

Bude Risda Hasan menerima salam sungkem dari de Echi putri Mama Eny Daly..

Mama Melina Daly menerima salam sungkem permohonan maaf lahir bathin dari AdimasTercinta, Om Indra Daly yang jadi juru foto..

Bude Risda Hasan abis bagi-bagi ampaw nih, yee..
lhoo de' Echi kog bobok..?

de' Hyuga Ahadan Khaliq putra kedua Melina Daly lagi ngelamun wae..

Om Indra Daly memohon maaf pada Kakanda Tercinta, Mama Melina Daly..

Om Indra Daly dan Kang Mas Ipar, yakni Om RM. Retno Hastoro, suami Mama Eny Daly saling bermaaf-maafan..

Maaf lahir bathin ya Mas Toro.., kata Om Indra Daly sambil berlinang air mata.. " Iya, Ndra.. begitu juga sebaliknya, Mas Toro juga mohon maaf lahir bathin kalau banyak kesalahan, ya Ndra..?", jawab Mas Toro.

Om Bungsu Indra Daly memberikan sungkem dan memohon maaf pada Kakanda Tercinta, Mama Eny Daly.
Om Adhytia Daly sedang sibuk membalas kiriman sms dari sanak keluarga, dari Yayanknya dan calon Mertua, juga dari sahabat2 temen kuliah.. HP nya tambah dua lagi ya Om.. ben rame..

Wah lha kog Mama Melina Daly senyam-senyum dhewe ki..? Ono opo yaa..?

Kanjeng Ramanda Maulana Suryaman Daly sedang memberikan wejangan dan nasehat kepada seluruh anak-anak dan cucu-cucu.. kami semua sayaaaaaaaaang bangeeet sama Kakek..

Kakek pun berdoa :

Ya Allah
Ya Ilahi
Ya Robbul Maghfirah
Allahumma Subhana Anta Ya Robbana
Faghfirlana Ya Dzal Jalali wal Ikram

Jadikanlah kemuliaan orang-tua dan pendahulu kami
sebagai sanad yang mulia bagi kami dan keturunan kami
guna memperoleh Syafa'at RasulMu yang mulia, Ya Rabb..

Jadikanlah anak-anak dan keturunan kami
sebagai wujud limpahan rasa syukur kami padaMu, Ya Rabb..

Jadikanlah anak-anak dan keturunan kami
sebagai cahaya hati dan penyejuk bathin kami, ya Rabb..

Jadikanlah anak-anak dan keturunan kami
sebagai jalan derajat kesyahidan yang Engkau Ridhoi
untuk bersatu bersama RasulMu yang agung, Ya Rabb..

Jadikanlah anak-anak dan keturunan kami
sebagai hamba-hamba yang taat beribadah padaMu
dan para mukmin yang senantiasa berserah diri pada KuasaMu, Ya Rabb..

Jadikanlah anak-anak dan keturunan kami
sebagai sumber semangat hidup kami
dan semangat amal ibadah padaMu, Ya Rabb..

Ya Allah, terima-kasih atas segala limpahan Kasih-sayangMu yang indah..
Maka muliakanlah derajat hidup kami
Muliakanlah derajat kedua orangtua kami
Muliakan derajat para pendahulu kami
Dan muliakanlah derajat keimanan serta ibadah anak keturunan kami
Serta limpahkanlah keselamatan agung di alam dunya dan di akherat
Dalam nikmatnya amal ibadah lahir maupun bathin

Terima-kasih atas segala nikmat hidup yang telah Engkau limpahkan, Ya Rabb..

Engkaulah Cahaya hidup kami, Ya Allah
Segala puja puji syukur hanya padaMu, Ya Ilahi..

Amiin Ya Robbal 'Alamiin..



Om Bungsu Indra Daly memohon maaf kepada Kang Mas Panengah tercinta, yakni Om Adhytia Daly..
Welha kog Om Adhytia malah senyam-senyum dewe?
Apanya yang lucu, Om..?
Inilah calon pemimpin masa depan dan penerus Bani Abuya Suryaman Daly di tanah Jawi..

Mohon maaf lahir bathin ya Bro.. kalo pake motor jangan lupa ngisi bensin, ya Bro.. shampo Metalnya jangan di habisin, ya Bro.. hehehe, Om Adhytia Daly kog ya masih sempet2nya njawab sms.. wealadalah..

Suasana syawalan keluarga Bani Abuya Maulana Suryaman Daly yang penuh keharuan dan khidmat, meskipun Mas Agus Sunyoto, suami Mama Melinda Daly dan putra pertamanya, yakni de' Nova Laksana Kusuma Aji masih dalam perjalanan mudik ke rumah Kakek Wates.

de' Echi menghaturkan sembah sungkem dan memohon maaf pada Mamanya tercinta, Mama Eny Daly..
"de' Echi mohon maaf lahir bathin ya, Ma..?"

Ayoo makan-makan masakan Nenek Wates..

Om Adhytia Daly dah 2 piring tuh nambahnya..

Hyuga minta mimik abis ma'em ke Mama Melina Daly, dibelakang tampak Bude Risda Hasan menikmati hidangan..

Mama Eny Daly sedang sibuk membalas kiriman sms dari sanak saudara dan rekan kerjanya..

Om Adhytia Daly nambah sampai 3 piring.. laperr berat ya Om..?

Pak Wo' maem apaan tuh.. penuh banget..?

de' Hyuga mau nambah dagingnya, Maa..

Bude Risda Hasan tampak malu-malu menikmati hidangan masakan Mama Wates..

Echi merapikan kembali hidangan kue-kue ke meja..

Acara Halal Bi Halal ditutup dengan doa penutup oleh Ismu Daly yang pulang ke Wates bersama istrinya, yakni Bude Risda Hasan dari Jakarta via sepeda motor tuanya, Honda CB/GL100, hehehe..

Semoga seluruh keluarga besar Bani Abuya Maulana Suryaman Daly senantiasa dalam naungan payung agung Rahmatullah, senntiasa diberikan limpahan nikmat sehat wal afiyat, nikmat iman Islam, keberkahan hidup yang penuh dengan rasa syukur ke Hadirat Allah Yang Maha Tunggal, menjadi keluarga besar Mukmin sejati yang sakinah, mawadah, warahmat dan wabarakah, selamat sejahtera lahir bathin dunia wal akhirat.

Baiti Jannati sungguh terasakan indahnya rumahku adalah surgaku, keluarga adalah harta karun kehidupan yang tiada terkira dan Ridho Allahu wa Ridho Waliy doa restu orang tua menjadi pusaka jalani amal hidup.

KEBERSAMAAN DAN CINTA KASIH KELUARGA
ADALAH HARTA KEHIDUPAN YANG PALING INDAH DARIMU
YA ALLAH YA RABB..

CANDA CERIA DAN RASA SAYANG KELUARGA
ADALAH WUJUD KEBAHAGIAAN HIDUP YANG TIADA TERKIRA DARIMU
YA ALLAH YA RABB..