Jujur, Jajar lan Jejer Manembah Gusti Ilahi

Duk Djaman Semono, Kandjeng Edjang Boeyoet Ing Klero nate paring wewarah,".. Djoedjoer Lahir Bathin Berboedi Bowo Leksono Adedhasar Loehoering Agomo, Djedjer Welas Asih Sasamoning Titah Adedhasar Jiwo Kaoetaman Lan Roso Kamanoengsan, Lan Djadjar Manoenggal Wajibing Patrap Bebrayan Agoeng Adedhasar Endahing Tepo Salira Manembah Ngarsaning Goesti Allah Ingkang Moho Toenggal, Ngrenggo Tjiptaning Koesoema Djati Rila Adedharma Mrih Loehoering Bongso, Agomo, Boedoyo, Lan Sasamining Titahing Gesang Ing Ngalam Donya, Ikoe Lakoening Moekmin Sadjati.." [Wewaler KRT. Hasan Midaryo,1999]

Minggu, 11 April 2010

Adipati Unus Sulthan Demak II


I. Silsilah Syaikh Maulana Khaliqul Abdul Idrus dan Trah Keturunannya di Jawa

Siapakah yang dimaksud dengan tokoh adipati Unus, seorang Senopati Perang Kasulthanan Demak Bintoro yang kemudian menjadi Sulthan Demak Bintoro yang ke-II? Berdasarkan beberapa sumber catatan sejarah, misalnya pada catatan Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, atau Babad Tanah Jawi, disebutkan bahwa nama asli Adipati Unus adalah Raden Mas Abdul Qadir Al Idrus Bin Raden Mas Muhammad Yunus Al Idrus dari Jepara.

Raden Mas Muhammad Yunus adalah putra seorang Muballigh pendatang dari Negeri Parsi yang dikenal dengan sebutan Hadratus Syaikh Maulana Khaliqul Idrus. Muballigh dan Musafir besar ini datang dari Negeri Parsi ke tanah Jawa mendarat dan menetap di Jepara di awal 1400-an masehi.

Silsilah beliau, antara lain :

Raden Mas Pati Unus Abdul Qadir Al Idrus
Bin
Raden Mas Muhammad Yunus Al Idrus
Bin
Hadratusy Syaikh Maulana Abdul Khaliq Al Idrus
Bin
Hadratusy Syaikh Maulana Muhammad Al Alsiy
[Wafat di Parsi]
Bin
Hadratusy Syaikh Maulana Abdul Muhyi Al Khayri
[Wafat di Al Quds, Palestina]
Bin
Hadratusy Syaikh Maulana Muhammad Akbar Al-Ansari
[Wafat di Madina Al Munawarroh]
Bin
Syaikh Maulana Abdul Wahhab
[Wafat di Mekkah Al Mukaromah]
Bin
Hadratusy Syaikh Maulana Yusuf Al Mukhrowi
[Wafat di Parsi]
Bin
Sayyid Imam Akbar Hadratusy Syaikh Maulana Muhammad Al Faqih Al Muqaddam
[Wafat di Hadral Mauwt, Yaman]
Bin
Abdillah

Imam Faqih Muqaddam seorang Ulama besar sangat terkenal di abad 12-13 M adalah keturunan cucu Nabi Muhammad, Sayyidus Syuhada Imam Husayn (Qaddasallohu Sirruhu) putra Imam Besar Sayyidina Ali bin Abi Talib Karromallohu Wajhahu dengan Sayyidah Fatimah Al Zahra.

Setelah menetap di Jepara, Syekh Khaliqul Idrus menikah dengan putri seorang Muballigh asal Gujarat yang lebih dulu datang ke tanah Jawa yaitu dari keturunan Syekh Mawlana Akbar, seorang Ulama, Muballigh dan Musafir besar asal Gujarat, India yang mempelopori dakwah diAsia Tenggara. Seorang putra beliau adalah Syekh Ibrahim Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di tanah Campa (di delta Sungai Mekong, Kamboja) yang sekarang masih ada perkampungan Muslim. Seorang putra beliau dikirim ke tanah Jawa untuk berdakwah yang dipanggil dengan Raden Rahmat atau terkenal sebagai Sunan Ampel. Seorang adik perempuan beliau dari lain Ibu (asal Campa) ikut dibawa ke Pulau Jawa untuk ditawarkan kepada Raja Brawijaya sebagai istri untuk langkah awal meng-Islam-kan tanah Jawa.

Raja Brawijaya berkenan menikah tapi enggan terang-terangan masuk Islam. Putra yang lahir dari pernikahan ini dipanggil dengan nama Raden Patah. Setelah menjadi Raja Islam yang pertama di beri gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Disini terbukalah rahasia kenapa beliau Raden Patah diberi gelar Alam Akbar karena ibunda beliau adalah cucu Ulama Besar Gujarat Syekh Mawlana Akbar yang hampir semua keturunannya menggunakan nama Akbar seperti Ibrahim Akbar, Nurul Alam Akbar, Zainal Akbar dan banyak lagi lainnya.

Kembali ke kisah Syekh Khaliqul Idrus, setelah menikah dengan putri Ulama Gujarat keturunan Syekh Mawlana Akbar lahirlah seorang putra beliau yang bernama Raden Muhammad Yunus yang setelah menikah dengan seorang putri pembesar Majapahit di Jepara dipanggil dengan gelar Wong Agung Jepara. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang kemudian terkenal sangat cerdas dan pemberani bernama Abdul Qadir yang setelah menjadi menanntu Sultan Demak I Raden Patah diberi gelar Adipati bin Yunus atau terkenal lagi sebagai Pati Unus yang kelak setelah gugur di Malaka di kenal masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor.


II. Riwayat Adipati Unus Raden Mas Abdul Qadir Bin Muhammad Yunus Al Idrus

Setelah Raden Abdul Qadir beranjak dewasa di awal 1500-an beliau diambil mantu oleh Raden Patah yang telah menjadi Sultan Demak I. Dari Pernikahan dengan putri Raden Patah, Abdul Qadir resmi diangkat menjadi Adipati wilayah Jepara (tempat kelahiran beliau sendiri). Karena ayahanda beliau (Raden Yunus) lebih dulu dikenal masyarakat, maka Raden Abdul Qadir lebih lebih sering dipanggil sebagai Adipati bin Yunus (atau putra Yunus). Kemudian hari banyak orang memanggil beliau dengan yang lebih mudah Pati Unus.

Dari pernikahan ini beliau diketahui memiliki 2 putra. Ke 2 putra beliau yang merupakan cucu-cucu Raden Patah ini kelak dibawa serta dalam expedisi besar yang fatal yang segera merubah nasib Kesultanan Demak.

Sehubungan dengan intensitas persaingan dakwah dan niaga di Asia Tenggara meningkat sangat cepat dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis di tahun 1511, maka Kesultanan Demak mempererat hubungan dengan kesultanan Banten-Cirebon yang juga masih keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat. Karena Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah adalah putra Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Mawlana Akbar, sedangkan Raden Patah seperti yang disebut dimuka adalah ibundanya cucu Syekh Mawlana Akbar yang lahir di Campa. Sedangkan Pati Unus neneknya dari pihak ayah adalah juga keturunan Syekh Mawlana Akbar.

Hubungan yang semakin erat adalah ditandai dengan pernikahan yang ke-2 Pati Unus dengan Ratu Ayu putri Sunan Gunung Jati tahun 1511. Tak hanya itu, Pati Unus kemudian diangkat sebagai Panglima Gabungan Armada Islam membawahi armada Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon, diberkati oleh mertuanya sendiri yang merupakan Pembina umat Islam di tanah Jawa, Syekh Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati. Gelar beliau yang baru adalah Senapati Sarjawala dengan tugas utama merebut kembali tanah Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis. Gentingnya situasi ini dikisahkan lebih rinci oleh Sejarawan Sunda Saleh Danasasmita di dalam Pajajaran bab Sri Baduga Maharaja sub bab Pustaka Negara Kretabhumi.

Tahun 1512 giliran Samudra Pasai yang jatuh ke tangan Portugis. Hal ini membuat tugas Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam tanah jawa semakin mendesak untuk segera dilaksanakan. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil, ekspedisi Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Malaka tapi gagal dan balik Kimball ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa, Sulawesi yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal.

Di tahun 1518 Raden Patah, Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah mangkat, beliau berwasiat supaya mantu beliau Pati Unus diangkat menjadi Sultan Demak berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Raden Abdul Qadir bin Yunus, Adipati wilayah Jepara yang garis nasab (Patrilineal)-nya adalah keturunan Arab dan Parsi menjadi Sultan Demak II bergelar Alam Akbar At-Tsaniy.

Memasuki tahun 1521, ke 375 kapal telah selesai dibangun, maka walaupun baru menjabat Sultan selama 3 tahun Pati Unus tidak sungkan meninggalkan segala kemudahan dan kehormatan dari kehidupan keraton bahkan ikut pula 2 putra beliau (yang masih sangat remaja) dari pernikahan dengan putri Raden Patah dan seorang putra lagi (yang juga masih sangat remaja) dari seorang seorang isteri,anak kepada Syeikh Al Sultan Sayid Ismail, Pulau Besar, dengan risiko kehilangan segalanya termasuk putus nasab keturunan, tapi sungguh Allah membalas kebaikan orang-orang yang berjuang di jalannya.

Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak dengan mendapat pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang. Dipimpin langsung oleh Pati Unus bergelar Senapati Sarjawala yang telah menjadi Sultan Demak II. Dari sini sejarah keluarga beliau akan berubah, sejarah kesultanan Demak akan berubah dan sejarah tanah Jawa akan berubah.

Armada perang Islam yang sangat besar berangkat ke Malaka dan Portugis pun sudah mempersiapkan pertahanan menyambut Armada besar ini dengan puluhan meriam besar pula yang mencuat dari benteng Malaka.

Kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Ia gugur sebagai Syahid karena kewajiban membela sesama Muslim yang tertindas penjajah (Portugis) yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Sebagian pasukan Islam yang berhasil mendarat kemudian bertempur dahsyat hampir 3 hari 3 malam lamanya dengan menimbulkan korban yang sangat besar di pihak Portugis, karena itu sampai sekarang Portugis tak suka mengisahkan kembali pertempuran dahsyat di tahun 1521 ini . Melalui situs keturunan Portugis di Malaka (kaum Papia Kristang) hanya terdapat kegagahan Portugis dalam mengusir armada tanah jawa (expedisi I) 1513 dan armada Johor dalam banyak pertempuran kecil.

Armada Islam gabungan tanah Jawa yang juga menderita banyak korban kemudian memutuskan mundur dibawah pimpinan Raden Hidayat, orang kedua dalam komando setelah Pati Unus gugur. Satu riwayat yang belum jelas siapa Raden Hidayat ini, kemungkinan ke-2 yang lebih kuat komando setelah Pati Unus gugur diambil alih oleh Fadhlulah Khan (Tubagus Pasai) karena sekembalinya sisa dari Armada Gabungan ini ke Pulau Jawa , Fadhlullah Khan alias Falathehan alias Fatahillah alias Tubagus Pasai-lah yang diangkat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai Panglima Armada Gabungan yang baru menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka.

Kegagalan expedisi jihad yang ke II ke Malaka ini sebagian disebabkan oleh faktor - faktor internal, terutama masalah harmoni hubungan kesultanan - kesultanan Indonesia
Putra pertama dan ketiga Pati Unus ikut gugur, sedangkan putra kedua, Raden Abdullah dengan takdir Allah untuk meneruskan keturunan Pati Unus, selamat dan bergabung dengan armada yang tersisa untuk kembali ke tanah Jawa. Turut pula dalam armada yang balik ke Jawa, sebagian tentara Kesultanan Malaka yang memutuskan hijrah ke tanah Jawa karena negerinya gagal direbut kembali dari tangan penjajah Portugis. Mereka orang Melayu Malaka ini keturunannya kemudian membantu keturunan Raden Abdullah putra Pati Unus dalam meng-Islam-kan tanah Pasundan hingga dinamai satu tempat singgah mereka dalam penaklukan itu di Jawa Barat dengan Tasikmalaya yang berarti Danau nya orang Malaya (Melayu).

Sedangkan Pati Unus, Sultan Demak II yang gugur kemudian disebut masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran (yang gugur) di seberang utara. Pimpinan Armada Gabungan Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon segera diambil alih oleh Fadhlullah Khan yang oleh Portugis disebut Falthehan, dan belakangan disebut Fatahillah setelah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa 1527. Di ambil alih oleh Fadhlullah Khan adalah atas inisiatif Sunan Gunung Jati yang sekaligus menjadi mertua karena putri beliau yang menjadi janda Sabrang Lor dinikahkan dengan Fadhlullah Khan.

Dengan selamatnya putra Pati Unus yang kedua yaitu Raden Abdullah, maka sungguh Allah hendak melestarikan keturunan para Syahid, seperti yang terjadi pada pembantaian cucu nabi Muhammad, Imam Husain dan keluarganya ternyata keturunan beliau justru menjadi berkembang besar dengan selamatnya putra beliau Imam Zaynal Abidin. Bukan kebetulan pula bila Pati Unus pun seperti yang disebut diatas adalah keturunan Imam Husayn cucu Nabi Muhammad SAW, karena hanya Pahlawan besar yang melahirkan Pahlawan besar.


III. Sejarah Demak Paska Gugurnya Adipati Unus

Sepeninggal Pangeran Sabrang Lor tahun 1521 terjadi perebutan takhta antara kedua adiknya, yaitu Raden Kikin dan Raden Trenggana. Putra sulung Trenggana yaitu Raden Mukmin (nama kecil Sunan Prawoto) mengirim utusan membunuh Raden Kikin di tepi sungai. Sejak itu Raden Kikin terkenal sebagai Pangeran Sekar Seda ing Lepen (artinya, "bunga yang gugur di sungai"). Raden Trenggana pun naik takhta, bergelar Sultan Trenggana.

Pada tahun 1524 datang seorang pemuda dari Pasai bernama Fatahillah. Sultan Trenggana menyukainya dan menikahkan pemuda itu dengan adiknya, yaitu Ratu Pembayun (janda Pangeran Jayakelana putra Sunan Gunung Jati). Sebaliknya, Fatahillah juga memperkenalkan pemakaian gelar bernuansa Arab sebagaimana yang lazim dipakai oleh raja-raja Islam di Sumatra. Maka, Sultan Trenggana kemudian juga bergelar Sultan Ahmad Abdul Arifin.

Tokoh Fatahillah inilah yang pada tahun 1527 dikirim membantu Sunan Gunung Jati raja Cirebon menghadapi Pajajaran dan Portugis. Ia berhasil membebaskan pelabuhan Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta atau Jakarta.
Upacara pernikahan Fatahillah tahun 1524 dikejutkan dengan berita kematian Sunan Ngudung dalam perang melawan Majapahit. Adapun ibu kota Majapahit saat itu sudah pindah ke Daha di bawah pemerintahan Girindrawardhana. Raja Majapahit ini hanyalah bersifat simbol, karena pemerintahan dikendalikan penuh oleh Patih Hudara. Sang Patih juga menjalin persahabatan dengan Portugis untuk memerangi Demak.

Akhirnya pada tahun 1527 pasukan Demak dipimpin Sunan Kudus (putra Sunan Ngudung) berhasil mengalahkan Majapahit. Kerajaan yang pernah berjaya di masa lalu itu akhirnya musnah sama sekali. Selain itu Tuban juga ditaklukkan pada tahun yang sama. Penguasa Tuban menurut catatan Portugis bernama Pate Vira, seorang muslim tapi setia kepada Majapahit. Berita ini menunjukkan kalau perang antara Demak dan Majapahit dilandasi persaingan kekuasaan, bukan karena sentimen antara agama Islam dan Hindu.

Pada tahun 1528 Sultan Trenggana menaklukkan Wirasari, kemudian Gagelang atau Gelanggelang (nama sekarang: Madiun) tahun 1529, Medangkungan (Blora) tahun 1530, Surabaya tahun 1531, Pasuruan tahun 1535. Hampir sebagian besar penyerangan terhadap daerah-daerah tersebut dipimpin oleh Trenggana sendiri.

Antara tahun 1541-1542 Demak menaklukkan Lamongan, Blitar, dan Wirasaba (Mojoagung, Jombang). Gunung Penanggungan yang menjadi pusat sisa-sisa pelarian Majapahit direbut tahun 1543. Kemudian Kerajaan Sengguruh di Malang, yang pernah menyerang Giri Kedaton, dikalahkan tahun 1545.

Pada tahun 1543 Sultan Trenggana mengundang Sunan Kalijaga pindah ke Demak. Sunan Kalijaga sendiri sebelumnya membantu Sunan Gunung Jati berdakwah di Cirebon. Beberapa waktu kemudian terjadi perbedaan pendapat antara Sunan Kalijaga dengan Sunan Kudus dalam menentukan awal bulan Ramadhan. Dalam hal ini Sultan Trenggana lebih memilih pendapat Sunan Kalijaga. Akibatnya, Sunan Kudus kecewa dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai imam Masjid Agung Demak. Sunan Kalijaga diangkat sebagai imam baru dan diberi tanah perdikan di Kadilangu.
Berita kematian Sultan Trenggana ditemukan dalam catatan seorang Portugis bernama Fernandez Mendez Pinto.

Pada tahun 1546 Sultan Trenggana menyerang Panarukan, Situbondo yang saat itu dikuasai Blambangan. Sunan Gunung Jati membantu dengan mengirimkan gabungan prajurit Cirebon, Banten, dan Jayakarta sebanyak 7.000 orang yang dipimpin Fatahillah. Mendez Pinto bersama 40 orang temannya saat itu ikut serta dalam pasukan Banten.


IV. Jejak Syiar Dan Pengabdian Keturunan Adipati Yunus pada Nusa Jawa

Ketika armada Islam mendaratkan pasukan Banten di teluk Banten, Raden Abdullah diajak pula untuk turun di Banten untuk tidak melanjutkan perjalanan pulang ke Demak. Para komandan dan penasehat armada yang masih saling berkerabat satu sama lain sangat khawatir kalau Raden Abdullah akan dibunuh dalam perebutan tahta mengingat sepeninggal Pati Unus, sebagian orang di Demak merasa lebih berhak untuk mewarisi Kesultanan Demak karena Pati Unus hanya menantu Raden Patah dan keturunan Pati Unus (secara patrilineal) adalah keturunan Arab seperti keluarga Kesultanan Banten dan Cirebon, sementara Raden Patah adalah keturunan Arab hanya dari pihak Ibu sedangkan secara patrilineal (garis laki-laki terus menerus dari pihak ayah, Brawijaya) adalah murni keturunan Jawa (Majapahit).

Kebanggaan Orang Jawa sebagai orang Jawa walaupun sudah menerima Islam berbeda dengan sikap orang Pasundan setelah menerima Islam berkenan menerima Raja mereka dari keturunan Arab seperti Sultan Cirebon Sunan Gunung jati dan putranya Sultan Banten Mawlana Hasanuddin. Kebanggaan orang Jawa sebagai bangsa yang punya identitas sendiri, dengan gugurnya Pati Unus, membuka kembali konflik lama yang terpendam dibawah kewibawaan dan keadilan yang bersinar dari Pati Unus. Kisah ini nyaris mirip dengan gugurnya Khalifah umat Islam ketiga di Madinah, Umar bin Khattab yang segera membuka kembali konflik lama antara banyak kelompok yang sudah lama saling bertikai di Mekah dan Madinah.

Sedangkan di tanah Jawa, sejak Islam merata masuk hingga pelosok dibawah kepeloporan kesultanan Demak pada akhirnya timbul persaingan antara kaum Muslim Santri di pesisir dengan Muslim Abangan di pedalaman yang berakibat fatal dengan perang saudara berkelanjutan antara Demak, Pajang dan Mataram.

Sebagian riwayat turun temurun menyebutkan Pangeran Yunus (Raden Abdullah putra Pati Unus) ini kemudian dinikahkan oleh Mawlana Hasanuddin dengan putri yang ke III, Fatimah. Tidak mengherankan, karena Kesultanan Demak telah lama mengikat kekerabatan dengan Kesultanan Banten dan Cirebon. Selanjutnya pangeran Yunus yang juga banyak disebut sebagai Pangeran Arya Jepara dalam sejarah Banten, banyak berperan dalam pemerintahan Sultan Banten ke II Mawlana Yusuf (adik ipar beliau) sebagai penasehat resmi Kesultanan. Dari titik ini keturunan beliau selalu mendapat pos Penasehat Kesultanan Banten , seperti seorang putra beliau Raden Aryawangsa yang menjadi Penasehat bagi Sultan Banten ke III Mawlana Muhammad dan Sultan Banten ke IV Mawlana Abdul Qadir.

Ketika penaklukan Kota Pakuan terakhir 1579, Raden Aryawangsa yang masih menjadi Panglima dalam pemerintahan Sultan Banten ke II Mawlana Yusuf (yang juga paman beliau sendiri karena Ibunda beliau adalah kakak dari Mawlana Yusuf yang dinikahi Raden Abdullah putra Pati Unus) mempunyai jasa besar, sehingga diberikan wilayah kekuasaan Pakuan dan bermukim hingga wafat di desa Lengkong (sekarang dekat Serpong). Raden Aryawangsa menikahi seorang putri Istana Pakuan dan keturunannya menjadi Adipati Pakuan dengan gelar Sultan Muhammad Wangsa yang secara budaya menjadi panutan wilayah Pakuan yang telah masuk Islam (Bogor dan sekitarnya), tapi tetap tunduk dibawah hukum Kesultanan Banten.

Seperti yang disebut diatas, Raden Aryawangsa kemudian lebih banyak berperan di Kesultanan Banten sebagai Penasehat Sultan, setelah beliau wafat kiprah keluarga Pati Unus kemudian diteruskan oleh putra dan cucu beliau para Sultan Pakuan Islam hingga Belanda menghancurkan keraton Surosoan di zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1683), dan membuat keraton Pakuan Islam sebagai cabang dari Keraton Banten, ikut lenyap dari percaturan politik dengan Sultan yang terakhir Sultan Muhammad Wangsa II bin Sultan Muhammad Wangsa I bin Raden Aryawangsa bin Raden Abdullah bin Pangeran Sabrang Lor bin Raden Muhammad Yunus Jepara ikut menyingkir ke pedalaman Bogor sekitar Ciampea.

Selain Raden Aryawangsa, Raden Abdullah putra Pati Unus juga memiliki anak lelaki lainnya yaitu yang dikenal sebagai Raden Suryadiwangsa yang belakangan lebih dikenal dengan gelar Raden Suryadiningrat yang diberikan Panembahan Senopati ketika Mataram resmi menguasai Priangan Timur pada tahun 1595.

Kehadiran putra Pati Unus di wilayah Priangan Timur ini tidak terlepas dari kerjasama dakwah antara Kesultanan Banten dan Cirebon dalam usaha meng islam kan sisa-sisa kerajaan Galuh di wilayah Ciamis hingga Sukapura (sekarang Tasikmalaya).

Raden Surya dikirim ayahnya, Raden Abdullah putra Pati Unus yang telah menjadi Penasehat Kesultanan Banten untuk membantu laskar Islam Cirebon dalam usaha peng Islaman Priangan Timur. Raden Surya memimpin dakwah (karena hampir tanpa pertempuran) hingga mencapai daerah Sukapura dibantu keturunan tentara Malaka yang hijrah ketika Pati Unus gagal merebut kembali Malaka dari penjajah Portugis. Beristirahatlah mereka di suatu tempat dan dinamakan Tasikmalaya yang berarti danaunya orang Malaya (Melayu) karena didalam pasukan beliau banyak terdapat keturunan Melayu Malaka.

Raden Surya di tahun 1580 ini di angkat oleh Sultan Cirebon II Pangeran Arya Kemuning atau dipanggil juga Pangeran Kuningan (putra angkat Sunan Gunung Jati, karena putra kandung Pangeran Muhammad Arifin telah wafat) sebagai Adipati Galuh Islam. Akan tetapi seiring dengan makin melemahnya kesultanan Cirebon sejak wafatnya Sunan Gunung Jati pada tahun 1579, maka wilayah Galuh Islam berganti-ganti kiblat Kesultanan.

Pada saat 1585-1595 wilayah Sumedang maju pesat dengan Prabu Geusan Ulun memaklumkan diri jadi Raja memisahkan diri dari Kesultanan Cirebon. Sehingga seluruh wilyah Priangan taklukan Cirebon termasuk Galuh Islam bergabung ke dalam Kesultanan Sumedang Larang. Inilah zaman keemasan Sumedang yang masih sering di dengungkan oleh keturunan Prabu Geusan Ulun dari dinasti Kusumahdinata.


V. Hubungan Trah Adipati Unus Dengan Dinasti Penguasa Kasulthanan Mataram

Sekitar tahun 1595 Panembahan Senopati dari Mataram mengirim expedisi hingga Priangan, Sumedang yang telah lemah sepeninggal Prabu Geusan Ulun kehilangan banyak wilayah termasuk Galuh Islam. Maka Kadipaten Galuh Islam yang meliputi wilayah Ciamis hingga Sukapura jatuh ke tangan Panembahan Senopati. Raden Suryadiwangsa cucu Pati Unus segera diangkat Panembahan Senopati sebagai Penasehat beliau untuk perluasan wilayah Priangan dan diberi gelar baru Raden Suryadiningrat.

Di sekitar tahun 1620 salah seorang putra Raden Suryadiningrat menjadi kepala daerah Sukapura beribukota di Sukakerta bernama Raden Wirawangsa setelah menikah dengan putri bangsawan setempat. Raden Wirawangsa kelak di tahun 1635 resmi menjadi Bupati Sukapura diangkat oleh Sultan Agung Mataram karena berjasa memadamkan pemberontakan Dipati Ukur. Raden Wirawangsa diberi gelar Tumenggung Wiradadaha I yang menjadi cikal bakal dinasti Wiradadaha di Sukapura (Tasikmalaya). Gelar Wiradadaha mencapai yang ke VIII dan dimasa ini dipindahkanlah ibukota Sukapura ke Manonjaya. Bupati Sukapura terakhir berkedudukan di Manonjaya adalah kakek dari kakek kami bergelar Raden Tumenggung Wirahadiningrat memerintah 1875-1901. Setelah beliau pensiun maka ibukota Sukapura resmi pindah ke kota Tasikmalaya.


VI. Trah Wongsopati Dan Sejarah Kejayaan Kasulthanan Demak Hingga Era Mataram

Kisah ini bermula dari kejayaan Kasulthanan Demak Bintoro yang berhasil menaklukkan Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Brawijaya V, serta sekaligus dengan dukungan Dewan wali Sonogo telah mengislamkan tanah Jawa, bahkan beberapa kerajaan di nusantara dari masa sekitar tahun 1400 M hingga akhir 1500 M. Singkat cerita, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sulthan Demak Alam Akbar Al Fattah Kaping I
Ingkang Jumeneng Ing Kasulthanan Demak Bintoro mempunyai seorang puteri yang dinikahkan dengan Adipati Ibnu Yunus, atau Raden Mas Abdul Qadir Al Idrus Bin Muhammad Yunus Al Idrus atas keperwiraannya menjadi salah satu Senopati Perang Kasulthanan Demak yang sukses dalam berbagai ekspedisi militer maritimnya.

Melalui beberapa narasumber dalam lingkungan keluarga Trah Wongsopati di Kalasan, serta berbagai sumber dokumen sejarah. Bahkan penelusuran sejarah ini masih kami upayakan detail-detail kronologi, pencatatan waktu dan tempat, tempat-tempat petilasan tempat tinggal, pemakaman, peninggalan kisah sejarahnya, peta perjalanan sejarah kehidupannya, peninggalan Kitab, ajaran kebathinan atau tradisi kearifan lokal, peninggalan pusaka, atribut dan sebagainya, bukan untuk dikeramatkan melainkan sebagai bukti sejarah yang nyata! Sebab, bagaimanapun generasi muda selayaknya banyak belajar dari sejarah generasi sebelumnya, para pendahulunya, leluhurnya yang dengan informasi tersebut maka keluhuran budi pekerti sebagai seorang Mukmin akan terus terpelihara, dan semangat keperwiraan yang mengalir dalam DNA darah para penerus akan terus berkobar dalam semangat mewujudkan cita-cita mulia para pendahulunya. Bagi manusia Jawa, mengenal Asal-usul dan Jati Diri menjadi suatu persyaratan dasar untuk menjadi Manusia Utama, atau Al Insan Al Hanif yang berguna bagi hidup serta kehidupan! Tidak terlalu bombastis kiranya keinginan kami ini..

Berikut silsilah atau hubungan darah yang menjelaskan bagaimana lahirnya Trah Wongsopati yang menjadi Pusaka Pepundhen di Klero, Prambanan, Sleman, Ngayogyakarto Hadiningrat, dan selanjutnya menyambung ikatan darah dengan Eyang Kakung Kalasan Kanjeng Raden Tumenggung Hasan Midaryo [Klero,1921-Kalasan,2004]?


VII.1. Awal Garis Merah Dari Babad Demak Bintoro, Babad Pajang Hingga Babad Mataram

Dalam Babad Demak, Babad Tanah Jawi maupun Babad Walisongo, banyak dikisahkan bahwa Kanjeng Sulthan Maulana Fattah Akbar Senopati Djimbun ing Kasulthanan Demak Bintoro [1421-1518] mempunyai seorang istri putri dari Kanjeng Sunan Ampel Denta [Hadratusy Syaikh Maulana Ali Rahmatullah]yang bernama Kanjeng Gusti Ratu Mas Panggung Siti Asyikah Binti Kanjeng Syaikh Maulana Ali Rahmatullah Ampel Denta Bin Kanjeng Syaikh Maulana Ibrahim Asmoro [As-samarkand]. Setelah pernikahannya di Surabaya, maka lahirlah 6 anak keturunan Raden Patah dengan Gusti Ratu Mas Panggung, antara lain :

[1] Kanjeng Gusti Raden Ayu Pembayun Binti Raden Patah Sulthan Demak Bintoro-I

Raden Ayu Pembayun Binti Raden Patah dinikahkan dengan Raden Mas Abdul Qadir Al Idrus Bin Muhammad Yunus Al Idrus, atau dikenal sebagai Pati Unus, atau Kanjeng Pangeran Adipati Sabrang Lor Ingkang Jumeneng Nata Sultan Bintoro Kaping II ing Kasultanan Demak Bintoro. Selanjutnya, melalui keturunan salah satu putranya yang bernama Raden Mas Tedjo Kusumo yang menjadi Adipati Jogorogo lahirlah cikal bakal Trah Keturunan Kanjeng Panembahan Wongsopati di daerah Pegunungan Sewu atau Wukir Sewu perbatasan timur Kasulthanan Mataram dengan Bumi Perdikan Bayat, Klaten sekarang. Dari garis silsilah inilah nasab Kanjeng Eyang Kalasan kami tercinta, yakni Kanjeng Raden Tumenggung Hasan Midaryo bertaut dengan sanad silsilah Al Idrus.

[2] Kanjeng Gusti Pangeran Mas Haryo Sasongko Bin Raden Patah Sulthan Demak Bintoro-I

Raden Mas Haryo Sasongko Bin Raden Patah Sulthan Demak Bintoro-Iyang kemudian dikenal bergelar Kanjeng Pangeran Adipati Sabrang Kulon. Kisah Kanjeng Pangeran Adipati Sabrang Kulon ini agaknya tidak terlalu banyak sumber referensinya dalam berbagai babad, namun Insya Allah akan kami coba menelusurinya pula di lain kesempatan, matur nuwun.

[3] Kanjeng Gusti Pangeran Mas Trenggono Bin Raden Patah Sulthan Demak Bintoro-I

Kanjeng Gusti Pangeran Mas Trenggono Bin Raden Patah ingkang Jumeneng Nata Sultan Bintoro Kaping III, mempunyai keturunan antara lain :

(1.) Kanjeng Gusti Ratu Mas Kalinyamat Binti Kanjeng Gusti Pangeran Mas Trenggono, yang dinikahkan dengan Kanjeng Sunan Prawoto, namun Kanjeng Sunan Prawoto kemudian wafat dalam suatu kudeta yang dilakukan oleh Adipati Jipang Panolan yang menginginkan tampuk kekuasaan Kasulthanan Demak Bintoro. Selanjutnya, Kanjeng Gusti Ratu Mas Kalinyamat beserta para putrinya kemudian mengasingkan diri di suatu Goa di daerah Kalinyamat, Jepara.

Sultan Trenggana adalah raja ketiga Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1521-1546. Di bawah pemerintahannya, wilayah kekuasaan Demak meluas sampai ke Jawa Timur. Sultan Trenggana adalah putra Raden Patah pendiri Demak yang lahir dari permaisuri Ratu Asyikah putri Sunan Ampel. Menurut Suma Oriental, ia dilahirkan sekitar tahun 1483. Ia merupakan adik kandung Pangeran Sabrang Lor, raja Demak sebelumnya (versi Serat Kanda).

Sultan Trenggana memiliki beberapa orang putra dan putri. Diantaranya yang paling terkenal ialah Sunan Prawoto yang menjadi raja penggantinya, Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara, Ratu Mas Cempaka yang menjadi istri Sultan Hadiwijaya, dan Pangeran Timur yang berkuasa sebagai adipati di wilayah Madiun dengan gelar Rangga Jumena.

(2.) Kanjeng Putri Ayu Cempaka Pembayun Binti Kanjeng Gusti Pangeran Mas Trenggono, yang dinikahkan dengan Jaka Tingkir atau Kanjeng Sultan Hadi Wijoyo di Kasulthanan Pajang, cikal bakal Trah Dinasti Krathon Kartasura hingga Kraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegoro hingga kini.

(3.) Raden Mas Timur Bin Kanjeng Gusti Pangeran Mas Trenggono, wafat ketika masih kecil, dimakamkan di Sasanalaya Masjid Agung Demak Bintoro.

[4] Kanjeng Raden Ayu Wulan Binti Raden Patah Sulthan Demak Bintoro-I

Kanjeng Raden Ayu Wulan Binti Raden Patas Sulthan Demak Bintoro-I, atau Kanjeng Gusti Ratu Mas Nyama yang dinikahkan dengan Kanjeng Panembahan Cirebon, dan keturunannya banyak terdapat di Cirebon dan Banten, selain didalam lingkungan Kraton Pakungwati Cirebon sebagai para perangkat Kerajaan, diantara keturunannya juga banyak yang keluar lingkungan Kraton Cirebon untuk menjadi para mubaligh yang mensyiarkan ajaran agama Islam ke daerah-daerah pinggiran dari Karawang, Lemah Abang, Bekasi, Batavia hingga beberapa wilayah pinggiran di Tasik Malaya dan Garut, Jawa Barat lainnya hingga Banten.

[5] Raden Mas Wongkawa atau Raden Mas Kanduruwan Bin Raden Patah Sulthan Demak Bintoro-I

Raden Mas Wongkawa atau Raden Mas Kanduruwan Bin Raden Patah Sulthan Demak Bintoro-I,
yang menjadi Adipati di Sumenep, Madura dan trah keturunannya banyak terdapat di daerah Jawa Timur dan Pulau Madura yang menjadi para Adipati, Bangsawan, maupun para tokoh Agama Islam.

[6] Raden Mas Alit atau Kanjeng Gusti Pangeran Mas Pamekas, dikisahkan menjadi seorang pengembara yang lebih tertarik pada dunia Agama, khususnya Tasawuf Islam, hingga tidak begitu banyak narasumber atau sumber dokumentasi sejarah yang meriwayatkan perjalanan hidup Raden Mas Alit ini. namun, Insya Allah, selanjutnya akan kami telusuri lebih jauh.


VII.2. Garis Awal Trah Adipati Unus

Dalam catatan Silsilah Walisongo lan Babad Demak Bintoro di Makhtab Walisongo, Demak, Jawa Tengah disebutkan, bahwa silsilah nasab Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Unus, atau Kanjeng Gusti Pangeran Mas Maulana Abdul Qadir Al Idrus Bin Kanjeng Gusti Pangeran Mas Muhammad Yunus Al Idrus dari Garis Nasab Bapak bertaut dengan Trah Keturunan Kanjeng Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam, sebagai berikut :

1]Kanjeng Sayyidina Maulana Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam

2]Kanjeng Sayyidatun Nissa Siti Fatimah Az-Zahro Binti Muhammad Binti Muhammad,
menikah dengan Kanjeng Sayyidina Al Imam Ali Murtadho Bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah Radhiyallahu ‘Anhu, berketurunan :

3]Kanjeng Sayyidina Al Imam Hussain Radhiyallahu ‘Anhu

4]Kanjeng Sayyidina Al Imam Ali Zainal Abidin Radhiyallahu ‘Anhu

5]Kanjeng Sayyidina Al Imam Muhammad Al Baqir Radhiyallahu ‘Anhu

6]Kanjeng Sayyidina Al Imam Ja’far Ash-Shoddiq Radhiyallahu ‘Anhu

7]Kanjeng Sayyidina Al Imam Ali Al ‘Uraidhi

8]Kanjeng Sayyidina Al Imam Muhammad An Naquib

9]Kanjeng Syaikhuna Al Imam Isa Al Rumi

10]Kanjeng Syaikhuna Al Imam Ahmad Al Muhajir

11]Kanjeng Syaikhuna Al Imam Abdullah Ubaidillah

12]Kanjeng Syaikhuna Maulana Alawi

13]Kanjeng Syaikhuna Maulana Muhammad

14]Kanjeng Syaikhuna Maulana Alawi

15]Kanjeng Syaikhuna Maulana Ali Khali’ Qasam

16]Kanjeng Syaikhuna Maulana Muhammad Shohib Mirbath

17]Kanjeng Syaikhuna Maulana Ali

18]Kanjeng Syaikhul Akbar Maulana Muhammad Al Faqih Al Muqaddam Ing Hadral Mawt

19]Kanjeng Syaikhuna Maulana Yusuf Al Mukhrowi Ing Parsi

20]Kanjeng Syaikhuna Maulana Abdul Wahhab Ing Makkah

21]Kanjeng Syaikhuna Maulana Muhammad Akbar Al-Anshori Ing Madina

22]Kanjeng Syaikhuna Abdul Muhyi Al Khayri Ing Palistani

23]Kanjeng Syaikhuna Maulana Muhammad Al Alsiy Ing Parsi

24]Kanjeng Syaikhuna Maulana Abdul Khaliqul Idrus Al Farsi ing Japara [1400]

25]Kanjeng Gusti Pangeran Mas Muhammad Yunus Al Idrus ing Japara

26]Kanjeng Adipati Ibnu Yunus Sabrang Lor Maulana Abdul Qadir Al Idrus, menikah dengan Kanjeng Gusti Raden Ayu Pembayun Binti Raden Patah Sulthan Demak Bintoro-I, berketurunan, antara lain :

27]Kanjeng Pangeran Maulana Abdullah Hariyo Pamungkas Ing Sabrang Lor [1528],

28]Kanjeng Panembahan Tedjo Kusumo ing Djogo Rogo[1565],
berketurunan :
(1)Kanjeng Kyai Ageng Ampuhan, atau Kanjeng Raden Mas Haryo Wongso
[Sumare ing Pralayan Wod Waru]

29]Kanjeng Kyai Ageng Ampuhan Kanjeng Raden Mas haryo Wongso, [1587]
berketurunan :
(1)Kanjeng Kyai Ageng Karang Lo Ing Tadji,
[Sumare ing Pralayan Joro]
(2)Kanjeng Nyai Ageng Karotangan
[Sumare ing Pager Gunung, Sasanalaya Trah Mangkuyudan]
(3)Kanjeng Gusti Pangeran Karang Gayam Pujonggo ing Pajang

30]Kanjeng Kyai Ageng Karang Lo ing Tadji
[Sumare ing Joro, Prambanan, 1600 M]
Berketurunan :
(1)Kanjeng Raden Mas Haryo Tjokro Negoro, Kanjeng Kyai Ageng Djogo Makuto
(2)Kanjeng Kyai Noyo Dipo
(3)Kanjeng Raden Mas Megat Sari I
(4)Kanjeng Adipati Tohpati ing Tulung
(5)Kanjeng Kyai Tjutjuk Telon, Kyai Ageng Ragas sumare ing Karang Nongko
(6)Nyai Ageng Selomarto
(7)Kyai Tjutjuk Dandang, Raden Ngabei Duyandoko
(8)Putri Ayu kagarwo Kanjeng Gusti Pangeran Mas Ronggo Bin Sultan Agung Hanyakra
Kusumo Ing Mataram

31]Kanjeng Adipati Tohpati Ing Tulung [1645]
[1675 s/d 1677 Babad Ing Sengkolo Geger Trunojoyo di Mataram]

32]Kanjeng Kyai Ageng Wongso Pati Ing Klero [1680]

33]Kanjeng Kyai Ageng Rekso Pati Ing Klero [1709]

34]Kanjeng Kyai Ageng Suto Menggolo Ing Klero [1740]

35]Kanjeng Kyai Ageng Bongso Wirono Ing Klero [1775]

36]Kanjeng Kyai Ageng Joyo Wirono Ing Klero [1805]

37]Kanjeng Raden Mas Rono Rejo Ing Klero [1885]

38]Kanjeng Raden Mas Wiro Sentono Ing Klero [1901]

39]Kanjeng Kyai Muhammad Karto Sentono Ing Klero [1927]

40]Kanjeng Raden Tumenggung Hasan Midaryo Ing Kalasan [1921 – 2004]
[Kanjeng Nyai Siti Dariyah Binti Kanjeng Kyai Imam Kusumo Marto Bin Kanjeng Kyai
Ageng Sumongari], peputro :

1] Kanjeng Raden Mas Mohammad Slamet H.M. ing Tanjung Karang, Bandar Lampung
[1] RR.Ning
[2] RR.Ita
[3] RR.Win
[4] RR.Veira
[5] RR.Ayu

2] Raden Ajeng Sri Mulyatmi ing Gedong Kuning, Bantul, Jogja
[1] RM.Mochammad Iskandar HM, S.Kom
[2] RM.Mohammad Didik Kasmiyanto

3] Raden Ajeng Istiningsih ing Lembah Menoreh, Kulon Progo, Jogja
[1] Alm. Aji Daly
[2] Ismu Daly,SS
[3] Melina Daly, Amd
[4] Eny Daly, SPd
[5] Adhytia Daly
[6] Indra Daly

4] Raden Mas Mohammad Isdiyanto ing Piyungan, Bantul, Jogja
[1] RR.Ita

5] Raden Mas Mohammad Ikhsan Wirun Wiranto ing Metro, Lampung
[1] RM.Hengky
[2] RM.Hendri
[3] RM.Hendika
[4] RR.Sarry
[5] RR.Anissa


Maaf mau sholat, Insya Allah akan bersambung.. Matur nuwun.

Ismu Daly

[disarikan dari berbagai sumber terbuka, antara lain : Nasab silsilah Trah Kraton Majapahit, Nasab silsilah Trah Kasultanan Mataram, nasab silsilah Kasulthanan Banten, Nasab silsilah Trah Kasultanan Cirebon, Nasab silsilah Trah Kasultanan Demak, Sejarah kota-kota lama Jawa Barat, Negarakerthabumi Parwa I Sargha II, Berita-berita sumber Portugis abad 15-16 (Barros, Tome Pirres, Hendrik De Lame) dan media internet : Wikipedia Data Base]

8 komentar:

  1. Asalam mualaikum !!! Seorang anak dari Sultan Mohamad Wangsa 2 iaitu Raden Aria Mohyideen(1769-1899) menyamar sebagai Tok Din telah lari dari Pakuan Islam terus ke Melaka dan membuka Perkampungan Pantai Rombang pada tahun 1826 m.Beliau menurunkan Raden Muhamad Bular (1789-1899) menurunkan Raden Lohor(1805-1885)menurunkan Raden Mat Udin (1825-1895) menurunkan Raden Kalong (1845-1925) menurunkan Raden Baba (1905-1990) menurun kan Raden Osman (1923-2003) menurunkan Raden Saripah Normala( 30.7.62...hingga sekarang)...Kami juga mohon jasa baik dari pihak tuan agar mengiktiraf KAMI DARI KETURUNAN PATI UNUS...Terima Kasih.

    BalasHapus
  2. Wa Alaikumussalam Ya Datuk, semoga Gusti Allahu Azza Wa Jalla senantiasa melimpahkan keberkahan hidup, sehat lahir wal bathin, nikmat rizqi, serta indahnya iman Islam kita bersama. Islam telah mempersaudarakan seluruh muslim dan mukmin di dunia, demikian pula kita. Demikian juga sejarah perjalanan hidup para leluhur pendahulu kita di masa lampau juga turut menyatukan ikatan persaudaraan kita kini pula karena aqidah agamanya yang luhur. Alhamdulillah. Insya Allah, akan kita iktirafkan Bani Maulana Pati Unus yang mukim di Semenanjung Malaka, Malaysia, Singapore, Sumatera serta Jawa dalam satu Rabithah wal Mudzakarah demi memuliakan ukhuwah Islamiyyah dalam jiwa kita bersama. Memaklumkan pula bahwa Pati Unus adalah Pahlawan Pelindung Negeri Melayu dan Jawa pada masa Wali Songo di Jawa pada abad IV akhir. Mohon pula dukungan informasi sejarah dari Datuk [Perubatan 7 Puteri]demi tersusunnya kesempurnaan Silsilah Akbar Bani Pati Unus, Semoga Gusti Allahu Azza Wa Jalla memberi RidhoNya, terima kasih.

    BalasHapus
  3. Waalaikum musalam !!!.Ringkasan Riwayat Hidup Pati Unus (1477-1521).Kalau ikut kata nenek saya isteri pertama nya ialah Raden Puteri Ratu Mas Nyawa.Isteri Ke 2 ialah Raden Puteri Mas Ayu binti Syarif Hidayahtullah.Isteri ke 3 nya Syarifah Siti Zubaidah binti Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail,Pulau Besar.Pati Unus SYAHID di Pulau Besar bersama isteri ke 3 nya Syarifah Siti Zubaidah di Pulau Besar.Bersama SYAHID ialah 2 orang anak nya bersama Puteri Ratu Mas Nyawa iaitu Al Syahid Raden Abu Bakar dan Al Syahid Raden Baraqat.Keempat SHUHADA ini MAKAM nya ada di Pulau Besar.Yang hidup ialah ANAK PATI UNUS dari isteri ketiga nya iaitu Raden Abdullah,anak dari isteri ke 3 nya Al Syahid Syarifah Siti Zubaidah.Dibawa lari olih Raden Hidayat atau Fatahillah atau Laksamana Khoja Hasan bin Maulana Sayyid Patikan Ibrahim Ismail bin Maulana Sayyid Barakat Nurul Alam bin Maulana Sayyid Husin Jamadil Kubra.Ini bermakna Maulana Sayyid Fadillah/Falaten bersaudara juga dengan Raden Abdulah bin Pati Unus.Maulana ini juga lah yang membesar dan mendidik Raden Abdullah dan menjadikan Raden Abdullah Adipati Jepara dan akhir nya PAKUAN ISLAM.Raden Abdullah di lari kan ke arah JAWA BARAT semasa berumur 8 tahun.Bersama beliau ialah Panglima dan Perajurit Melaka,yang akan menubuh kan tempat TASIK MALAYA di Jawa Barat.
    Pada tahun 1682 m Setelah Belanda menghancurkan Pakuan Islam,seorang anak Sultan Mohamad Wangsa 2 atau Raden Aria Diwangsa lari melalui Pulau Bulang ke Jambi dan terus ke Pantai Rombang(MALAKA).Anak Sultan Pakuan Islam ini ialah Raden Aria Mohyideen (1769-1899).Beliau dan keluarga nya lah yang membuka Pantai Rombang dan mendirikan Masjid Pantai Rombang yang ada ada hingga sekarang.Untuk Mmengelak dari kesan olih PENJAJAH LAKNAT...semua mereka menukar dan menyamar menjadi orang kampung BIASA.Menukar nama sebgai TOK DIN.Dari Tok Din menurun kan hingga ke isteri saya Raden Saripah Normala.Saya cerita kan sedikit secara ringkas sejarah keluarga isteri saya !!!.Keluarga ini memang kaya,masa dahulu tanah nya luas,harta nya banyak dan ada 3 buah kereta lembu,pingan mangkuk nya dari tembaga.Kalau zaman kita,kereta lembu ialah kereta BMW.Banyak dari tanah mereka di WAKAF kan untuk Masjid,Surau dan Tanah Perkuburan.Hingga sekarang keluarga ini masih di hormati masyarakat setempat.
    Tok Din berkahwin dengan cucu Al Syahid Raja Haji iaitu Daeng Sapiah.Dan kelurga ini bercampur pula dengan orang Bugis di Tangga Batu.Tangga Batu adalah penduduk nya berketurunan dari Bugis.Mereka berasal dari keturunan Daeng Matimor iaitu bekas Panglima Perang Daeng Kemboja bin Daeng Perani.Tangga Batu bersebelahan dengan satu kerajaan Bugis masa dahulu iaitu Kerajaan Linggi/Lingga.Raja nya ialah Daeng Kemboja.Kebanyakan penduduk kawasan sekitar Pantai Puteri ialah ORANG BUGIS.
    NASAB ISTERI SAYA.
    1.Sultan Ali Alam Akbar At Tsani/Raden Abdul Qadir/ Pati Unus(1477-1521)
    2.Raden Abdullah/Nakhoda Hitam/Raden Aria Putra (1519-1650)

    3.Raden Aria Darmawangsa(1570-1700)
    4.Raden Aria Nasharudin/Sultan Muhamad Wangsa 1(1651-1760)
    5.Raden Aria Diwangsa /Sultan Muhamad Wangsa 2 (1681-1771)
    6.Raden Aria Mohyideen/Tok Din.(1769-1899)
    7.Raden Muhamad Bular(1789-1899)
    8.Raden Lohor(1805-1885)
    9.Raden Mayudin(1825-1895)
    10 Raden Kalong(1845-1925)
    11 Raden Baba(1905-1990)
    12.Raden Osman(1923-2003)
    13.Raden Saripah Normala( 30.7.62...sekarang.

    BalasHapus
  4. Asalam mualai kum !!!
    Syeikh Kaliqul Idrus bernikah dengan Syarifah Siti Aisyah binti Maulana Sayyid Husin Jamdil Kubra.Maulana Sayyid Husin Jamadil Kubra berkahwin dengan Puteri Linang Cahaya.Beliau berkahwin lagi dengan Puteri Ramawati binti Sultan Zainal Abidin..Champa melahirkan Maulana Sayyid Ibrahim Asmoro.Sayyid Ibrahim melahirkan Sunan AMPEL dan Maulana Ishaq( makam di Pulau Besar,Melaka).Maulana Ishaq berkahwin Dengan Syarifah Siti Fatimah binti Maulana Sayyid Ali Nurul Alam melahirkan Syarifah Siti MAIMUNAH.Syarifah Siti Maimunah berkahwin dengan Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail melahir kan
    1.Syeikh Ahmad Sallim /TOK PADUKO BERHALO..(pendiri Kerajaan Jambi)...menurun kan Nasab hingga ke SAYA...KETURUNAN KE 9.
    2.Al Syahid Syarifah Siti Zubaidah BERKAHWIN DENGAN AL SYAHID PATI UNUS melahir kan Raden Abdullah......Menurun kan NASAB PAKUAN DAN JEPARA.
    3.Syarifah Siti Zulaikha berkawin dengan Sayyid Ali....mati muda tiada zuriat.

    Keturunan dari Syeikh Ismail Pulau Besar HANYA dari nasab Syeikh Ahmad Salim dan Al Syahid Syarifah Siti Zubaidah.Makam Al Syahid Pati Unus,Al Syahid Siti Zubaidah,Al Syahid Raden Abu Bakar bin Al Syahid Pati Unus dan Al Syahid Raden Abu Syahid/ Barkat bin Al Syahid Pati Unus berada di Pulau Besar...di dalam Komplek Makam Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail.

    BalasHapus
  5. Assalamu 'alaikum, perjumpaan dengan Datuk Perubatan 7 Puteri merupakan Rahmat agung dari Allah bagi saya dan keluarga. Terima-kasih atas dukungan bantuan riwayat tentang sejarah Bani Pati Unus, khususnya keturunan dari Syaikh Ismail Pulau Besar sungguh bermanfaat besar bagi kami. Semoga persaudaraan dan silaturahim tiada putus hingga akhir masa, rasanya tak ada lagi jarak antara kita, satu keluarga karena kemuliaan Islam dan wasiat para Waliyullah, para pendahulu kita, semoga sebagai generasi penerus.. kami mampu meneruskan cita-cita luhur Datuk dalam menjaga persatuan Bangsa dan kelestarian Budaya.. Uhibbuka fillah, Datuk..

    BalasHapus
  6. Waalaikum musalam !!!.Saya pun sangat berterima kaseh kepada saudara saudara saya di Jawa atau Indonesia.Tanpa maklumat dari anda semua,saya tidak akan dapat mencari dan menyusun Nasab Isteri saya.Sememang nya Nasab saya telah tersusun tetapi Nasab isteri saya maseh keliru.Walau bagaimana pun saya juga ada bernasab sahingga Maulana Sayyid Abdul Qader/Pati Unus,kerana Isteri ke 3 nya masih juga Adek Perempuan Sayyid Ahmad Salim /Datuk Paduko Berhalo.Apa pun saya sangat sangat bersyukor ke Illahi kerana dia jua lah kita dapat berhubung.Walau pun kita bersua muka !!!.

    BalasHapus
  7. assalamualaikum saya mau tanya diantara silsilah keturunan para raja demak apa ada yangf namanya ibrohim kalau memang ada beliau bergelar apa ? serta dari keturunan mana ?

    BalasHapus
  8. wa alaikumussalam Akhinal Kiram Pak Guru Wajhuddin. Semoga Gusti Allah Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, inayah dan barakahNya kepada kita semua dan segenap keluarga Pak Guru Wajhuddin di Cirebon.

    Sebelum mohon maaf, berkenaan dg Silsilah Brayat Ageng Sultan Demak ini memang agak unik dan rumit, karena riwayat kawin campur dan terbatasnya sumber nasab silsilah tertulis. Namun, Insya Allah, kita dapat berikhiar guna menelusuri dan menemukan jejak kesejarahan tokoh atau pendahulu yang kita maksud dg bekal niat suci dan beri'tibarah bersama.

    Jika mencari tokoh yang bernama Ibrahim? Seyogyanya, Pak Guru memberikan silsilah Bapak hingga tokoh leluhur yang bernama Ibrahim dimaksud. Takut khilaf, agar dapat kita check kapan masa hidupnya? sehingga validasi kebenarannya terpenuhi.

    Sebab, sepengetahuan saya yang terbatas, agaknya dalam Babad Sejarah Demak juga banyak tokoh yang bernama Ibrahim?

    Misalnya, Sunan Bonang yg bernama Pangeran Sayid Maulana Makhdum Ibrahim Mufti Masjid Agung Demak, namun makam beliau berada di Tuban.

    Atau, Pangeran Maulana Ibrahim yg menjadi sahabat Maulana Fadhillah Khan [Tagaril Faletehan]yg menjadi menantu Sunan Gunung Jati, diriwayatkan beliau dipusarakan di darah Cirebon.

    Atau, Pangeran Ibrahim Sidik salah satu cicit Sunan Kudus yang keberadaannya hingga kini masih belum terdata karena beliau seorang pengembara sufi. Dan mungkin juga masih banyak lagi yang belum saya ketahui.

    Sekali lagi, saya mohon Pak Guru berkenan melampirkan sekilas riwayat dan silsilah tokoh Ibrahim yg dimaksud, agar kita mudah dalam upaya penelusuran bersama. Atau, Pak Guru juga dapat berinteraksi dg saya melalui facebook ismu daly.

    Insya Allah, saya beserta sahabat2 di Halaqah Mudzakarah Wali Songo Al Jawi akan turut membantu semampu fitrah. Bagaimanapun, amanah cita2 luhur para leluhur, Wali Songo dan para Alim Ulama Nahdlatul Ulama terdahulu adalah semangat perjuangan menjaga aqidah dan ikatan persaudaraan kita.

    Semoga sukses dan Matur nuwun.

    BalasHapus