Jujur, Jajar lan Jejer Manembah Gusti Ilahi

Duk Djaman Semono, Kandjeng Edjang Boeyoet Ing Klero nate paring wewarah,".. Djoedjoer Lahir Bathin Berboedi Bowo Leksono Adedhasar Loehoering Agomo, Djedjer Welas Asih Sasamoning Titah Adedhasar Jiwo Kaoetaman Lan Roso Kamanoengsan, Lan Djadjar Manoenggal Wajibing Patrap Bebrayan Agoeng Adedhasar Endahing Tepo Salira Manembah Ngarsaning Goesti Allah Ingkang Moho Toenggal, Ngrenggo Tjiptaning Koesoema Djati Rila Adedharma Mrih Loehoering Bongso, Agomo, Boedoyo, Lan Sasamining Titahing Gesang Ing Ngalam Donya, Ikoe Lakoening Moekmin Sadjati.." [Wewaler KRT. Hasan Midaryo,1999]

Senin, 19 Juli 2010

Saparan Ki Ageng Wonolelo

a) Latar Belakang dan Komponen Upacara

Upacara ini secara simbolik mengandung aiti manusia menginginkan keselamatan. Kelakukan simbolik yang mengharapkan keselamatan itu bentuknya bermacam-macam, salah satu diantaranya menceritakan kembali mitos lama dengan mementaskan isi mitos itu dalam upacara adat. Dalam hal ini menghadirkan tata susunan alam dalam tari-tarian, bahkan termasuk cara khusus menanam atau mengetam padi dalam beraneka perayaan yang disertai kurban, makan bersama (slametan), daur hidup (peralihanjenjang dalam hidup), dan lain-lain (Subagya, 1981).

Upacara adat itu sendiri merupakan sistem aktivitas atau rangkaian tindakan terstruktur yang ditata oleh adat yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa tetap yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Menurut Koentjaraningrat (1997) upacara itu timbul karena adanya dorongan perasaan manusia untuk melakukan berbagai perbuatan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia gaib (kelakuan keagamaan).

Dalam hal ini manusia dihinggapi oleh suatu emosi keagamaan, dan ini merupakan perbuatan keramat, semua unsur yang ada di dalamnya saat upacara, benda-benda seperti alat upacara, serta orang-orang yang melakukan upacara, dianggap keramat. Bertolak dari pengertian tersebut di atas, upacara adat/tradisional yang dimaksud di sini adalah aktivitas atau rangkaian tindakan manusia yang berpola, yang dikaitkan dengan kepercayaan yang berlaku di masyarakat setempat. Biasanya orientasi atau yang menjadi pusat perhatian upacara adat itu adalah tokoh leluhur yang dianggap sebagai cikal-bakal yang telah sumare (dimakarnkan). Tokoh ini menunit pengakuan masyarakat setempat adalah yang menurunkan anggota masyarakat tersebut. oleh sebab itu biasanya upacara adat semacam itu dilakukan dalam masyarakat tradisional pula.

Dalam masyarakat tradisional itu terdapat pola tindakan atau tingkah lakudan pola berpikir warganya yang dikaitkan dengan adanya kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang ada pada alam semesta. Kekuatan alam semesta ini dianggap ada di atas segalanya. Dalam masyarakat tradisional ini kekuatan manusia akan "lemah" bila dihadapkan dengan kekuatan alam semesta (kosmos). ltulah sebabnya terhadap kekuatan alam semesta ini manusia beserta semua unsur-unsuroya bersikap hormat dan berusaha untuk mendekatinya agar tidak teqadi malapetaka.

Usaha manusia untuk mendekatkan dirinya dengan kekuatan alam semesta juga roh atau arwah leluhur yang telah sumare itu, dilakukan melalui "upacara" dan slametan yang merupakan kelengkapan upacara. Dengan demikian upacara ini merupakan wujud simbolik hubungan manusia dengan roh atau arwah atau kosmologinya. Dalam hal ini Muun menunjukkan bahwa upacara itu merupakan interaksi sosial yang dilakukan melalui simbol- simbol sebagai sarana untuk menelusuri asal-usul kehidupan manusia.

Demikianlah upacara yang dalam pelaksanaannya selalu dilengkapi dengan segala macam sarana sebagai simbol atau lambang yang memberikan informasi kepada para pelakunya tentang hubungannya dengan "Yang Esa" atau "yang telah tiada". Biasanya dalam masyarakat Jawa, sarana ini berwujud sesaji atau pusaka-pusaka yang ditempatkan dalam rangkaian slametan atau kenduren. Wujud dari sajian-sajian yang dipersembahkan menunit jenis maksud dan tujuan upacara yang diselenggarakan itu.

Khusus bagi masyarakat Jawa di Daerah Istimewa Yogyakarta, juga mengenal berbagai bentuk upacara tradisional. Salah satunya di Pedukuhan Pondok Wonolelo, Desa Widadamartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, juga dikenal upacara tradisional yang setiap tahun dilakukan penduduk setempat. Upacara ini menurut penduduk setempat dan sekitarnya dikenal sebagai "Upacara Saparan Wonolelo" yang dalam pelaksanaannya upacara ini merupakan pengarakan pusaka Ki Ageng Wonolelo yaitu tokoh leluhur yang dianggap sebagai cikal-bakal pembuka Pondok Wonolelo dan yang menurunkan penduduk asli Pondok Wonolelo.

Letak Desa Widadamartani adalah sekitar 19 km pada arah Timur Laut dari kota Yogyakarta. Kondisi topografinya menunjukkan kemiringan ke arah Selatan, mengingat di ibagian Utara dari daerah ini adalah gunung Merapi. Sehubungan dengan itu struktur tanahnya banyak mengandung unsur volkanik yang relatif subur. Daerah ini dilalui jalur jalan aspal dari kota Kecamatan Ngemplak menuju jalan dari Kalasan ke Cangkringan. Dengan demikian daerah ini mudah dijangkau dengan berbagai jenis kendaraan roda dua maupun roda empat. Bangunan rumah umumnya sudah dibuat permanen, dengan jarak antar rumah relatif jarang karena pekarangan per keluarga cukup lebar.

1) Nama Upacara

Seperti telah dikemukakan di atas, upacara adat/tradisional yang diselenggarakan oleh warga Pedukuhan Pondok Wonolelo, Desa Widadamartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, dinamakan "Upacara Saparan Wonolelo). Upacara tradisional ini dinamakan demikan karena pusat kegiatannya diperhitungkan atas dasar seorang tokoh leluhur Pedukuhan Pondok Wonolelo yang bemama Ki Ageng Wonolelo, yang makamnya memang berada di Pedukuhan Pondok Wonolelo ini.

2) Tujuan Upacara

Upacara yang merupakan kelakukan atau tindakan simbolik manusia sehubungan dengan kepercayaan atau keyakinannya, adalah mempunyai maksud dan tujuan untuk menghindarkan din dan gangguan robjahat (Herusatoto, 1984). Dengan demikian maksud dan tujuan upacara adat yang diselenggarakan oleh warga masyarakat adalah untuk menghindarkan diri dan gangguan roh jahat dan mendapatkan perlindungan dan roh atau arwah leluhur. Untuk itulah upacara adat diselenggarakan.

Sehubungan dengan itu, maksud dan tujuan Upacara Saparan Wonolelo yang diselenggarakan oleh penduduk Padukuhan Pondok Wonolelo itu antara lain adalah :

a. Untuk mengenang kembali leluhur yang menurunkan mereka, terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo. Disamping itu juga mengenang jasa dan kebebasan Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam, khususnya di Pondok Wonolelo dan di daerah Yogyakarta bagian Utara pada umumnya.

b. Untuk mengumpulkan keturunan Ki Ageng Wonolelo yang tergabung dalam organisasi atau kelompok kekerabatan trah Ki Ageng Wonolelo yang tersebar di hampir seluruh kawasan Yogyakarta dan sekitamya.

c. Untuk mohon berkat-Nya agar masyarakat Pedukuhan Pondok Wonolelo dan keturunan Ki Ageng Wonolelo dijauhkan dan segala macam gangguan gaib yang sekiranya mendatangkan petaka bagi masyarakat.

Melalui upacara ihi keturunan Ki Ageng Wonolelo diberi hidup tenteram, bahagia, kesejahteraan, dan keselamatan dalam lindungan kebesaran-Nya.

Dan maksud dan tujuan diselenggarakannya Upacara Caparan Wonolelo itu terutama di

kalangan kaum muda keturunan Ki Ageng Wonolelo agar dapat mewarisi "nilai-nilai" ajaran Ki Ageng Wonolelo yang besar dan luhur lewat agama Islam.

3) Cerita Mitos Upacara

Sehubungan dengan tokoh Ki Ageng Wonolelo ini, sehingga dijadikan pusat perhitungan yang menurunkan orang-orang penduduk di Pondok Wonolelo dan sekaligus dijadikan pusat perhitungan Upacara Saparan Wonolelo, dapat dikemukakan adanya cerita yang dituturkan oleh penduduk setempat. Kisah tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut:

"Ki Ageng Wonolelo sebenarnya masih keturunan langsung dari Prabu Brawijaya V, raja Majapahit yang terakhir. Prabu Brawijaya V berputra 111 orang, yaitu 60 orang laki-laki dan 5I orang perempuan. Salah satu diantara 60 orang putra laki-laki itu adalah. Pangeran Bracakngilo.

Pada waktu kerajaan Majahapit mulai terdesak oleh kerajaan Demak (kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah) Prabu Brawijaya V memerintahkan kepada putra-putrinya agar pergi meninggalkan kerajaan untuk bertapa. Titah raja ini dilaksanakan dengan segenap putra-putrinya yang berjumlah 111 orang itu. Diantaranya Pangeran Bracakngilo yang disertai oleh Syeh Maulana Maghribi pergi berkelana menuju ke arah Barat.

Dalam berkelana itu sampailah di salah satu pedukuhan, yaitu Pedukuhan Karangio yang konon dalam kisah dituturkan termasuk wilayah Yogyakarta. Di Pedukuhan Karanglo ini Pangeran Bracakngilo bertempat tinggal agak lama, bahakn beliau mengganti namanya menjadi Ki Ageng Karanglo. Pada saat itu pula keadaan gunung Merapi selalu mengeluarkan lahar. Hal ini terlihat oleh Ki Ageng Karanglo dan dirasakan sangat mengkhawatirkan penduduk yang tinggal di sekitarnya.

Mengingat keadaan seperti itulah maka Ki Ageng Karanglo tergerak hatinya untuk menolong menyelamatkan penduduk yang tinggal di lereng gunung Merapi. Untuk itu Ki Ageng Karangio bersusah mencegah agar lahar yang keluar dari mulut kawah Merapi itu tidak mengalir ke arah Selatan. Agar penduduk benar-benar terhindar dari ancaman lahar Merapi, maka Ki Ageng Karanglo tinggal di Pedukuhan Turgo. Ternyata atas kebesaran-Nya usaha Ki Ageng Karanglo untuk menyelamatkan penduduk dari ancaman lahar Merapi itu berhasil. Oleh karenanya sejak saat itu Ki Ageng Karanglo disebut dengan nama Ki Ageng Turgo atau Syeh Jumadilkubro.

Dalam berkelana itu kemudian Syeh Jumadilkubro berputra 4 orang, yaitu 2 orang laki-laki dan 2 orang prempuan. Dua orang putra yang selalu tampil dalam kisah adalah Syeh Kaki dan Syeh Jimat.

Syeh Kaki kemudian berputra Ki Jumadigeno, sedang Syeh Jimat berputra Ki Berbak dan Ki Gunturgeni. Ki Jumadigeno itulah yang kemudian tinggal dan menetap di Pedukuhan Pondok Wonolelo yang sampai sekarang dikenal sebagai Ki Ageng Wonolelo. Dikisahkan juga mengapa nama itu kemudian disebut Pondok Wonolelo, menurut kisah itu nama "Wonolelo" dipakai karena pada waktu Ki Jumadigeno masih tinggal di Turgo, apabila beliau melihat ke arah Tenggara tampak adanya "wono" (hutan) yang "malelo" (jelas). Oleh karena itu Ki Jumadigeno kemudian datang ke hutan itu untuk mulai membukanya (babad alas).

Setelah hutan itu dibuka (dibabad) oleh Ki Jumadigeno dijadikan sebagai tempat tinggalnya dan diberi nama "Wonolelo". Nama Ki Jumaditenopun diganti menjadi Ki Ageng Wonolelo. Di tempat yang baru ini Ki Ageng Wonolelo mulai menjalankan tugasnya untuk menyebarkan ajaran agama Islam, dan muridnya makin lama makin banyak. Untuk menampungmurid-muridnya didirikanlah pondok, sehingga sampai sekarang tempat ini dikenal sebagai Pondok Wonolelo.

Demikianlah cerita mitos tentang asal-usul Ki Ageng Wonolelo yang diakui oleh penduduk setempat sebagai leluhur mereka. Untuk menghormati jasa dan kebesaran Ki Ageng Wonolelo, oleh penduduk Pondok Wonolelo pada setiap bulan Sapar (salah satu bulan Jawa) diadakan upacara yang sampai sekarang masih berlangsung dengan sebutan "Upacara Saparan Wonolelo".

Dalam cerita di atas disebutkan pula bahwa Ki Ageng Wonolelo mempunyai hubungan kekerabatan dengan Ki Ageng Gribig atau Wasibagena Alit yang dimakamkan di Jatinom wilayah Kabupaten Klaten (Jawa Tengah). Ki Ageng Gribig atau Wasibagena Alit ini adalah putra Bandara Putih atau Ki Ageng Giri III. Adapun Bandara Putih ini adalah putra Jaka Dolog dan Jaka Dolog adalah putra Prabu Brawijaya V raja terakhir kerajaan Majapahit. Dengan demikian antara Wasibagena Alit dengan Ki Ageng Wonolelo sama-sama keturunan Prabu Brawijaya V.

Disamping keduanya mempunyai hubungan kekerabatan, juga bersaudara dalam satu perguruan, karena mereka sama-sama berguru pada Syeh Jumadilkubro yang dalam urutan silsilah adalah kakak Ki Jumadigeno atau Ki Ageng Wonolelo sendiri. Setelah selesai berguru, mereka diperintahkan oleh guru mereka untuk menyebarkan ilmu pengetahuan yang telah mereka peroleh. Oleh sebab itu mereka kemudian pergi mengembara sampai ke Pedukuhan Wonogiri dekat Pakem Kabupaten Sleman. D

ari Pakem ini pengembaraan mereka lanjutkan sampai ke suatu tempat yang disebut Wonolelo. Di temptt inilah Ki Jumadigeno lalu membuka (babad) hutan dengan benda pusakanya yang bertuah. Sebelum peker)aan membuka hutan itu selesai, mereka berdua pergi bertapa ke Wonogiri (wilayah Surakarta, Jawa Tengah). Setelah selesai bertapa Ki Jumadigena kembali dan menetap di Pondok Wonolelo, sedang Wasibagena Alit lalu bertapa di bawah pohon jati yang masih muda (Jatinom) yang terietak di wilayah

Kabupaten Klaten. Selanjutnya tempat ini sekarang disebut Jatinom (sebagai nama salah satu kecamatan). Di daerah ini Ki Wasigabena Alit lebih dikenal dengan sebutan Ki Ageng Gribig, dan sampai meninggalnya ia tinggal serta dimakamkan di Jatinom.

Pada masa Ki Ageng Gribig dan Ki Ageng Wonolelo hidup, mereka berada dalam jaman kerajaan Mataram, yang waktu itu diperintah oleh Sultan Agung Anyokrokusuma. Oleh Sultan Agung kedua bersaudara ini diutus untuk menaklukkan kerajaan Palembang karena tidak mengakui kedaulatan Mataram. Ternyata ugas tersebut dapat mereka laksanakan dengan baik, Palembang dapat ditaklukkan. Selama hayat kedua tokoh ini menyebarkan ilmu yang dimiliki di tempat masing-masing. Ki Wasibagena Alit atau Ki Ageng Gribig di Jatinom (Klaten) dan Ki Jumadigena atau Ki Ageng Wonolelo di Pondok Wonolelo, Widadamartani, Ngemplak, Sleman.

4) Komponen Upacara

- Waktu dan Tempat Upacara

Secara keseluruhan penyelenggaraan Upacara Saparan Wonolelo di Pedukuhan Pondok Wonolelo, tetapi menurut acara yang tersusun pusat penyelenggaraan upacara dilakukan di dua tempat, yaitu di rumah kepala desa Widadamartani (yang kebetulan juga keturunan Ki Ageng Wonolelo) di Pondok Wonolelo (di rumah ini tersimpan salah satu pusaka Ki Ageng Wonolelo), dan tempat yang kedua yaitu di kompleks makam Ki Ageng Wonolelo.

Di rumah kepala desa Widadamartani digunakan sebagai tempat untuk mempersiapkan barisan yang akan membawa (ngarak) pusaka Ki Ageng Wonolelo dan tempat untuk menyelenggarakan tahillan. Di tempat ini pula dikumpulkan semua pusaka Ki Ageng Wonolelo yang akan diarak atau dibawa ke makam Ki Ageng Wonolelo. Makam Ki Ageng Wonolelo dianggap sebagai tempat keramat atau sakral. Hal mudah dapat dimengerti, karena makam (kuburan) dibayangkan sebagai tempat di mana orang yang paling mudah berhubungan dengan arwah nenek-rnoyang (Koentjaraningrat, 1977).

Di makam Ki Ageng Wonolelo ini diselenggarakan upacara penghormatan terhadap Ki Ageng Wonolelo oleh anggota trah Ki Ageng Wonolelo yang diikuti pula oleh para peziarah.

Upacara penghormatan ini diisi dengan tabur bunga (nyekar). Upacara di makam Ki Ageng Wonolelo ini diakhiri dengan pembagian apem kepada ketunman Ki Ageng Wonolelo dan para peziarah lainnya. Mendahului seluruh rangkaian upacara di makam Ki Ageng Wonolelo ini adalah pembacaan riwayat singkat Ki Ageng Wonolelo.

Dari segi waktu, Upacara Saparan Wonolelo dilaksanakan satu kali dalam setiap tahun, yaitu jatuh pada bulan Jawa "Sapar". Menurut keterangan salah seorang anggota trah Ki Ageng Wonolelo, hari pelaksanaan upacara ini adalah Kamis pahing malam Jum'at Pon, sebelum bulan Pumama. Menurut riwayat, dasar yang dipakai untuk menentukan waktu penyelenggaraan upacara adalah ilham yang dahulu pernah diterima oleh Lurah Purwowidodo ketika sedang bersemedi. Tradisi ini sudah berlangsung sejak 1969.

- Penyelenggaraan Upacara

Penyelenggaraan Upacara Saparan Wonolelo secara teknis dilakukan oleh keturunan Ki Ageng Wonolelo yang tergabung dalam trah Ki Ageng Wonolelo. Akan tetapi dalam pelaksanaan operasionalnya diserahkan kepada suatu panitia, yang dibentuk dan terdiri dari anggota trah Ki Ageng Wonolelo. Melalui panitia inilah pelaksanaan penyelenggaraan upacara dapat berjalan lancar dan teratur.

Khusus tentang pelaksanaan puncak upacara yakni ngarak pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo diserahkan kepada Kepala Dukuh Pondok Wonolelo dan Juru Kunci makam Ki Ageng Wonolelo. Dalam pelaksanaan upacara Kepala Dukuh memimpin "tahlilan", yang diselenggarakan sebelum pengarakan pusaka. Kemudian yang memimpin upacara di makam adalah Juru Kunci. Tugas Juru Kunci di sini mengatur para peziarah yang akan caos atau "memberikan makanan" kepada Ki Ageng Wonolelo. Bahkan di sini ia berlaku sebagai perantara yang menyampaikan hajat mereka kepada Ki Ageng Wonolelo melalui doa-doa yang diucapkan sang Juru Kunci.

Sementara itu, berkenaan dengan dana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan upacara ini pada dasarnya dikumpulkan dan swadaya warga masyarakat Pondok Wonolelo, sumbangan dari para anggota trah Ki Ageng Wonolelo, dan pada perkembangan belakang ini dana juga diperoleh dari donatur perorangan dan perusahaan-perusahaan serta sumbangan dari instansi pemerintah yang terkait, seperti Pemda Tingkat II Sleman.

Dalam penyelenggaraannya, upacara ini melibatkan beberapa individu terutama yang merasa keturunan Ki Ageng Wonolelo dan yang tergabung dalam trah Ki Ageng Wonolelo. Pihak anggota trah inilah yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan Upacara Saparan Wonolelo, sebab mereka inilah yang mempunyai kepentingan langsung atas terselenggaranya upacara tersebut.

Disamping anggota trah Ki Ageng Wonolelo, warga masyarakat lain di Pedukuhan Pondok Wonolelo, warga masyarakat di Desa Widadamartani, bahkan warga masyarakat di luar desa ikut berpartisipasi dalam upacara tersebut. Adapun kemungkinan tujuan kedatangan orang dari luar daerah antara lain : (1) hanya akan melihat bagaimana upacara itu berlangsung, (2) untuk berziarah ke makam Ki Ageng Wonolelo guna mendapatkan berkahnya, dan (3) sambil berziarah juga ingin melihat keramaian pembagian apem dan berusaha mendapatkan apem tersebut.

Untuk melancarkan penyelenggaraan upacara ini terlibat pula pihak pemerintah Kecamatan Ngemplak dan Desa Widadamartani dan juga terutaina Pedukuhan Pondok Wonolelo. Keterbitan pihak pemerintah setemapt itu wajar, mengingat bagaimana penyelenggaraan Upacara Saparan Wonolelo ini merupakan upacara tradisional yang memberkian ciri-ciri adat istiadat budaya masyarakat setempat. Untuk itulah maka wajar kalau pihak pemerintah setempat melibatkan diri dalam penyelenggaraan ini.

- Peralatan dan Sesaji

Diantara pusaka-pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo tersebut, dalam Upacara Saparan Wonolelo yang diselenggarakan hanya dapat ditampilkan empat pusaka, yaitu : (1) Kyai Gondhil, (2) Kitab Suci AI-Qur'an, (3) Kopyah, dan (4) Cupu (potongan mustaka masjid).

Sementara itu, pusaka Kyai Bandhil dan teken (tongkat) telah musnah. Keempat pusaka yang masih ada, tersimpan dan dirawat oleh anggota trah Ki Ageng Wonolelo yang dianggap mampu dan sanggup (kuwat kanggonan), seperti kopyah disimpan keturunan Ki Ageng Wonolelo yang tinggal di Umbulmartani, AI-Qur'an di Sambirejo-Kalasan, cupu di Cangkringan, dan Kyai Gondhil di Pondok Wonolelo. Setahun sekali dalam Upacara Saparan, pusaka-pusaka itu dikumpulkan di Pondok untuk diarak ke makam Ki Ageng Wonolelo.

Perlengkapan lain yang perlu dipersiapkan adalah oli, yaitu sebanyak jumlah pusaka yang diarak. Joli ini adalah bangunan mirip rumah joglo dalam ukuran kecil yang digunakan untuk menempatkan pusaka yang akan diarak. Joli ini baru digunakan dalam Upacara Saparan sejak tahun 1985. Perlengkapan lainnya lagi adalah saji-sajian yang disertakan dalam tahlilan, antara lain nasi tumpeng, ketan-kolak, apem, ingkung ayam, dan gelas minuman teh, dan lain - lain yang semuanya diletakkan di atas meja. Sajian lainnya yang disertakan adalah pisang raja dan bunga-bungaan serta kemenyan.

Di antara kelengkapan sajian yang harus ada, apem merupakan sajian pokok yang tidak boleh ditinggalkan. Apem ini dibuat dari tepung beras yang cara memasaknya dengan digoreng. Untuk menimbulkan rasa manis tepung beras yang sudah dicampur air secukupnya, dicampur dengan gula Jawa (gula kelapa). Apem ini tidak saja panitia yang membuat, tetapi seluruh penduduk Pedukuhan Pondok Wonolelo juga membuat, yaitu dengan cara gotong-royong melalui kelompok masing-masing. Setelah apem jadi, diserahkan kepada panitia yang bertugas untuk menerima apem. Apam inilah yang memberikan ciri khas Upacara Saparan Wonolelo.

Kalau disimak, adanya apem sebagai unsur penting dalam Upacara Saparan, temyata dilatarbelakangi oleh cerita yang ada di kalangan penduduk yakni sebagai berikut :

"Pada waktu sawah-sawah di wilayah Pedukuhan Pondok Wonolelo terserang hama tikus, semua hasil tanaman gagal dipanen. Hal ini menjadikan keprihatinan penduduk setempat. Peristiwa ini terdengar sampai ke Jatinom-Klaten, yaitu daerah dimana Ki Ageng Gribig dimakamkan, termasuk Juru Kunci makam Jatinom. Sehubungan dengan berita itu timbul niat Juru Kunci untuk menolong saudara - saudaranya di Pondok Wonolelo yang sedang kesulitan pangan.

Oleh karena itulah ia kemudian pergi ke Pondok Wonolelo. Kepergiannya ke Pondok Wonolelo itu dengan membawa kue apem. Apem yang dibawa itu hanya satu, dan sesampai di Pondok Wonolelo Juru Kunci Jatinom ini langsung menemui mertua Kepala Desa Widadamartani yang menyimpan Kyai Gondhil. pakaian pusaka Ki Ageng Wonolelo. Di rumah mertua Kepala Desa Widadamartani, Juru Kunci makarn Jatinom itu menyerahkan kue apem yang dibawa. Kemudian ia berpesan agar apem tersebut diratakan ke seluruh tanah persawahan yang sedang terkena wabah hama tikus. Setelah Juru Kunci makarn Jatinom pergi, kue apem tadi dipotong menjadi empat sama besar. Jumlah potongan apem ini disesuaikan dengan jumlah bendungan air yang mengairi tanah persawahan Pondok Wonolelo. Setiap potong apem tadi ditaruh pada masing-masing bendungan air.

Hal ini dimaksudkan agar tuah terkandung pada apem tadi dapat terbawa oleh aliran air dan menyebar secara merata ke sawah-sawah yang terkena aliran air. Ternyata berkat tuah apem itu hilanglah hama tikus. Dengan demikian penduduk kembali dapat menanami sawahnya dan dengan panen yang mengembirakan. ltulah sebabnya penduduk Pondok Wonolelo dalam mewujudkan terima kasihnya dan rasa kegembiraannya maka mengadakan semacam syukuran. Syukuran ini diadakan pada bulan Jawa Sapar. Perwujudan rasa syukur itu dilanjutkan sampai sekarang, yaitu setiap tahun sekali tetap dalam bulan Sapar, tepatnya setiap hari Jum'at kedua. Dalam penyelenggaraan upacara syukuran itu juga tetap disertai kue apem sekaligus sebagai tanda untuk mengingat bahwa karena apem ini maka penduduk Wonolelo terbebas dan kesulitan hidup (kegagalan panen)".

Demikianlah riwayat asal mula penyelenggaraan Upacara Saparan Wonolelo yang selalu menyertakan apem di dalamnya. Dalam hal ini memang ada hubungan antara Saparan di Pondok Wonolelo dengan Saparan di Jatinom-Klaten (Yokowiyu), yaitu sama-sama menyertakan apem sebagai bagian penting di dalamnya. Hal tersebut juga dilatarbelakangi oleh adanya hubungan antara Ki Ageng Wonolelo (di Pondok Wonolelo) dengan Ki Ageng Gribig (di Jatinom-Klaten), dan ada anggapan bahwa kedudukan Ki Ageng Wonolelo lebih tua daripada Ki Ageng Gribig, sehingga pelaksanaan upacaranyapun di Wonolelo lebih dahulu satu minggu baru kemudian di Jatinom.

b) Jalannya Upacara

Dalam Upacara Saparan Wonolelo tidak dikenal adanya tahapan upacara, hanya saja dapat dikemukakan bahwa dalam rangkaian penyelenggaraan Upacara Saparan Wonolelo ini diatur melalui tahap-tahap tertentu, yakni tahapan sebagai pertanda bahwa Upacara Saparan Wonolelo itu dimulai sampai dengan berakhirnya. Adapun tahapan upacara itu adalah sebagai berikut:

- Tahap yang menandai dimulainya upacara, yaitu "tahlilan". Tahlilan ini diikuti oleh beberapa orang laki-laki yang beipakaian kejawen (kain, baju surjan / peranakan, dan blangkon) yang mewakili atau sebagai utusan dan kelompok-kelompok yang ada di Pedukuhan Pondok Wonolelo.

- Tahap penyerahan pusaka Ki Ageng Wonolelo di makam. Pihak yang menerima pusaka adalah Juru Kunci makam Ki Ageng Wonolelo.

- Tahap pembacaan riwayat singkat Ki Ageng Wonolelo oleh salah seorang keturunan yang ditunjuk oleh trah Ki Ageng Wonolelo.

- Tahap tabur bunga (nyekar) di makam Ki Ageng Wonolelo dan Nyi Ageng Wonolelo yang dilakukan oleh seluruh keturunan Ki Ageng Wonolelo yang kemudian diikuti oleh para peziarah lainnya.

- Tahap membawa kembali pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo ke tempat semula.

- Tahap pembagian apem yang dilakukan oleh trah Ki Ageng Wonolelo kepada para peziarah.

Selanjutnya diadakan wungon (tidak tidur) sampai saat subuh tiba, baik oleh trah Ki Ageng Wonolelo maupun para peziarah lainnya.

Dalam penyelenggaraan Upacara Saparan Wonolelo ini hal-hal yang perlu dipersiapkan agar lancar pada waktu melaksanakannya (pengurus) anggota trah Ki Ageng Wonolelo, selalu membicarakan segala sesuatu yang perlu diadakan guna melengkapi upacara yang akan dilaksanakan nanti. Biasanya untuk mengurus segala kepentingan penyelenggaraan upacara oleh sesepuh trah Ki Ageng Wonolelo dibentuk panitia penyelenggara. Mereka inilah yang nantinya bertanggung jawab terhadap terselenggaranya Upacara Saparan Wonolelo, sejak dari awal sampai dengan selesainya upacara.

Adapun perlengkapan yang perlu dipersiapkan adalah pengumpulan pusaka-pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo, yang digunakan Ki Ageng Wonolelo pada waktu menunaikan tugasnya untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di belahan Utara daerah Yogyakarta, khususnya di Pondok Wonolelo. Pusaka-pusaka itu tidak tersimpan menjadi satu, tetapi disimpan terpencar oleh keturunan Ki Ageng Wonolelo, yang dianggap mampu dan kuat menyimpan pusaka tersebut. Demikianlah pusaka itu tersimpan di Pondok Wonolelo, Sambirejo-Kalasan, Argomulyo, dan Cangkringan.

Menurut keterangan salah seorang anggota trah, Ki Ageng Wonolelo mempunyai pusaka-pusaka yang ditinggal kepada keturunannya, yang meliputi bentuk-bentuk sebagai benkut:

1. Baju atau Kutang Ontrokusurno yang disebut "Gondhil".

2. Bandhil, yang berupa tali yang konon menurut riwayatnya digunakan Ki Ageng Wonolelo pada waktu babad alas (membuka hutan) yang sekarang disebut Pondok Wonolelo. Menurut keterangan sementara anggota trah Ki Ageng Wonolelo, pusaka Bandhil ini nurco (hilang), katanya menjadi mustaka masjid Jatinom. Hilangnya bandhil ini bersamaan dengan lenyapnya masjid Ki Ageng Wonolelo.

3. Kitab Suci AI-Qur'an, kitab suci ini ditulis tangan dan yang melakukan adalah Ki Ageng Wonolelo sendiri.

4. Sempalan mustaka masjid yang dulu didirikan Ki Ageng Wonolelo. Menurut penduduk setempat sempalan mustaka masjid ini disebut "cupu".

5. Kopyah, yang digunakan Ki Ageng Wonolelo pada waktu mendapat tugas dari Sultan Agung di Mataram untuk menaklukkan kerajaan Palembang. Dengan kopyah ini Ki Ageng Wonolelo dapat dengan mudah menaklukkan kerajaan Palembang.

Konon riwayat yang dituturkan prajurit kerajaan Palembang lari pontang-panting

pada waktu Ki Ageng Wonolelo memiringkan kopyah di kepalanya.

6. Teken (tongkat), yang digunakan Ki Ageng Wonolelo pada waktu menyebarkan agama Islam di Pondok Wonolelo. Menurut riwayat khasiat teken ini kalau ditancapkan di tanah dapat mengeluarkan air. Hal ini pemah dilakukan Ki Ageng Wonolelo pada waktu menolong penduduk di salah satu daerah yang kekurangan air. Namun menurut keterangan pusaka teken ini sekarang sudah tidak ada lagi, tidak ada orang yang tahu di mana tempatnya.

Untuk melacak asal-usul benda-benda pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo itu, dapat diikuti hikayat yang ada di kalangan penduduk yang isinya sebagai berikut :

"Seperti telah dikemukakan di atas, sebelum menetap di Pondok Wonolelo tempat tinggal Ki Ageng Wonolelo selalu berpindah-pindah. Menurut hikayat itu beliau pernah tinggal di Desa Karanglo, kemudian pindah ke Desa Turgo di sebelah Selatan gunung Merapi. Dan Turgo Ki Ageng Wonolelo, yang waktu itu bemama Ki Ageng Turgo pergi menuju ke arah Selatan sampai di Desa Wonogiri, yang letaknya di sebelah Utara Pakem. Seterusnya berjalan lagi lebih ke Selatan sampai Desa Pakem sekarang.

Dan Pakem Ki Ageng melanjutkan perjalanannya ke arah Tenggara sampai di Desa Klancingan sekarang. Di situ, yakni di Desa Klancingan Ki Ageng Wonolelo duduk beristirahat, tongkatnya ditancapkan di tanah di dekat tempat duduknya. Setelah rasa capeknya hilang beliau menuju ke arah pohon japlak, yang kebetulan tumbuh di dekat tempat beliau beristirahat.

Ki Ageng Wonolelo lalu mengumpulkan daun-daunan dan pohon japlak tadi, kemudian diatur sedemikian rupa sehingga menjadi lebar dan menyerupai selembar kain. Susunan daun japlak itu dibuat pakaian yang menyerupai ontrakusuma (baju rompi tokoh wayang Gatutkaca). Pakaian ini selalu dikenakan oleh Ki Ageng Wonolelo dan dijadikan pusaka yang disebut "Kyai Gondhil". Kecuali pakaian Kyai Gondhil yang dibuat dari daun japlak, Ki Ageng Wonolelo juga mengambil serat dari pohon japlak itu. Serat-serat itu diatur sedemikian juga sehingga menjadi ikat pinggang yang digunakan Ki Ageng Wonolelo. Ikat pinggang itu berbentuk tali dan diberi nama "Kyai Bandhil". Ikat pinggang inipun dianggap sebagai pusaka Ki Ageng Wonolelo.

Dari pohon japlak itu pula Ki Ageng Wonolelo mengumpulkan bunga-bungaan dan diatur sedemikian rupa sehingga menjadi topi atau kopyah. Kopyah inipun dijadikan pusaka oleh Ki Ageng Wonolelo. Ketiga pusaka yang dibuat dari pohon japlak itu, yakni Kyai Gondhil (pakaian), Kyai Bandhil (ikat pinggang), dan Kopyah selalu dikenakan Ki Ageng Wonolelo ke manapun pergi untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Islam.

Sedangkan tongkat yang ditancapkan Ki Ageng Wonolelo tadi tumbuh menjadi pohon mangga yang mempunyai keanehan, yaitu apabila ada bunyi petir daunnya tumbuh lebar hijau wamanya dan buahnyapun banyak, tetapi sebaliknya apabila tidak ada bunyi petir daunnya sedikit berwarna merah dan buahnyapun jarang.

Selanjutnya perjalanan Ki Ageng Wonolelo menuju ke arah Timur Laut dan sampailah di sebelah Barat Desa Balong. Di tempat ini Ki Ageng Wonolelo membuat kolam dan menancapkan tonggak untuk menggantungkan siwur (gayung air yang terbuat dari tempurung kelapa). Siwur ini digunakan untuk mengambil air kolam apabila hendak wudhu. la hanya beberapa waktu saja tinggal di Desa Balong, sebab dari desa ini ia melanjutkan perjalanan ke Desa Lengki.

Sementara itu tonggak yang digunakan untuk menggantungkan siwur itu setelah ditinggalkan Ki Ageng Wonolelo tumbuh menjadi pohon mangga. Konon dalam hikayat itu pohon mangga ini mati bersama-sama dengan pohon mangga di Desa Klancingan. Pada waktu berada di Lengki, Ki Ageng Wonolelo lalu bersemedi. Dari semedinya ini beliau memperoleh ilham yang berisi "kilengna kekarepanmu", sesudah itu Ki Ageng Wonolelo melepas bandhilnya dan terus berputar-putar hingga mengenai pohon-pohon dan batu-batu yang ada di sekeliling beliau berdiri. Di sinilah beliau mulai babad alas (membuka hutan) dengan alat bandhil-nya.

Oleh karena kesaktian beliau, tempat-tempat atau bagian hutan yang terkena bandhil-nya, baik berupa pohon-pohon maupun batu-batu besar, dalam waktu singkat telah hancur dan berubah menjadi tanah datar yang terbuka luas, yang dapat diusahakan sebagai lahan pertanian.

Selanjutnya dan Lengki, Ki Ageng Wonolelo meneruskan perjalanannya sampai ke Desa Pandak. Di sini beliau membuat kolam untuk wudhu, masjid, dan rumah untuk tempat tinggal, karena di rumah ini Ki Ageng Wonolelo memberikan ajaran agama Islam dan murid-muridnya banyak dan ikut tidur di rumah ini (mondhoK), maka kemudian tempat ini dikenal dengan sebutan Pondok Wonolelo yang seterusnya diambil sebagai nama pedukuhan setempat hingga sekarang.

Sekarang ini kolam yang dibuat Ki Ageng Wonolelo masih ada bekasnya yang berupa tanah cekung yang sudah tidak berair dan ditumbuhi oleh tanaman nanas.

Sedangkan masjidnya sudah tidak ada. hanya diperkirakan bahwa bekas bangunan masjid ini terletak di sebelah Utara kolam. Yang masih tersisa dan bangunan masjid itu adalah sepotong kayu bekas andheh masjid yang sekarang tersimpan di bekas tempat tinggal Ki Ageng Wonolelo.

Menurut keterangan, setelah masjid itu rusak kerangka bangunannya dipindahkan ke Jatinom, kecuali potongan andheh tadi. Kemudian bekas rumah tempat tinggal Ki Ageng Wonolelo masih utuh sampai sekarang. Hanya dindingnya diganti dengan dinding batu, hal ini dimaksudkan untuk tetap menjaga keutuhan dan kelestarian kerangka rumah yang menurut keterangan masih "asli" dan "utuh".

Demikianlah isi hikayat yang menuturkan asal mula benda-benda pusaka Ki Ageng Wonolelo, yaitu Kyai Gondhil, Kyai Bandhil, kopyah, token (tongkat), AI-Qur'an (yang ditulis tangan pada waktu mengajarkan agama Islam di Pondok Wonolelo), dan cupu (potongan mustaka masjid yang didirikan Ki Ageng Wonolelo). Hal ini juga dianggap pusaka adalah rumah tempat tinggal Ki Ageng Wonolelo, tanah bekas bangunan masjid, dan kolam atau blumbang yang digunakan Ki Ageng Wonolelo untuk wudhu.

Setelah semua peralatan dan kebutuhan upacara selesai dipersiapkan, maka upacara mengarak pusaka Ki Ageng Wonolelo dimulai. Jalannya upacara dimulai dengan acara pertemuan diantara para pejabat setempat, yakni dan pejabat-pejabat pemerintah di tingkat kelurahan setempat, kecamatan, dan kabupaten (Sleman) dengan para keturunan Ki Ageng Wonolelo dan juga para peziarah. A

cara pertemuan itu bertempat di tempat tinggal Kepala Desa Widadamartani, karena di tempat ini tersimpan salah satu pusaka Ki Ageng Wonolelo, yaitu Kyai Gondhil yang dikenakan Ki Ageng Wonolelo pada waktu babad alas (membuka hutan) Wonolelo.

Setelah acara pertemuan itu selesai, kemudian dipersiapkan pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo, yaitu Kyai Gondhil, Kopyah, AI-Qur'an, dan Cupu (potongan mustaka masjid).

Masing-masing pusaka ini dimasukkan ke dalam joli-joli yang telah disiapkan pula sebelumnya. Joli-joli yang berisi pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo ini masing-masing dipikul oleh empat orang laki-laki yang kesemuanya mengenakan pakaian peranakan, seperti abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Sekitar pukul 17.00 adalah saat diberangkatkannya arak-arakan (iring-iringan) pembawa pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo dan rumah Kepala Desa Widadamartani menuju ke makam. Susunan barisan pembawa pusaka itu adalah sebagai berikut :

1. Paling depan adalah kelompok putri.

2. Barisan putri domas dengan mengenakan kebaya seragam berwama biru dan yang membawa bunga-bungaan.

3. Di belakang putri domas adalah barisan prajurit lengkap dengan senjata tombaknya.

4. Joli-joli di dalamnya ditaruh pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo, dengan urutan paling depan Kyai Gondhil, disusul Kopyah, Kitab Suci AI-Qur'an, dan paling belakang Cupu (potongan mustaka masjid Ki Ageng Wonolelo).

5. Di belakang barisan joli-joli adalah barisan anak-cucu keturunan Ki Ageng Wonolelo.

6. Barisan paling akhir adalah para peziarah.

Apabila segala sesuatunya sudah selesai diatur, maka iring-iringan itu diberangkatkan dari rumah Kepala Desa Widadamartani menuju ke makam Ki Ageng Wonolelo. Jarak tempuh kedua lokasi itu adalah sekitar 1,5 km. Di sepanjang jalan menuju makam itu banyak pengunjung yang berdiri di sisi-sisi jalan untuk menyaksikan pusaka-pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo. Mereka selain ingin tahu, juga ingin ngalab bekah (memperoleh berkat).

Sesampainya di kompleks makam, iring-iringan berjalan pelan memasuki halaman makam dan terus menuju ke makam Ki Ageng Wonolelo. Yang masuk adalah barisan putri domas, sedangkan barisan prajurit tidak masuk tetapi hanya duduk bersimpuh di luar bangunan (cungkup) makam.

Setelah barisan prajurit pengiring mendekati makam disusul barisan pembawa joli-joli berisi pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo. Pusaka-pusaka ini selanjutnya disemayamkan di dekat makam. Pusaka yang pertama kali dimasukkan ke dekat makam adalah Kyai Gondhil, kemudian Kopyah, disusul Kitab Suci Al Qur'an, dan terakhir Cupu. Pihak yang berkewajiban menerima pusaka dari pimpinan rombongan pembawa pusaka adalah Juru Kunci makam Ki Ageng Wonolelo.

Di makam Ki Ageng Wonolelo upacara dimulai dengan pembacaan riwayat singkat Ki Ageng Wonolelo oleh salah seorang kerabat keturunan Ki Ageng Wonolelo. Setelah pembacaan itu selesai, dilakukan dengan upacara tabur bunga atau nyekar. Tabur bunga ini dilakukan oleh semua kerabat keturunan Ki Ageng Wonolelo yang kemudian disusul oleh para peziarah lainnya secara bergantian.

Puncak acara Saparan yang berupa arak-arakan pusaka Ki Ageng Wonolelo di Pondok Wonolelo ini adalah pembagian kue apem kepada para peziarah atau kepada siapa saja yang minta apem tersebut. pembagian apem ini dilakukan setelah pusaka-pusaka tadi dibawa kembali ke rumah Kepala Desa Widadamartani oleh barisan pengarak pusaka. Dengan telah dikembalikannya pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo ke tempat semula dan dengan berakhirnya pembagian apem, maka secara prinsip berakhir pula seluruh rangkaian Upacara Saparan Wonolelo.

c) Makna Simbol Upacara

Setiap kegiatan keagamaan seperti upacara dan selamatan mempunyai makna dan tujuan yang diwujudkan melalui simbol-simbol atau lambang-lambang yang terkandung dalam upacara dan selamatan itu. Simbol-simbol ini wujud konkretaya antara lain seperti bahasa dan benda-benda yang menggambarkan latar belakang, maksud dan tujuan upacara itu dan bisajuga lambang ini diwujudkan dalam bentuk makanan-makanan, yang dalam selamatan adalah sesaji atau sajen.

Simbol-simbol ini dalam upacara yang diselenggarakan berperan sebagai media untuk menunjukkan secara semu maksud dan tujuan upacara yang dilakukan oleh individu-individu pendukungnya. Di balik simbol-simbol itu adalah petunjuk-petunjuk leluhur yang harus dan wajib dilaksanakan oleh anak-cucu keturunannya. Di balik simbol-simbol itu pula terkandung misi luhur untuk mempertahankan nilai budaya dengan cara melestarikannya. Selain simbol-simbol yang digunakan dalam pelaksanaan upacara itu menggambarkan pemyataan bersama dan individu-individu dalam melakukan hubungan secara pribadi di antara mereka, dan yang melembaga dalam wujud "nilai normatif".

Dari kalimat ini jalan ditunjukkan pula bahwa simbol-simbol yang dibawa dalam upacara itu merupakan gambaran hubungan antara individu-individu secara pribadi yang dilembagakan sebagai norma yang dinilai tinggi, norma yang harus dihormati bersama. Sebab norma ini merupakan konsensus bersama dari sebagian besar warga masyarakat yang dinyatakan sebagai pedoman tingkah laku warga masyarakat.

Demikianlah Upacara Saparan Wonolelo, yang kalau diamati memang mempunya makna yang luhur. Makna yang luhur dan yang terkandung dalam upacara ini tersirat melalui simbol-simbol yang diwujudkan dalam bentuk peralatan upacara seperti pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo yang digunakan pada waktu Ki Ageng Wonolelo babad alas (membuka hutan) Wonolelo dan menyebarkan agama Islam di daerah Wonosobo, pisang raja dan apem yang dibagikan atau disebarkan kepada masyarakat luas.

Pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo yang terdiri dari Kyai Gondhil, pakaian yang selalu dikenakan Ki Ageng Wonolelo pada waktu babad alas dan menyebarkan ajaran agama Islam, Kopyah, yang dikenakan Ki Ageng Wonolelo pada waktu ditulis Sultan Agung Hanyokrokusumo menaklukkan kerajaan Palembang, kitab suci AI-Qur'an yang ditulis sendiri oleh Ki Ageng Wonolelo dalam usahanya menyebarkan agama Islam, Cupu atau potongan mustaka masjid Ki Ageng Wonolelo kesemuanya merupakan simbol kebesaran dan keagungan Ki Ageng Wonolelo dalam memberikan landasan hidup bagi manusia khususnya umat Islam pengikut dan keturunan Ki Ageng Wonolelo.

Melalui pusaka-pusaka yang diarak ini hendaknya manusia menyadari akan asal-usulnya terutama bagi keturunan Ki Ageng Wonolelo. Disamping itu juga agar manusia menyadari akan asal-usul atau sangkon paraning dumadi, juga hendaknya keturunannya mewarisi apa-apa yang telah diperbuat Ki Ageng Wonolelo untuk kepentingan hidup manusia. Pewarisan nilai-nilai ajaran Ki Ageng Wonolelo hendaknya ditularkan kepada mereka yang memerlukan dan yang membutuhkan pertolongan.

Pisang raja {gedhang raja) melambangkan bahwa adanya harapan atau himbauan anak cucu Ki Ageng Wonolelo di mana saja berada selalu memperoleh perlindungan-Nya, rahmat- Nya dan berkat-Nya selalu hidup berbahagia dan pangkat atau kedudukan layak dalam hidup bermasyarakat. Melalui amal dan perbuatan Ki Ageng Wonolelo hendaknya Yang Maha Kuasa melimpabkan berkat-Nya agar keturunan Ki Ageng Wonolelo selalu hidup tenteram.

Apem yang juga disertakan sebagai kelengkapan dalam upacara ini melambangkan perlindungan atau pengayoman leluhur kepada keturunannya. Maksudnya keturunan itu agar terhindar dan segala macam gangguan gaib dan selalu memperoleh keselamatan, ketenteraman dan bahagia dalam hidupnya. Hal ini sebenarnya dialami sendiri oleh kaum kerabat keturunan Ki Ageng Wonolelo yang tinggal di Pondok Wonolelo, yaitu pada waktu mereka mengalami masa mengalami masa paceklik karena sawah mereka terserang hama tikus. Namun berkat apem yang dibawa dan Jatinom-Klaten, maka hama tikus itu hilang dan sawahnya menjadi subur, yang seterusnya membawa kemakmuran penduduk Pondok Wonolelo yang keturunan Ki Ageng Wonolelo.

Disamping lambang-lambang atau simbol-simbol tadi dalam Upacara Saparan pengendalian arakan pusaka Ki Ageng Wonolelo ini juga disertakan tumpeng robyong dan bunga-bungaan sebagaimana lazimnya kelengkapan upacara dan selamatan lainnya. Pada umumnya tumpeng robyong ini melambangkan manifestasi yang menggambarkan hidup manusia yang tidak lepas dan kosmologinya. Tumpeng robyong ini juga menggambarkan menyatunya manusia (kawula) dengan Yang Maha Kuasa {Gusti) yang menciptakan manusia, alam, dan seisinya. L

ambang tumpeng ini memberikan kesan hendaknya manusia selalu ingat kepada Gusti Yang Maha Kuasa dan yang memberi hidup bagi manusia dan jagad seisinya untuk hidup manusia itu sendiri. Adapun bunga-bungaan yang disertakan pula dalam upacara ini adalah memberikan simbol keharuman Ki Ageng Wonolelo yang dalam perjuangannya selalu ditujukan untuk kepentingan manusia. lbarat tiada cacat usaha Ki Ageng Wonolelo ini untuk berbuat baik sesuai dengan tuntutan ajaran agama yang dianutnya, yaitu Islam. Budinya yang luhur hendaknya dapat diwarisi oleh keturunannya. Demikianlah harum wanginya bunga-bunga ini menandakan budi Ki Ageng Wonolelo yang mempunyai nilai luhur.

Demikianlah makna yang terkandung dalam simbol-simbol upacara. Barangkali hal ini dapat diterapkan dalam suasana masyarakat Indonesia yang sedang membangun, terutama dalam pembangunan di bidang spiritual yang membangun untuk bangsa yang bertanggung jawab dalam segala tindakan dan perbuatan. Dengan watak yang bertanggung jawab ini diharapkan cita-cita bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat segera terwujud.

d) Perubahan

Dalam kaitannya dengan komponen upacara, secara prinsip dapat dikatakan babwa tidak mengalami perubahan yang berarti. Hanya saja khusus mengenai pihak-pihak yang terlibat, belakangan ini pihak pemerintah ikut melibatkan diri dalam penyelenggaraan upacara.

Dengan demikian keterlibatan pihak pemerintah ini berakibat lebih lanjut pada proses! Atau jalannya upacara. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa tiap-tiap tahun Upacara Saparan Pondok Wonolelo mengalami peningkatan, baik menyangkut peserta upacara maupun para pengunjung. Khusus menyangkut peningkatan jumlah pengunjung ini, dapat dikemukakan bahwa pada Upacara Saparan 1000 karena begitu banyaknya jumlah pengunjung yang memadati jalan masuk yang menuju ke makam Ki Ageng Wonolelo, maka barisan kirab mengalami kesulitan untuk masuk ke kompleks makam sehingga sesaji nasi udhuk dan gunungan apem sudah dijarah oleh massa. Akibat lebih jauh adalah selain prosesi kirab itu gagal masuk ke makam, juga para ulama menjadi tidak kebagian makanan yang terjarah tadi.

[Dinas kebudayaan DIY]

1 komentar:

  1. INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT



    INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT



    INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT


    BalasHapus