Jujur, Jajar lan Jejer Manembah Gusti Ilahi

Duk Djaman Semono, Kandjeng Edjang Boeyoet Ing Klero nate paring wewarah,".. Djoedjoer Lahir Bathin Berboedi Bowo Leksono Adedhasar Loehoering Agomo, Djedjer Welas Asih Sasamoning Titah Adedhasar Jiwo Kaoetaman Lan Roso Kamanoengsan, Lan Djadjar Manoenggal Wajibing Patrap Bebrayan Agoeng Adedhasar Endahing Tepo Salira Manembah Ngarsaning Goesti Allah Ingkang Moho Toenggal, Ngrenggo Tjiptaning Koesoema Djati Rila Adedharma Mrih Loehoering Bongso, Agomo, Boedoyo, Lan Sasamining Titahing Gesang Ing Ngalam Donya, Ikoe Lakoening Moekmin Sadjati.." [Wewaler KRT. Hasan Midaryo,1999]

Rabu, 07 Juli 2010

“KONFLIK POLITIK & SUKSESI DINASTI RAJA MATARAM ERA PANEMBAHAN HANYAKRAWATI, 1601-1613”

Suksesi kepemimpinan merupakan fenomena lumrah terjadi dalam dunia politik yang umumnya tidak disukai para penguasa manapun di dunia. Dan lazimnya, para pemimpin dituntut memainkan strategi politik mengidentifikasi peta kekuatan oposisi berikut segala prediksi kemungkinan terjadinya suatu konspirasi bahkan konflik politik didalamnya.

Bagaimanapun alotnya proses pergantian kekuasaan ditangguhkan, suksesi pasti terjadi pada sistim kekuasaan politik dan pemerintahan manapun. Maka, kepercayaan dan tuntutan rakyat akan suatu perubahan kondisi sosial berpengaruh pula sebagai suksesor para kandidat pemimpin.

Tulisan singkat ini sekedar akumulasi rasa penasaran menilik sejarah suksesi Dinasti Raja Mataram paska era Panembahan Senopati, Raja Mataram-I, dibalik lengser dan misteri wafatnya Raja Mataram-II, Raden Mas Jolang bergelar Panembahan Hanyakrawati dalam suatu “kecelakaan” saat pesiar berburu kijang di Hutan Krapyak pada 1 Oktober 1613?

Adakah suatu konspirasi politik dibalik misteri insiden Panembahan Seda Ing Krapyak itu? Terlebih aneh lagi, 4 hari setelah mangkatnya, Raden Mas Wuryah putra mahkota Panembahan Hanyakrawati naik tahta sebagai Raja Mataram-III bergelar Adipati Martapura yang berkuasa hanya sehari semalam, kemudian digantikan Raden Mas Rangsang sebagai Raja Mataram-IV bergelar Sulthan Agung Hanyakrawati? Ada apakah gerangan?


Antara Konflik Politik Kraton Dan Poligami


Babad Tanah Jawi mengisahkan, Raden Mas Jolang atau Panembahan Hanyakrawati adalah putra ke empat dari Panembahan Senapati dari Istri Permaisuri, Ratu Mas Waskita Jawi putri Ki Ageng Penjawi penguasa Pati. Pada 1600, Raden Mas Jolang di angkat jadi Adipati Anom oleh Panembahan Senopati dengan penugasannya menumpas pemberontakan Adipati Pragola dari Kadipaten Pati, atau adik kandung ibunya sendiri.

Pemberontakan ini dipicu gara-gara Panembahan Senapati berpoligami menikahi Retno Dumilah putri Adipati Madiun sebagai permaisuri kedua, yang membuat Pragola marah karena menilai kedudukan politis kakaknya, Ratu Mas Waskita Jawi akan tergeser. Maka, perang tanding Mataram dengan Pati itu tidak memunculkan kemenangan siapapun, hingga Panembahan Senopati gregetan turun tangan sendiri menumpas pembelotan Adipati Pragola.

Raden Mas Jolang naik tahta bergelar Panembahan Hanyakrawati Senopati Ing Alaga menggantikan Panembahan Senopati yang wafat pada 1601, dan memerintah Mataram selama 12 tahun pada 1601-1613. Raja Mataram ke dua itu memiliki dua istri parameswari, yakni : (1) Parameswari Ratu Kulon adalah Ratu Tulung Ayu berasal dari Ponorogo yang melahirkan Raden Mas Wuryah atau Adipati Martapura pada 1604, dan (2) Parameswari Ratu Wetan adalah Dyah Banowati bergelar Ratu Hadi putri Adipati Benawa dari Pajang yang melahirkan Raden Mas Rangsang bergelar Adipati Anom dan Ratu Pandansari (istri Pangeran Pekik Surabaya).

Sejak awal kekuasaannya, Panembahan Hanyakrawati harus menghadapi gencarnya pemberontakan (gerakan separatis) para penguasa taklukkan Panembahan Senopati di daerah koloni kekuasaan Mataram. Para penguasa daerah atau Adipati memandang Mataram telah lemah tanpa Panembahan Senopati, sehingga tepat waktu untuk memerdekakan diri lepas dari kekuasaan Mataram. Terlebih Panembahan Senapati menguasai Jawa dengan cara ekspansi militernya.

Pada 1602, Raden Mas Kejuron atau Pangeran Puger, adalah Adipati Demak yang mengawali pemberontakan melawan Mataram di wilayah utara Pegunungan Kendeng. Ironinya?, Pangeran Puger adalah kakak tiri Panembahan Hanyakrawati dari Istri selir Panembahan Senopati yang bernama Nyai Adisara.

Walhasil, Panembahan Hanyakrawati rela membagi wilayah utara Mataram tersebut pada kakak tirinya, namun Pangeran Puger masih memberontak didukung Adipati Gending dan Adipati Panjer menuntut wilayah Demak hingga ke Tambak Uwos, Jawa Timur. Agaknya, cita-cita mengembalikan kejayaan Demak dan Dinasti Majapahit di Jawa tak tercapai. Panembahan Hanyakrawati mengakhiri aksi pemberontakan tersebut dengan mengirim Tumenggung Suranata (Ki Gede Mestaka) pada 1605, dan Pangeran Puger disantrikan ke Kudus. [Babad Momana]

Menjelang akhir pemerintahan Panembahan Anyakrawati pada 1608, muncul lagi gerakan makar anti Mataram dipimpin Raden Mas Bathotot atau Pangeran Jayaraga yang ingin jadi Raja Jawa setelah diangkat Panembahan Hanyakrawati sebagai Adipati Ponorogo. Ternyata, masih ada lagi pengaruh tradisi poligami Panembahan Senopati dalam kasus makar Adipati Ponorogo ini? Pangeran Jayaraga adalah anak kesembilan Panembahan Senapati dengan istri selir dari Kajoran.

Berbeda pandangan politik dengan Pangeran Jayaraga, para bupati bawahan Adipati Ponorogo justru bergabung dengan Mataram, yakni Pangeran Rangga, Panji Wirabumi, Ngabehi Malang, dan Demang Nayahita. Walhasil, Panembahan Hanyakrawati segera mengutus Pangeran Pringgalaya dan Tumenggung Martalaya untuk mengakhiri pemberontakan di Ponorogo, akhir laskar Mataram unggul dan Pangeran Jayaraga kemudian diasingkan ke Masjid Watu, Pulau Nusa Kambangan.

Kedua pemberontakan yang terjadi di masa pemerintahan Panembahan Hanyakrawati dilakukan justru oleh saudaranya sendiri, mengindikasikan begitu besarnya konflik suksesi dalam dinasti Mataram. Konflik tersebut tampaknya timbul akibat adanya rasa tidak puas para pangeran muda terhadap keputusan Panembahan Senopati yang memilih Raden Mas Jolang sebagai penggantinya. Akibatnya, kenaikan tahta Raden Mas Jolang mendapat penolakan juga permusuhan dari saudara-saudaranya sendiri.

H.J. De Graaf, dalam karyanya berjudul Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, [terjemahan Pustaka Grafitipers & KITLV, Pustaka Grafitipers, Jakarta, 1990] menyebutkan bahwa lawan politik Panembahan Hanyakrawati yang terkuat adalah Kadipaten Surabaya. Sebuah dokumen VOC pada tahun 1620, menggambarkan Surabaya sebagai sebuah negara yang kuat dan kaya, luas wilayahnya kira-kira 37 km dikelilingi sebuah parit dan diperkuat dengan meriam.

Kadipaten Surabaya bahkan telah berhasil menguasai wilayah Kadipaten Pasuruan dan Blambangan untuk mengantisipasi ekspansi militer Mataram di ujung timur pulau Jawa itu. Terlebih lagi, Adipati Surabaya telah meluaskan wilayah ekonomi perniagaannya meliputi Pulau Bawean, Sukadana (Kalimantan Barat), Banjarmasin, Gresik, Lamongan, Tuban, dan Demak untuk menutup jalur perdagangan Mataram di daerah pesisir. Hal tersebut menunjukkan jika kekuasaan Surabaya setara dengan Mataram, terlebih Surabaya didukung para Adipati wilayah keturunan Dinasti Majapahit, trah Prabu Brawijaya.

Bukan darah Panembahan Senopati kalau tidak mewarisi DNA darah Raja Penakluk? Pada 1608, Raja Mataram memainkan strategi politik penaklukan Surabaya dengan terlebih dahulu melumpuhkan Demak, simbol terakhir Dinasti Majapahit di Jawa Tengah. Menurut Babad Sengkala, pada 1609 (1531 Jawa), Mataram melakukan serangan percobaan pertama perbatasan barat Surabaya untuk mengukur kekuatan Surabaya. Serangan kedua, diarahkan ke Lamongan pada 1612 (1534 Jawa) dibawah komando Adipati Martalaya. Serangan ketiga, pada 1613 (1535 Jawa) ke Gresik yang mengakibatkan daerah Tuban dan Pati takluk.

Selama tiga waktu tahun pada 1610-1613, Mataram telah berhasil membuat peta wilayah kekuatan militer Surabaya berikut tiitik-titik kelemahannya? Secara geografis, kondisi alam Surabaya dilindungi oleh rawa, hutan dan benteng pertahanan bekas kejayaan Majapahit, dan ternyata Mataram tidak menyerang Surabaya hingga Panembahan Hanyakrawati mangkat pada 1613. Namun, perekonomian Surabaya melemah akibat daerah-daerah penghasil lumbung padinya telah dikuasai Mataram.


Mangkatnya Panembahan Hanyakrawati Suatu Konspirasi Politik Dinasti?


Mataram, dibawah Panembahan Hanyakrawati selama 12 tahun dari 1801-1613 hanya sibuk repot mengurus berbagai pemberontakan saudara-saudaranya sendiri, nyaris tanpa sukses memperluas wilayah kekuasaannya. Dan ambisi kekuasaan berakhir seiring kematian sang Raja.

Dalam Serat Nitik Sultan Agung, Panembahan Hanyakrawati disebutkan wafat secara misterius pada malam Jum’at tanggal 1 Oktober 1613 (Babad Sengkala, 1535 Jawa). Penyebab kematian hingga kini tidak diketahui secara pasti, hanya dikisahkan, jika Panembahan Hanyakrawati meninggal karena kecelakaan akibat diserang banteng gila yang mengamuk sewaktu berburu kijang di Hutan Krapyak.

Apakah sedemikian lemah proteksi keamanan seorang Raja hingga tidak terlindungi bahkan tewas diseruduk seekor banteng gila? Adakah perwira prajurit yang bertanggungjawab dalam peristiwa tragis itu? Kisah banteng Alas Krapyak ngamuk ini?, kesannya mirip kisah Jaka Tingkir yang membunuh Kebo Danu yang menyerang Sultan Trenggono, hingga membuka jalan mulus baginya menuju suksesi kekuasaan Demak Bintoro pada era 1549-1582.

Sedangkan, Babad Tanah Jawi memberitakan jika Panembahan Hanyakrawati meninggal di Krapyak karena sakit parah, tanpa kejelasan apa penyakitnya? Sumber lain, Babad Mataram menyebutkan jika Panembahan Hanyakrawati tewas akibat diracun oleh Juru Taman Danalaya?, abdi kesayangan Raja sendiri! Abdi ini dikisahkan sering menimbulkan keonaran di lingkungan Kraton dengan menyamar menjadi Raja, sehingga menyesatkan para istri dan selir Raja? Kisah ini juga diintepretasikan dalam ”Suluk Wujil” berisikan wejangan mistik Kanjeng Sunan Bonang pada abdi kesayangan Raja Majapahit.

Bagaimanapun misteri kematian Raja pasti ada jawabannya,ya?
Sebelumnya, Panembahan Hanyakrawati bagai telah mendapat firasat, sehingga Raja Mataram itu memanggil para pangeran dan kerabat disaksikan oleh Adipati Mandaraka, Pangeran Purbaya, berkumpul dalam pisowanan di Pendopo Prabayaksa Kraton guna menerima wasiat agar Raden Mas Rangsang diangkat menjadi Raja Mataram jika ia mangkat!

Wasiat Panembahan Hanyakrawati tersebut didasarkan pada ramalan Panembahan Bayat, penasehat spiritual Kraton, yang menyatakan bahwa Raden Mas Rangsang akan membawa kejayaan bagi Kraton Mataram dengan menguasai seluruh Jawa. Namun, sebelum menerima ramalan itu, Raja Mataram itu sebelumnya justru telah berjanji bahwa Raden Mas Wuryah yang akan menggantikannya.

Keputusan Raja tersebut berkembang menjadi polemik karena janji politiknya sendiri pada yang akan mengangkat Raden Mas Wuryah putra Parameswari Ratu Kulon sebagai Raja Mataram, yang didukung pihak keluarga Adipati Ponorogo dan Adipati Mandarakara. Sebaliknya, Parameswari Ratu Wetan didukung keluarga Adipati Pajang dan Pangeran Purbaya juga menagih janji Panembahan Hanyakrawati yang menunjuk Raden Mas Rangsang sebagai penggantinya.

Meskipun, jika berdasar garis genealogy?, tentulah Raden Mas Wuryah sebagai anak sulung dari Istri Permaisuri pertama jelas lebih berhak menjadi Raja Mataram selanjutnya. Meninggalnya Panembahan Hanyakrawati memang terkesan terlalu cepat, mungkin juga terkait adanya konflik internal keluarga Kraton sendiri?


Penobatan Kenthol Ponorogo Sebagai Raja Sehari Mataram 1613


Raden Mas Wuryah, atau Raden Martapura [lahir di Kota Gedhe 1605, wafat di Magelang pada 1638] putra sulung Panembahan Hanyakrawati dari Parameswari-I Ratu Kulon sebagai putra mahkota akhirnya naik tahta menjadi Raja Mataram dengan gelar Adipati Martapura. Lalu mengapa Raja hanya bergelar Adipati? Raden Mas Wuryah di masa remajanya juga punya julukan ‘Kenthol Ponorogo’ (kemudian menjadi Panembahan Kejoran), dan adik kandungnya, Raden Mas Cakra dijuluki ‘Kenthol Kuning’ (kemudian menjadi Panembahan Bayat).

Data lain, Serat Nitik Sultan Agung menyatakan yang seharusnya jadi putra mahkota justru Raden Mas Rangsang karena usianya lebih tua dari Raden Mas Wuryah, juga sebagai putra tertua Panembahan Hanyakrawati dengan Parameswari-II Ratu Adi dari Pajang.

Pengangkatan Raden Mas Martapura sebagai pejabat putra mahkota guna menghindari kekosongan pemerintahan Mataram, karena Raden Mas Rangsang sedang bepergian jauh (tidak dijelaskan kemana?). Sebagai putra sepuh di antara para pangeran, maka Raden Mas Martapura dianggap berhak mengisi kedudukan Raja didasarkan pada paugeran Kraton Jawa, bahwa putra mahkota adalah putra tertua Raja dengan Parameswari-I.

Sedangkan, kedudukan Parameswari-I dan Parameswari-II dapat digeser sesuai dengan kehendak Raja yang berkuasa. Menurut H. J. De Graaf, Raden Mas Martapura yang usianya jauh lebih muda ditunjuk menjadi putra mahkota karena terlahir ketika ayahnya sudah menjadi raja. Sedangkan, Raden Mas Rangsang lahir ketika ayahnya belum menjadi raja, bahkan belum ditunjuk menjadi putra mahkota. Hal ini dapat dilihat dari umur kedua putra raja tersebut saat Panembahan Anyakrawati meninggal? Raden Mas Martapura berumur 8 tahun, sedangkan Raden Mas Rangsang sudah berumur 20 tahun.

Dalam Babad Sengkala dikisahkan, setelah 4 hari Mangkatnya Raja, pada Senin pagi tanggal 4 Oktober 1613, Raden Mas Martapura dinobatkan jadi Raja Mataram bergelar Panembahan Adipati Martapura oleh Adipati Mandaraka dan Pangeran Purbaya, rakyat Mataram menyambut suka-ria di Alun-alun Kraton. Dan sore harinya, Raja Baru dimohon mengadakan perjamuan rapat agung yang memuat saran Adipati Mandaraka agar Raja Baru turun tahta dan menyerahkan tahta kepada kakaknya, yaitu Raden Mas Rangsang berdasarkan pesan almarhum ayahnya.

Kemudian, Panembahan Adipati Martapura turun tahta dengan alih alasan sakit kurang ingatan? Babad Tanah Jawi memberitakan, jika pemindahan hak atas tahta itu didasari alasan Raden Mas Martapura menderita sakit ingatan musiman dan suka memakan makhluk yang masih hidup. Keadaan itupula menyebabkan Raden Mas Martapura dianggap tidak layak dan tidak mampu untuk memerintah Mataram, sekalipun ada Wali Negara. Raden Mas Martapura meninggal dunia pada tahun 1638 setelah mengabdikan diri sebagai Raden Santri di Gunung Pring, Muntilan, Magelang. Bagaimanapun hanya Raja yang punya otoritas politis tentukan siapa penggantinya?


Penutup


Suksesi kekuasaan ditambah polemik dinasti akibat poligami memang selalu gayeng jika dibahas, tidak di masa lalu, masa kini, atau bahkan yang niscaya terjadi di masa depan? Politik Jawa punya idiom Lengser Keprabon, Madhed Pandito, termuat makna filosofis jika seorang tidak lagi berkuasa, maka dia berdiri tegak sebagai Begawan atau negarawan yang agamis. Lain dulu lain sekarang. Seiring perubahan zaman, kisah para Raja Mataram tinggal sejarah dan berevolusi dalam bentuk peradaban dan martabat bangsa yang lebih tinggi dan mulia, menyatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di bawah kepemimpinan Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, bangsa Indonesia terus mereformasi diri berkembang maju dalam proses kebangsaan dan kenegaraan yang demokratis, berbasis dinamika politik yang Pancasilais.

Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia dengan keragaman suku, bahasa, budaya, dan kearifan lokalnya tetap hidup berdampingan, rukun dan bersatu (unity in diversity, harmony in diversity). Di negeri tercinta ini, eksistensi kemajemukan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang wajib dipelihara dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, semua elemen bangsa diakui dan di ayomi dengan berpegang teguh pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika untuk selamanya. Dengan semboyan itu pula nusantara, di era Majapahit pernah disatukan oleh Patih Gajah Mada. Dengan mengedepankan moral dan budaya politik bangsa yang demokratis, demi kelangsungan generasi masa depan Indonesia yang belum terlahir! Sebagai pewaris sejarah bangsa Indonesia, kita dapat belajar dari sejarah masa lalu dan berdharma bhakti bersama demi perubahan masa depan NKRI yang lebih Makmur dan Jaya dibawah Perlindungan Tuhan Yang Maha Esa !!


@Ismu Pagu Al Daly, Akhir Juli 2010 di Pinggir Kali Ciliwung, Batawi Kidul.


Referensi Pustaka :


Graaf, H. J. De dan Pigeaud, Th. G. Th., Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram terjemahan Pustaka Grafitipers dan KITLV, Pustaka Grafitipers, Jakarta, 1989.
Graaf, H. J. De, Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, terjemahan Pustaka Grafitipers dan KITLV, Pustaka Grafitipers, Jakarta, 1990.
Purwadi, Sultan Agung: Harmoni antara Agama dengan Negara, Media Abadi, Yogyakarta, 2004
Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900: Dari Emporium sampai Imperium Jilid I, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992.
Soemarsaid Moertono, Negara dan Usaha Bina Negara di Jawa Masa Lampau: Studi tentang Masa Mataram II Abad XVI – XIX, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1985.
Sudibdjo, Z. H., Babad Tanah Jawi, Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1980.

10 komentar:

  1. rangkaian cerita yang sangat bagus catatan sejarah yang penuh tanda tanya ??? bade tanglet sorosilahipun Ratu Tulung ayu saking ponorogo wonten punapa mboten njeh denmas??..matur suwun sampun di paringaken piwucal engkang sae tentang sejarah..Banun cah'angon pancaarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

      KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


      KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

      Hapus
  2. Administrator Blog Trah Panembahan Wongsopati, menjawab pertanyaan dari Administrator INDONESIA tertanggal 27 Februari 2011, Raka Mas Banun Panca Arga, tentang silsilah Ratu Tulung Ayu dari Kadipaten Ponorogo.
    Babad Tanah Jawi mengisahkan, Raden Mas Jolang atau Panembahan Hanyakrawati adalah putra ke empat dari Panembahan Senapati dari Istri Permaisuri, Ratu Mas Waskita Jawi putri Ki Ageng Penjawi penguasa Pati. Dan setelah wafat, bergelar Panembahan Seda Krapyak.
    Pada tahun 1600, Raden Mas Jolang di angkat jadi Adipati Anom oleh Panembahan Senopati, dan setelah naik tahta sebagai penguasa Mataram bergelar Panembahan Hanyakrawati Senopati Ing Alaga menggantikan Panembahan Senopati yang wafat pada 1601, dan memerintah Mataram selama 12 tahun pada 1601-1613.
    Raja Mataram ke dua itu memiliki dua istri atau Garwa Parameswari, yakni : (1) Parameswari Ratu Kulon adalah Ratu Tulung Ayu (Raden Rara Lungayu) berasal dari Ponorogo yang melahirkan Raden Mas Wuryah atau Adipati Martapura pada 1604. Dan, (2) Parameswari Ratu Wetan adalah Dyah Banowati bergelar Ratu Hadi putri Adipati Benawa dari Pajang yang melahirkan Raden Mas Rangsang bergelar Adipati Anom dan Ratu Pandansari (istri Pangeran Pekik Surabaya).
    Raden Mas Jolang yang bergelar Panembahan Hanyakrawati Senopati Ing Alaga yang bertahta di Mataram sejak tahun 1601-1613, mempunyai isteri pertama yang berasal dari Tulung Agung Kadipaten Ponorogo yang bernama Ratu Tulung Ayu, dan bergelar Parameswari Ratu Kulon adalah Ratu Tulung.

    BalasHapus
  3. Kemudian berdasarkan Babad Ponorogo, bahwa Ratu Tulung Ayu adalah puteri dari Adipati Tulung Agung di Kadipaten Ponorogo, atau Trah Bathara Katong. Pada tahun 1604, Ratu Tulung Ayu yang melahirkan putera pertamanya yang diberi nama Raden Mas Wuryah, kemudian bergelar Adipati Martapura. Pangeran Adipati Martapura, lahir di Kota Gede, Kesultanan Mataram tahun 1605 dan wafat di Magelang tahun 1688. Raden Wuryah adalah raja urutan ke-tiga Kesultanan Mataram yang memerintah hanya satu hari pada tahun 1613, karena menderita tuna grahita akibat terkena racun (upas). Dia umumnya tidak dianggap Sultan Mataram yang ke-tiga yang resmi karena hanya memerintah sehari sebelum digantikan oleh adiknya, Raden Mas Rangsang.
    Rupanya, kedekatan Adipati Mertopuro dengan para ulama dan lingkungan kauman atau pesantren menjadikan beberapa Penasehat Kerajaan tidak suka dan menganggap hal itu sebagai ancaman bagi kedaulatan Mataram di masa depan. Terlebih, karena Raden Mas Wuryah atau Adipati Mertopuro itu merupakan putra pertama Sunan Seda Ing Krapyak. Artinya, Raden Mas Wuryah tetap berkandidat menjadi Raja Mataram?
    Namun, Raden Mas Wuryah yang berdarah Panembahan Ageng Ponorogo itu rupanya justru lebih gandrung dengan dunia keagamaan dan kemasyarakatan, terlebih setelah pendengarannya terkena racun hingga menjadi kurang pendengaran tidak menjadikannya kehilangan cintanya pada ajaran Islam. Setelah ia meninggalkan lingkungan kerajaan Mataram dan hidup menyepi dengan para santri di Selarong, timbullah Padhepokan Selarong. Kemudian, Raden Mas Wuryah berganti nama menjadi Pangeran Selarong-I yang menurunkan Trah Kyai Selarong dan Trah Kyai Krapyak di Yogyakarta.

    BalasHapus
  4. Setelah Raden Wuryah diturunkan dari tahta pada tahun 1613, kemudian Raden Wuryah menyepi untuk memperdalam agama Islam ke lingkungan Kauman di Pesantren Kyai Raden Santri yang berada di Gunung Pring Magelang.
    Dan selanjutnya, hingga wafatnya dikenal sebagai Raden Mas Santri yang dipusarakan di area Makam Pangeran Singorasi bin Ki Ageng Pemanahan yang bergelar Kyai Raden Santri (Paman, atau saudara Panembahan Senopati) di Gunung Pring, atau Gunung Santri Magelang. Paska lengsernya Raden Wuryah dari tahta Mataram, maka kemudian atas saran Patih Mandaraka (Juru Martani) dan Pangeran Purbaya diangkatlah Raden Mas Rangsang sebagai Raja Mataram untuk meneruskan kepemimpinan ayahnya, Panembahan Hanyakrawati. Mas Rangsang atau Sultan Agung merupakan raja keempat dari kerajaaan Mataram Islam yang memerintah pada 1613-1646 (de Graff, 2002:28).

    BalasHapus
  5. Peristiwa lain adalah pembunuhan Pangeran Selarong-I, Pangeran Selarong-I atau gelar Raden Mas Wuryah setelah lengser keprabon, sebagai akibat imbas suksesi antara Putri Lungayu dari Ponorogo dengan Grawa Selir. Karena Pangeran Selarong-I dituduh oleh beberapa bangsawan Kraton telah menggunakan racun Anglung Upas, maka Pangeran Selarong-I wafat setelah dieksekusi oleh telik sandh ayahnya sendiri di Desa Bareng, Kuwel (dekat Delanggu) pada tahun 1669, kemudian dipusarakan secara rahasia di Gunung Pring Magelang. Peristiwa itu ditulis dalam Sedjarah Dalem, Babad Momana, Babad Tanah Jawi dan catatan atau laporan Van Goens kepada Gubernur Jendral di Batavia.

    Untuk mengetahui bagaimana silsilah keturunan dari Ratu Tulung Ayu yang berada di Ponorogo, seyogyanya Panjenengan berziarah ke Makam Kyai Naib Kalangbret yang bernama Raden Mas Witono (masih Trah Sunan Tembayat Klaten dari jalur nasab Bapak dan Trah Ratu Tulung Ayu dari jalur nasab ibu), yang dipusarakan di Pemakaman dekat areal Masjid Kauman Kalangbret (Kedung Waru) Tulung Agung, Ponorogo.
    Selain itu, silahkan juga Panjenegan juga dapat bersilaturahim dan berziarah ke Makam Ki Demang Wonoketro di Wonoketro, Ponorogo dan ke makam Ki Demang Joresan di Joresan Ponorogo, keduanya merupakan para Imam di Masjid tertua setempat yang masih keturunan dari Ratu Tulung Ayu.

    Limo papat punjul enem, menawi lepat nyuwun pangapunten. Matur nuwun sanget Raka Mas Banun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah membaca artikel di atas timbul pertanyaan saya, apakah yang di makam pangeran singasari gunungpring itu adalah Adipati Martapura alias Raden Mas Santri ataukah memang ada dua orang di kompleks makam itu: 1. Raden Santri (Pangeran Singasari), 2. Raden Mas Santri (Adipati Martapura). Kalau jawabannya adalah dua orang, maka di mana makamnya Raden Mas Santri? Setahu saya di sana ada makam kuno selain Raden Santri yakni: Kyai Krapyak 2,Mbah Kertonjani dan lainnya adalah sesudah jaman mereka berdua. Mohon penjelasan. Muh.Muslih. Mutihan Gunungpring Muntilan

      Hapus
    2. di kampung saya, ada satu makam eyang wiranagapati, yang menurut cerita adalah raden mas wuryah martapura yang melarikan diri diri dari hiruk pikuk kerajaan matara ke arah barat ( Tanah pasundan).

      Hapus
  6. aslkm....nuwonsewu apakah kisah di atas berkaitan dg keponakan tumenggung Endronoto yg jd selir raja mataram?

    BalasHapus
  7. Masukkan komentar Anda..bingung critane ms bro

    BalasHapus