Jujur, Jajar lan Jejer Manembah Gusti Ilahi

Duk Djaman Semono, Kandjeng Edjang Boeyoet Ing Klero nate paring wewarah,".. Djoedjoer Lahir Bathin Berboedi Bowo Leksono Adedhasar Loehoering Agomo, Djedjer Welas Asih Sasamoning Titah Adedhasar Jiwo Kaoetaman Lan Roso Kamanoengsan, Lan Djadjar Manoenggal Wajibing Patrap Bebrayan Agoeng Adedhasar Endahing Tepo Salira Manembah Ngarsaning Goesti Allah Ingkang Moho Toenggal, Ngrenggo Tjiptaning Koesoema Djati Rila Adedharma Mrih Loehoering Bongso, Agomo, Boedoyo, Lan Sasamining Titahing Gesang Ing Ngalam Donya, Ikoe Lakoening Moekmin Sadjati.." [Wewaler KRT. Hasan Midaryo,1999]

Senin, 22 Maret 2010

Bagiku, Eyang Kakung Adalah Pahlawan & Idolaku!



Mungkin tidak semua orang mengerti, memahami dan menghargai apa yang sedang aku upayakan untuk memonumentalisasikan sejarah para Pepundhenku, bagi no problem, its oke? Bagaimanapun Eyang Kakungku adalah seorang Pejuang Bangsa ketika melawan Belanda, jepang, kemudian NICA hingga masa Geger Gestapu, Beliau selalu berjuang dan berdharma bhakti memenuhi panggilan tugas dan kewajiban sebagai putera bangsa, ada medali bintang Prajaksa, namun sayang sekarang hilang entah kemana?

Ada beberapa kisah samar tentang penugasan Beliau dari di Prambanan, Wonosari, Paku Alaman, Kepatihan, hingga ke Bumi Ruwa Juray Lampung yang mempertemukan Beliau dengan Eyang Putri di daerah Pring Sewu Lampung? Selain Beliau juga pernah menjabat sebagai Camat beberapa kali di daerah Kulon Progo? Kemudian menjalani masa sepuh sebagai pensiunan Camat di Kalasan, Candi Sari, Sleman.

Terkadang Beliau menikmati waktu luang untuk melukis dengan media konte, atau merawat koleksi burung-burung peliharaan, atau bermain akting dalam Paguyuban Seni Tradisional Kethoprak di beberapa tempat, terkadang membaca Tembang Macapat bersama sesama sahabat atau anak buah semasa bergabung di Brigade VII di zaman Pendudukan Belanda di Kota Jogjakarta?

begitu banyak kisah misteri dalam kesejarahan Eyang Kakung Hasan Midaryo, bahwa semasa kecil beliau harus menempuh perjalanan kaki dari Klero Prambanan hingga ke Krathon Surakarta Solo untuk sekolah di lingkungan para priyayi. Bahkan, ada kisah Eyang Kakung pernah melarikan diri dari lingkungan Krathon Mangkunegaran karena ada seorang Putri Raja yang jatuh cinta kepada Beliau. Karena merasa rendah diri dan perbedaan derajat sosial maka Eyang Kakung kemudian dikisahkan sempat menghilang mengasingkan diri. Atau kisah bahwa Eyang kakung semasa remajanya juga pernah diangkat sebagai anak angkat seorang pembesar Paku Alam dan tinggal di lingkungan para bangsawan Puro Paku Alaman hingga menuntut pendidikan kemiliteran.

Entah misteri apa lagi yang tersembunyi..
Aku ingin mengetahuinya, walau rasanya mustahil tapi tak menyurutkan tekad hati ini. Kepribadian Eyang Kakung demikian Aristokrat, Flamboyan, Pendiam, Berhati-hati dan Misterius. Masya Allah, mengenal jati diri Mbah Kakung adalah anugerah agung dari Gusti Allah bagiku! Mbah Kakung dan Mbah Putri telah mewariskan DNA Darah Terindah!

Aku kangeeeeeeeeen senyuman khas Mbah Kakung dikala duduk berdua mesra dengan Mbah Putri, minum teh berdua, nonton televisi berdua, masak di dapur berdua, its always make me feel so jealously hehehe You are Great true Love, Grand Fa? We Love You..

Limo papat rebo senen
menawi lepat njih nyuwun ngapunten

Saking pengagume Eyang Kalasan
Matur nuwun..

Ismu Daly

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar