Jujur, Jajar lan Jejer Manembah Gusti Ilahi

Duk Djaman Semono, Kandjeng Edjang Boeyoet Ing Klero nate paring wewarah,".. Djoedjoer Lahir Bathin Berboedi Bowo Leksono Adedhasar Loehoering Agomo, Djedjer Welas Asih Sasamoning Titah Adedhasar Jiwo Kaoetaman Lan Roso Kamanoengsan, Lan Djadjar Manoenggal Wajibing Patrap Bebrayan Agoeng Adedhasar Endahing Tepo Salira Manembah Ngarsaning Goesti Allah Ingkang Moho Toenggal, Ngrenggo Tjiptaning Koesoema Djati Rila Adedharma Mrih Loehoering Bongso, Agomo, Boedoyo, Lan Sasamining Titahing Gesang Ing Ngalam Donya, Ikoe Lakoening Moekmin Sadjati.." [Wewaler KRT. Hasan Midaryo,1999]

Rabu, 25 Agustus 2010

Ki Ageng Pengging [3]

RM. Damar Shasangka berkisah :

Keputusan resmi dari pemerintahan Demak Bintara mengenai status wilayah Pengging tidak juga kunjung turun. Ki Ageng Pengging enggan mempertanyakan hal tersebut. Walaupun sesungguhnya, beliau sudah resmi tidak menjabat sebagai seorang Adipati, namun pada kenyataannya, beliaulah yang tetap harus mengelola Pengging dan menjaga kawasan tersebut agar senantiasa kondusif.

Tentu saja, statusnya yang bukan Adipati, mempersulit bagi beliau untuk mengeluarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan baru dalam urusan ketata negaraan. Pengging ibarat wilayah tanpa penguasa. Pengging stagnan dalam segala bidang. Hanya penarikan upeti dan penyaluran ke pemerintah pusat saja yang terus berjalan. Selain itu, Pengging sudah tidak berarti apa-apa lagi.

Hampir semua para tamu yang masih terjaga, melihat cahaya itu. Yang tertidur cepat-cepat dibangunkan teman-teman mereka. Kejadian yang langka ini segera menyita perhatian semua yang tengah bersuka cita menyambut kelahiran Ki Mas Karebet. Semua tamu-pun sibuk memperkirakan, cahaya apa yang barusan terlihat. Sinarnya terang sedikit kebiru-biruan. Kepercayaan masyarakat Jawa menyebut cahaya itu ANDARU KILAT, atau cukup disebut NDARU. Suatu cahaya yang membawa ‘Wahyu Keprabhon’ atau tanda bahwa dimana kediaman orang yang kejatuhan ANDARU KILAT, sudah bisa dipastikan, kelak akan menjadi Penguasa Agung. Menjadi seorang Raja Besar!
Dalam kemiliteran, Pengging sama sekali sudah lumpuh. Pengging adalah wilayah terbuka tanpa perlindungan. Untung, Pengging tetap terkendali.

Kehidupan para penduduk Pengging tetap bersahaja. Para bekas prajurid Pengging yang kini turun ke sawah dan tidak lagi mendapatkan gaji resmi, masih tetap siap sedia mengangkat senjata jika Ki Ageng memerintahkan. Pengging bagai wilayah tak bertuan.

Ki Ageng Tingkir, yang mendengar kabar tersebut, bertandang ke Pengging. Beliau menanyakan maksud keputusan Ki Ageng Pengging, adik iparnya. Dan Ki Ageng Pengging memberikan jawaban yang sejujurnya, bahwasanya ia sudah tidak mau lagi terlibat dengan urusan tetek bengek politik. Beliau lilo legowo, menerima, untuk sekedar menjadi wong cilik, asal hidup lebih tenang dan jauh dari keserakahan duniawi.

Namun, Ki Ageng Tingkir mengingatkan. Pada kenyataannya, kondisi yang dialami Ki Ageng Pengging sekarang jauh lebih sulit. Jelas, beliau bukan lagi Adipati. Namun tugas-tugas seorang Adipati masih harus beliau jalankan. Tanpa hak kewenangan mengeluarkan kebijaksanaan. Tanpa hak mempunyai kekuatan perlindungan wilayah. Tanpa hak gaji penuh dari hasil pajak. Sesungguhnya, Ki Ageng Pengging, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk lepas dari kegiatan perpolitikan. Pihak Demak rupa-rupanya sengaja membuat status Pengging menggantung seperti itu. Dan apakah kondisi seperti ini yang diinginkan ?

Ki Ageng Pengging terdiam. Dan Ki Ageng Tingkir menyarankan, apabila memang sudah mantap dengan keputusannya, seyogyanya, segera meminta kepada Sultan Demak untuk memberikan keputusan pasti mengenai Pengging. Dan itu berarti, Ki Ageng harus melayangkan surat ke pemerintah pusat. Atau kalau perlu, menghadap langsung Sultan Demak.

Dan Ki Ageng Pengging tampak enggan. Melihat keengganan di wajah adik iparnya, Ki Ageng Tingkir mengingatkan sekali lagi dengan nada agak keras :

“Jika memang dhimas masih menginginkan tahta, jangan setengah-setengah lagi. Ingat, kakang siap dibelakang dhimas!”

Dan Ki Ageng Tingkir mohon diri.

Dan itulah terakhir kali Ki Ageng Pengging melihat kakak iparnya. Dua bulan kemudian, Ki Ageng Tingkir wafat. Ki Ageng Tingkir sudah memeluk Islam. Manakala jenazah hendak dimandikan, Ki Ageng Pengging berbisik ditelinga kanan jenazah kakak iparnya :

“Kakang Tingkir, antinen sedhela maneh. Ingsun bakal nusul bebarengan nyabrang segara rahmat.”

(Kakang Tingkir, tunggulah sebentar lagi. Aku akan menyusulmu untuk bersama-sama mengarungi lautan Kasih.)

Kelahiran Ki Mas Karebet.

Istri Ki Ageng Pengging, yang sudah mengandung beberapa waktu lalu, sudah saatnya melahirkan. Kelahiran putra pertama Ki Ageng Pengging ini disambut gemuruh suka cita rakyat Pengging. Upacara kelahiran-pun digelar sangat meriah. Beberapa Pandhita Shiva Buddha datang tanpa diundang demi untuk memberikan doa-doa keselamatan. Hadir pula Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang. Mereka yang beragama Shiva Buddha dan Islam, bercampur, bersuka ria menyambut kelahiran putra Ki Ageng.

Pertunjukan Wayang Beber ( wayang yang diceritakan dengan cara membentangkan gambar. Beber artinya Bentang. Wayang Beber artinya Wayang yang dibentangkan : Damar Shashangka. ) digelar hingga tujuh malam.

Ki Ageng Pengging, memberikan nama Ki Mas Karebet kepada putranya. Karebet adalah nama lain dari Wayang Beber. Wayang Karebet sama artinya dengan Wayang Beber. ( Kelak, Ki Mas Karebet terkenal dengan nama Jaka Tingkir. Setelah berhasil menjadi Sultan Pajang, lantas bergelar Sultan Adiwijaya : Damar Shashangka. )

Pada malam ke tujuh, menjelang dini hari, manakala pertunjukan Wayang hamper usai, para tamu dikejutkan dengan jatuhnya seberkas cahaya dari langit menuju Dalem Agung. Cahaya yang sangat jelas itu meluncur dari atas langit, bergerak cepat, mengarah atap Dalem Agung dimana Ki Mas Karebet ada didalam sana. Dan Cahaya itu lenyap tepat setelah menyetuh atap. Para tamu geger!

Para Pandhita segera memerintahkan untuk segera merakit sesajen sebagai sarana pelaksanaan sembahyang syukur . Hyang Widdhi Wasa, telah memberikan kepercayaan besar kepada keturunan Ki Ageng Pengging kelak, untuk menjadi Raja Tanah Jawa!

Menjelang pagi hari, begitu pertunjukan Wayang Beber usai, upacara persembahyangan pun digelar! Mantram-mantram Weda terlantun syahdu pagi-pagi buta. Semua tamu yang beragama Shiva Buddha, ikut serta melaksanakan persembahyangan. Dupa mengepul. Merebak mewangi kesegenap penjuru. Suara genta Sang Pandhita berdenting-denting mengiringi ucaran-ucaran mantra.

Duta Demak Bintara.

Tiga tahun sudah berlalu. Dan tiga tahun sudah Ki Ageng Pengging harus mengelola Pengging tanpa status yang jelas. Mas Karebet, tumbuh menjadi bayi yang sehat dan montog. Kulitnya yang putih bersih, tubuhnya yang mungil dan tawanya yang menggemaskan, sangat-sangat menghibur Ki Ageng Pengging beserta istri beliau. Kehidupan Ki Ageng Pengging benar-benar bahagia. Hyang Widdhi melimpahkan kedamaian cinta kasih dalam keluarga beliau.

Namun, lain lagi situasi di Demak Bintara. Tenggang waktu yang diberikan Sultan Demak kepada Ki Ageng Pengging, telah sampai kepada batasnya. Sultan Demak merasa perlu untuk mengambil tindakan tegas. Ki Ageng Pengging, telah dianggap ‘mbalelo’ atau membangkang perintah Sultan!

Setelah menggelar siding dengan para pembesar Kesultanan. Sultan Demak segera mengirim utusan ke Giri Kedhaton, meminta restu Sunan Giri, pemimpin Dewan Wali Sangha, untuk memberi wewenang mengambil keputusan tegas kepada Ki Ageng Pengging. Dan, Dewan Wali merestuinya.

Pada hari yang dipilih, Sultan Demak mengutus Senapati Agung Demak Bintara, Sayyid Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus untuk menemui Ki Ageng Pengging. Perintah yang diberikan sangatlah tegas, yaitu memerintahkan Ki Ageng Pengging untuk menghadap ke Demak Bintara. Apabila tetap bersikukuh dengan keengganannya, maka Senapati Demak diberikan wewenang penuh untuk menyingkirkan Ki Ageng Pengging, yang sudah dianggap sebagai pembangkang!

Diiringi tujuh ratus prajurid pilihan Demak Bintara dengan persenjataan lengkap siap tempur, berangkatlah Sunan Kudus ke Pengging!

Tidak diceritakan dalam perjalanan, Sunan Kudus beserta prajurid pilihan Demak Bintara, akhirnya sampai diwilayah Pengging. Malam telah menjelang. Hal ini memang sudah direncanakan oleh Sunan Kudus, yaitu tiba di Pengging tepat malam hari. Setelah beristirahat sejenak, Sunan Kudus memerintahkan pasukan membagi empat kelompok. Masing-masing ditempatkan di keempat penjuru arah, mengepung Pengging! Seluruh prajurid segera bergerak menempati pos masing-masing. Pengging, dalam sekejap telah terkepung dari semua arah!

Namun, gerakan pasukan Demak ini diam-diam diketahui oleh beberapa masyarakat Pengging mantan prajurid. Secepatnya mereka menghubungi mantan Lurah Prajurid Pengging, melaporkan gerak pasukan tak dikenal yang terlihat telah mengepung wilayah Pengging! Mantan Lurah Pengging segera menghadap ke Dalem Agung.

Malam itu, Ki Ageng Pengging mendapat laporan dari mantan Lurah Prajurid Pengging, bahwasanya, wilayah Pengging, telah dikepung dari empat penjuru oleh sepasukan tak dikenal! Dan mantan Lurah Prajurid memperkirakan, mereka adalah pasukan dari Demak Bintara!

Mantan Lurah Prajurid memohon kepada Ki Ageng untuk memerintahkan sesuatu kepada mereka. Dan Ki Ageng memerintahkan agar tetap tenang. Beliau tidak mau ada pertumpahan darah. Yang diincar pasukan Demak adalah dirinya. Maka, Ki Ageng meyakinkan mereka, beliau akan menyelesaikan permasalahan ini secara damai. Namun, tidak ada salahnya para mantan prajurid Pengging disiagakan malam ini juga!

Mantan Lurah Pengging, mendengar jawaban Ki Ageng Pengging, segera bergegas mohon undur. Dengan menggunakan sandi suara burung malam tiruan, suara sandi prajurid Pengging dulu, mantan Lurah Pengging, memerintahkan beberapa orang yang kebetulan bersamanya untuk memberi peringatan tanda bahaya kepada segenap mantan prajurid yang kini tengah tertidur lelap dikediaman masing-masing!

Dari rumah kerumah, begitu mendengar bunyi sandi suara burung malam tiruan, para bekas prajurid Pengging terjaga! Kalaupun ada yg tidak terjaga saking lelapnya tertidur, istri maupun keluarga yang lain segera membangunkan mereka! Para mantan prajurid ini sudah terbiasa mendengar isyarat suara burung malam tiruan tersebut. Yaitu suara yang dibuat oleh beberapa prajurid untuk memperingatkan agar seluruh prajurid waspada dan siaga!

Disana-sini, diseluruh Pengging, para mantan prajurid seketika terbangunkan. Masing-masing segera mengenakan pakaian tempur dan mengambil senjata masing-masing yang sudah hampir tiga tahun tidak pernah mereka pergunakan lagi!

Kini, tinggal menunggu suara tersebut terdengar lagi. Jika kembali terdengar, maka pertanda, seluruh prajurid harus menempati pos mereka dahulu. Pos masing-masing. Namun, bunyi yang dinanti-nantikan, tidak juga kunjung terdengar. Para mantan prajurid Pengging, yang sudah siap sedia dirumah masing-masing, terjaga semalaman suntuk!!

(Inilah kejadian sesungguhnya yang terjadi waktu itu. Dalam Babad Tanah Jawa, hanya diceritakan, begitu Sunan Kudus dan bala tentara Demak tiba dipinggiran wilayah Pengging, mereka serta merta membunyikan gong Kyai Sima. Sima berarti Harimau. Dan bunyi gong tersebut menggema kesegenap wilayah Pengging pada malam hari itu juga, sehingga seluruh masyarakat Pengging tidak bisa tidur semalam suntuk karena ketakutan. Padahal yang dimaksud, bahwasanya kedatangan Sunan Kudus beserta pasukan Demak diwilayah Pengging, bagaikan seekor Harimau yang tengah mengincar mangsanya, yaitu Ki Ageng Pengging. Dan kedatangannya dimalam hari, sudah diketahui oleh para prajurid Pengging. Babad Tanah Jawa sendiri, ternyata juga mencoba merendahkan Pengging dengan cerita bernuansa mistis. : Damar Shashangka)

Dan, Sunan Kudus yang berpengalaman, juga telah menyadari bahwa kehadirannya beserta tentara Demak telah diketahui masyarakat Pengging. Seluruh pasukan Demak, melalui kurir-kurir khusus yang diutus dari pos ke pos lain, diperintahkan untuk siap tempur! Namun, dilarang menyerang dahulu apabila tidak diserang!

Seluruh Lurah Prajurid pemimpin pos, baik yang ada diutara, timur, selatan dan barat, setelah menerima pesan kurir, segera memerintahkan seluruh pasukan untuk siap tempur!! Busur dan anak panah telah terpasang! Senjata telah terhunus! Tinggal menunggu komando selanjutnya!!

Di Pihak Pengging, melihat gelagat pasukan asing yang dicurigai berasal dari Demak Bintara, ternyata juga mengambil sikap serupa! Para Lurah Prajurid Pengging, terus mengamati seluruh pasukan asing yang mengepung wilayah Pengging ini. Mereka memutuskan, tidak akan menyerang apabila mereka tidak diserang! Dan bunyi sandi suara burung malam tiruan, tidak juga segera terdengar lagi!!!

Kedua pihak, siap ditempat masing-masing. Tidak ada yang bergerak mendahului. Menanti perkembangan selanjutnya! Baik di pihak Demak maupun di pihak Pengging, semalam itu, suasana sangat mencekam!!

Menjelang pagi, Para Lurah Prajurid Pengging menemui Ki Ageng Pengging. Mereka meminta petunjuk selanjutnya. Dan Ki Ageng Pengging, mengutus seorang Lurah Prajurid beserta beberapa prajurid pilihan untuk menemui pemimpin pasukan yang mengepung wilayah beliau semenjak semalaman.

Seorang Lurah Prajurid Pengging, diiringi beberapa prajurid pilih tanding, segera menuju pos pasukan Demak terdekat. Mereka menemui Lurah Prajurid Demak yang kebetulan bertugas memimpin pos utara dan menyatakan ingin bertemu pemimpin pasukan Demak atas permintaan Ki Ageng Pengging. Lurah Pasukan Demak segera mengirim kurir ketempat mana Sunan Kudus berdiam diri. Sunan Kudus mengijinkan, dan Lurah Prajurid Pengging dengan pasukannya, diiringi beberapa pasukan Demak, segera menuju ke tempat Sunan Kudus. Lurah Prajurid Pengging, sekarang semakin yakin, bahwa pasukan yang tengah mengepung wilayah Pengging adalah benar-benar dari Demak Bintara!

Setelah bertemu muka dengan Sunan Kudus, Lurah Prajurid Pengging segera menanyakan maksud kedatangan Sunan Kudus diwilayah Pengging. Dan terang-terangan Sunan Kudus menjawab, dia diperintahkan oleh Sultan Demak untuk membawa Ki Ageng Pengging menghadap ke Demak!

Lurah Prajurid Pengging sedikit mengungkapkan ketidak senangannya dengan cara kedatangan pasukan Demak yang mengepung Pengging seperti itu. Seolah-olah, Pengging adalah wilayah pembangkang, pemberontak dan siap untuk dilumatkan!

Dan Sunan Kudus menjawab :

“Kalian hanya rakyat kecil. Ini urusan orang besar. Sudah jangan ikut campur. Antarkan aku menemui Ki Ageng Pengging!”

Walau dengan hati panas, Lurah Prajurid Pengging segera mengantarkan Sunan Kudus menemui Ki Ageng Pengging.

Pagi itu, Ki Ageng Pengging baru usai sembahyang. Masih tampak bunga segar terselip ditelinga kanannya. Lurah Prajurid Pengging yang diutus menemui pasukan Demak, menghadap. Dia melaporkan bahwa Sunan Kudus, Senapati Agung Demak Bintara, datang untuk bertemu dengan Ki Ageng Pengging pribadi.

Ki Ageng Pengging mempersilakan Senapati Agung Demak Bintara itu menemui beliau di Dalem Agung.

Sunan Kudus, diiringi beberapa prajurid Demak segera menuju Dalem Agung. Lantas, setelah dipersilakan masuk oleh Ki Ageng Pengging, Sunan Kudus-pun masuk ke bilik dalam. Prajurid pengiring dari Demak, menunggu diluar.

Ki Ageng Pengging, memerintahkan pelayan untuk mempersiapkan hidangan bagi Sunan Kudus dan beberapa prajurid Demak yang tengah berjaga-jaga diluar.

Didalam bilik Dalem Agung, Sunan Kudus kini duduk bersila, berhadap-hadapan dengan Ki Ageng Pengging. Setelah berbasa-basi sejenak, Ki Ageng Pengging segera menanyakan maksud kedatangan Sunan Kudus beserta pasukan Demak.

Sunan Kudus menegaskan, bahwasanya kedatangannya mengemban perintah Sultan Demak untuk membawa Ki Ageng Pengging menghadap ke Demak Bintara sesuai dengan tenggang waktu yang pernah diberikan oleh Sultan Demak melalui Ki Patih Wanasalam, tiga tahun yang lalu. Dan Sunan Kudus, tanpa basa-basi lagi menunjukkan surat perintah Sultan kehadapan Ki Ageng Pengging langsung!

Ki Ageng Pengging tersenyum. Beliau kembali menyatakan bahwa, sudah tidak ada perlunya beliau menghadap ke Demak. Karena semenjak tiga tahun lalu, beliau bukan siapa-siapa lagi. Beliau hanya sekedar orang desa, yang tengah menjalani kehidupan bersahaja, tidak ada kaitan sama sekali dengan perpolitikan Negara. Beliau hanyalah seorang pertapa biasa. Mengapakah Sultan Demak sangat-sangat berkepentingan dengan orang seperti dirinya? Seorang pertapa desa yang tidak ada keistimewaannya apapun.

Sunan Kudus meragukan kata-kata Ki Ageng Pengging. Sunan Kudus meminta bukti kalau memang Ki Ageng Pengging memang seorang pertapa biasa. Dan Sunan Kudus menantang berdebat tentang Ilmu Sejati dengan Ki Ageng Pengging.

Ki Ageng Pengging menerima tantangan tersebut.

Dan terjadilah Tanya jawab tentang Ilmu Sejati. Sunan Kudus melempar pertanyaan dan Ki Ageng Pengging menjawabnya. Dan jawaban-jawaban Ki Ageng Pengging, beberapakali sempat membuat Sunan Kudus terperangah.

Pada suatu kesempatan, Sunan Kudus melemparkan pertanyaan simbolik sebagai berikut :

Kalamun Ingsun kapanggih kalawan kekasihingwang,
Dadi Kawula pan mami,
Kalamun Ingsun kapisah kalawan kekasih mami,
Sun dadi Ratu,
Ratu Ratuning sabumi,
Ratu Angratoni Jagad.

(Manakala Ingsun ( Aku ) bertemu dengan kekasih-Ku,
Ingsun ( Aku ) menjadi Kawula ( Hamba ),
Manakala Ingsun ( Aku ) terpisah dengan kekasih-Ku,
Ingsun ( Aku ) menjadi Raja,
Raja Diraja seluruh bumi,
Raja Yang Merajai Jagad Raya. )

Siapakah Ingsun ( Aku ) dan siapakah kekasih-Ku ?

Ki Ageng Pengging tersenyum dan menjawab :

Ingsun ya Ingsun,
Datan ana roro telu,
Kasebut Hyang Paramashiwah, Hyang Sadashiwah lan Hyang Atma,
Telu-telune jatine Tunggal!

(Ingsun ( Aku ) adalah Ingsun ( Aku ),
Tiada lagi yang kedua maupun ketiga,
Disebut juga Hyang Paramashiva, Hyang Sadashiva dan Hyang Atma,
Ketiga-tiganya sesungguhnya adalah Satu!)

Kasebut ugi Allah, Rasul lan Mukhammad,
Telu-telune Tunggal uga!

(Disebut juga Allah, Rasul dan Mukhammad,
Ketiga-tiganya sesungguhnya adalah Satu juga!)

Kang ingaranan kekasihingwang,
Ya jisim ya suksma,
Yen Ingsun kapanggih kalawan jisim lan suksma,
Ingsun dadya Kawula,
Yen Ingsun kapisah kalawan jisim lan suksma,
Ingsun Pan dadya Ratu,
Ratu Ratuning Jagad,
Ya Brahman Ya Allah,
Tan liyan saking punika!

(Yang disebut kekasih-Ku,
Adalah Jasad dan Suksma,
Manakala Ingsun ( Aku ) bertemu dengan Jasad dan Suksma,
Ingsun ( Aku ) menjadi Kawula ( Hamba ),
Manakala Ingsun ( Aku ) terpisah dengan Jasad dan Suksma,
Ingsun ( Aku ) menjadi Raja,
Raja Diraja Semesta,
Ya Brahman Ya Allah,
Tiada lain dari itu!)

Sunan Kudus tersenyum mendengar jawaban Ki Ageng Pengging. Dan perdebatan semakin panas!


Bersambung ke bagian 4, tamat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar