Jujur, Jajar lan Jejer Manembah Gusti Ilahi

Duk Djaman Semono, Kandjeng Edjang Boeyoet Ing Klero nate paring wewarah,".. Djoedjoer Lahir Bathin Berboedi Bowo Leksono Adedhasar Loehoering Agomo, Djedjer Welas Asih Sasamoning Titah Adedhasar Jiwo Kaoetaman Lan Roso Kamanoengsan, Lan Djadjar Manoenggal Wajibing Patrap Bebrayan Agoeng Adedhasar Endahing Tepo Salira Manembah Ngarsaning Goesti Allah Ingkang Moho Toenggal, Ngrenggo Tjiptaning Koesoema Djati Rila Adedharma Mrih Loehoering Bongso, Agomo, Boedoyo, Lan Sasamining Titahing Gesang Ing Ngalam Donya, Ikoe Lakoening Moekmin Sadjati.." [Wewaler KRT. Hasan Midaryo,1999]

Rabu, 25 Agustus 2010

Makam Ki Ageng Pengging


Menengok 'Makam' Ayah Joko Tingkir

Pesarean Ki Ageng Pengging di Ngagel

Kota Surabaya merupakan tempat peristirahatan bagi Ki Ageng Pengging. Ki Ageng Pengging adalah ayah dari Mas Karebet alias Joko Tingkir atau yang lebih dikenal dengan Sultan Hadiwijaya, raja pertama Pajang.

Konon Ki Ageng Pengging yang bernama asli Ki Kebo Kenongo tersebut dimakamkan di Jalan Ngagel 87 Surabaya. Di komplek makam itu tidak ada papan nama, tertutup tembok setinggi 3,5 meter dan hanya ada satu pintu masuk yang sempit. Otomatis tidak banyak yang menyangka bahwa di balik tembok bercat putih itu bersemayam salah satu tokoh besar Jawa dan para pengikutnya.

Setidaknya hal itu diakui sendiri oleh pemilik komplek makam itu, Erwin Sosrokusumo (51). Erwin yang mengaku salah satu keturunan Ki Ageng Pengging itu mengatakan, komplek makam tersebut merupakan warisan turun temurun dari keluarganya.

Di komplek pemakaman seluas 30 x 30 meter persegi itu, Pesarean Ki Ageng Pengging yang juga salah seorang murid Syekh Siti Jenar itu terletak di dalam cungkup di pojok dekat pintu masuk. Turut disemayamkan pula para murid atau pengikut Ki Ageng Pengging di sekitarnya. Total ada 15 pengikut Ki Ageng yang dimakamkan di komplek tersebut.

Mereka adalah Mbah Endang, Mbah Wali Peking, Mbah Aji Rogo, Mbah Wongso, Mbah Prabu, Mbah Purbo, Mbah Suro Kuning, Mbah Boyo, Mbah Ronggo, Mbah Moh. Kojin, Mbah Saleh, Mbah Ibrahim, Mbah Sapu Jagat, Mbah Sigit dan Mbah Kadal Buntung.

Komplek pemakaman yang tampak sederhana itu nampak teduh dengan banyaknya pohon seperti Pohon Kamboja, Mangga, Kemuning dan lain-lain yang memayunginya. Tembok yang mengelilinginya adalah bangunan lama yang dibuat pada tahun 1975.

sumber dari http://mistikus-sufi.blogspot.com

12 komentar:

  1. Menurut Eyang Bungkul ada 3 makam Ki Ageng Pengging, tetapi yang asli memang yang ada di Ngagel. Karena menurut Eyang Bungkul Ki Ageng Pengging bersama dengan teman-temannya mencari perlindungan ke Eyang Bungkul, dan meninggal di Surabaya. Tetapi memang tidak ada yang tahu. Apakah makam Ki Ageng Pengging terbuka untuk umum? Atau harus ada ijin khusus?

    BalasHapus
  2. Matur nuwun sanget Mbak Ratna dimanapun berada atas partisipasi dan perhatiannya, makam Ki Ageng Pengging hingga kini belum dibuka untuk umum karena makam tersebut belum distratifikasikan hak dan kewajiban pengurusan dan perawatannya dibawah suatu yayasan keluarga, maka cukup dengan meminta izin kepada Juru Kunci Makam saja. Matur nuwun..

    BalasHapus
  3. Saya mohon tanya,...kok bisa makam Ki Ageng Pengging berada di Ngagel...padahal menurut cerita beliau meninggal di Pengging,..oleh Sunan Kudus...?

    BalasHapus
  4. maaf sekedar info.. bagi teman2 semua yang ingin mencari tau tentang kebenaran Ki Ageng Pengging dan Ki Ageng Banyubiru bisa hubungi saya
    saya akan bawa teman2 ke hadapan beliau..
    hanya bisa stiap malam jum'at..

    BalasHapus
  5. yang bener aja kang ! makam Ki ageng pengging ada di daerah pengging boyolali boss... masih jelas... beliau putra Pangeran Handayaningrat (mantu bre wijaya 5, P Handayaningrat dimakamkan di pengging juga... sedang kakaknya, kebo kanigoro makamnya di selo (merapi) dusun pojok...! makam ki ageng pengging masih di ziarahi dan dipelihara oleh kraton jogja solo... yg notabene keturunan Hadiwijaya (jaka tingkir)... wkwkwk

    BalasHapus
  6. bagi yang masih protes silahkan confirm ke kraton kasunanan atau mangkunegaran... solo mereka masih keturunan langsung Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) raja pajang... dan silahkan Ziarah ke pengging boyolali... anda akan langsung tahu bahwa itu makam Kebo Kenongo, putra Pangeran Handayaningrat anak mantu Brawijoyo 5... jangan mengada ada... dan mengaku keturunan Kebo Kenongo... karena keturunan kebo kenongo jadi raja raja solo jogja langsung sampai sekarang... 00... wkwkkw

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  8. siapapun yang mengaku keturunan kiageng kebo kenongo yang bukan anggota keluarga raja solo jogja... jelas tipu tipu... karakter asli orang pengging boyolali itu tidak melarikan diri jika merasa benar... !!! konflik demak berakhir dengan wafatnya aryo penangsang ditangan sutowijoyo anak angkat Hadiwijoyo (joko tingkir)

    BalasHapus
  9. menasabkan diri bukan kepada orang tua (leluhur) yang bukan sebenarnya adalah dosa besar dalam islam... walau tampaknya sederhana dan tanpa maksud buruk... silahkan googling: hukum menasabkan diri kepada orang lain dalam islam...! banyak sekali hadist yang melarang keras perihal menasabkan diri (keturunan) kepada orang lain...! wkwkkw

    BalasHapus
  10. Kejadian tersebut ratusan tahun yang lalu, sebaiknya kita tidak terlalu berani memastikan sebuah versi cerita dengan memastikan bahwa versi cerita yang lain keliru. Sebagai orang islam saya tetap berbaik sangka, "Bisa jadi Jasad Ki Ageng Pengging memang ada di Ngagel".

    BalasHapus
  11. Bolehkah kalau saya menasabkan diri dari Nabi Adam ?
    Terus terang mas. Soal siapa keturunan siapa bagi saya rasanya kurang penting, karena ketika kita mati, malaikatpun tidak akan menanyakan anda keturunan siapa. Yang terpenting sekarang ini, jadilah diri sendiri. Syukur bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Maaf, celotehan saya di sini mungkin kurang sopan.

    BalasHapus
  12. yo ora opo2 wong ancene kuburane nang ngagel kate dikapakno kang. wong iku gawe tetenger. lha aku yo ijik turunane tapi gak tau ngomong2 isin mergane kelakuanku bejat, isin ambek buyut ku.ngunu lho kang

    BalasHapus