Jujur, Jajar lan Jejer Manembah Gusti Ilahi

Duk Djaman Semono, Kandjeng Edjang Boeyoet Ing Klero nate paring wewarah,".. Djoedjoer Lahir Bathin Berboedi Bowo Leksono Adedhasar Loehoering Agomo, Djedjer Welas Asih Sasamoning Titah Adedhasar Jiwo Kaoetaman Lan Roso Kamanoengsan, Lan Djadjar Manoenggal Wajibing Patrap Bebrayan Agoeng Adedhasar Endahing Tepo Salira Manembah Ngarsaning Goesti Allah Ingkang Moho Toenggal, Ngrenggo Tjiptaning Koesoema Djati Rila Adedharma Mrih Loehoering Bongso, Agomo, Boedoyo, Lan Sasamining Titahing Gesang Ing Ngalam Donya, Ikoe Lakoening Moekmin Sadjati.." [Wewaler KRT. Hasan Midaryo,1999]

Rabu, 25 Agustus 2010

Trah Sunan Geseng : Trah Singodiwongso Jenar

RM. Singodiwongso


Alkisah bahwa Bagus Gentong/Gento setelah ibunya yaitu Nyai Ageng Bagelen wafat, tetap bertempat tinggal di desa Bagelen, meneruskan bertani seperti leluhurnya. Setelah dewasa ia menikah dan memperroleh putra bernama RADEN DAMARMOYO.

Raden Damarmoyo mempunyai putri bernama RADEN RARA RENGGANIS, yang setelah dewasa menikah dengan KYAI PAKOTESAN dan mempunyai putra, PANGERAN SEMONO yang juga bernama PANGERAN MURYO.

Pangeran Muryo mempunyai putra bernama KYAI COKROJOYO I, yang kemudian terkenal dengan nama SUNAN GESENG.

Dari BAGUS GENTONG sampai pada cucu-buyutnya / cicit yang bernama PANGERAN SEMONO, tidak ada yang perlu diceritakan, tetapi tentang cucu-canggahnya yaitu KYAI COKROJOYO I banyak peristiwa-peristiwa hidup yang hingga kini dianggap memberi berkah dan selalu diperingati oleh ahli warisnya.

Pada masa hidup KYAI COKROJOYO I, agama Islam sedang berkembang di Pulau Jawa dan yang menjadi pemimpin Waliullah penyebar agama islam adalah SUNAN KALIJOGO, yang sering berkelana untuk menyiarkan agama Islam.

Pada suatu hari SUNAN KALIJOGO dalam perjalanan keliling sengaja singgah ditempat kediamann KYAI COKROJOYO I, karena beliau telah mengetahui bahwa KYAI COKROJOYO I adalah seorang calon Waliullah, yang ibarat kain batik sudah disurati (dibatik) namun belum dibabar (diolah selanjutnya dengan memberi warna dan menghilangkan malam / lilinnya dari atas kain).

Waktu SUNAN KALIJOGO tiba disitu, KYAI COKROJOYO I sedang mencetak gula aren sambil ”uro-uro” (menyanyi santai).

Bertanya SUNAN KALIJOGO : ” Berapa lakunya (hasil penjualan) jika sudah menjadi gula ?”
Di jawab olah KYAI COKROJOYO I : ” hanya cukup untuk menghidupi orang yang melarat”.
SUNAN KALIJOGO lantas berkata : ”Coba gantikanlah uran-uranmu dengan membaca Surat Kalimah Syahadat. Kemarilah aku ajarkan membacanya, dan nanti jika gulanya telah trcetak bawalah kemari, aku akan melihatnya.”

Setelah mengucapkan Surat Kalimah Syahadat KYAI COKROJOYO I meneruskan mencetak gula dan sesudah rampung menutupinya dengan tampi, diserahkan kapada SUNAN KALIJOGO. Betapa herannya KYAI COKROJOYO I, sewaktu SUNAN KALIJOGO membuka tutupnya, gulanya sudah berubah menjadi emas. Dengan tak sadar ia terpakau (jawa: deleg-deleg) seperti tugu hingga beberapa saat.

Waktu ia sadar kembali SUNAN KALIJOGO sudah tiada di tempat. Dengan terbirit-birit (jawa : guralawan) ia mengejarnya dan setelah berhasil menyusulnya ia menyungkemi (menyembah) lutut SUNAN KALIJOGO, sambil mohon agar diperkenankan menjadi muridnya . Dijawab olehnya SUNAN KALIJOGO : ” Anakku (jawa:jebeng) jika kau dengan sungguh-sungguh ingin menjadi muridnya, maka kau harus bertapa-sujud di tempat ini dan jangan pergi dari sini sebelum aku kembali kemari.”

Setelah bersabda demikian SUNAN KALIJOGO meneruskan perjalannya dan dalam sekejap mata telah sirna dari pandangan.

Mengingat peristiwa yang telah terjadi KYAI COKROJOYO I masih terheran-heran, tetapi akhirnya bergegas untuk melaksanakan perintah SANG GURU AGUNG dengan tekad yang teguh dan mantap untuk tidak mengakhiri tapanya sebelum gurunya datang kembali. Demikianlah KYAI COKROJOYO I bertapa hinga satu tahun lebih tanpa henti.

Sementara itu SUNAN KALIJOGO memang sudah lipa akan perintahnya pada KYAI COKROJOYO I, dan baru sewaktu beliau dalam penjelajahnya seperti biasanya, lewat desa Bagelen beliau ingat akan perintahnya pada calon muridnya yang bertapa sujud. Para pengikutnya diperintahkan untuk mencarinya, tetapi karrena di tempat itu sudah penuh dengan alang-alang serta tumbuh-tumbuhan liar lainya setinggi orang, maka tak berhasilah mereka menemukan KYAI COKROJOYO I.

Kemudian SANG GURU memerintahkan untuk membabat seluruh tumbuh-tumbuhan yang menutupi tempat itu, namun juga belum berhasil untuk menemukan tubuh sang pertapa itu. Akhirnya tak ada jalan lain kecuali membakar saja alang-alang dan tumbuh-tumbuhan yang telah dibabat itu, dan walaupun dedaunan dan dahan-dahan itu masih basah, namun berkat sabda SANG GURU AGUNG, maka apinya menyala-nyala setinggi langit seperti kebakaran hutan besar, sehingga membuat penduduk disekitarnya menjadi cemas dan ketakutan.

Setelah api reda dan segala ”rerungkutan” )tumbuh-tumbuhan lebat) telah hilang, maka terlihatlah dengan jelas tubuh KYAI COKROJOYO I yang masih dalam posisi sujud tetapi hitam hangus karena terbakar. Kelihatannya seperti tak bernyawa, namun denyut jantungnya masih ada walaupun sangat lemah.

SUNAN KALIJOGO mendekatinya dan bersabda : ”Hai COKROJOYO, bangunlah, jangan enak-enak tidur, aku datang”.

Mendengar suara SANG GURU, seketika KYAI COKROJOYO I bangun dan begitu melihat gurunya langsung bersungkem kepadanya. Dan pada saat itulah KYAI COKROJOYO I mendapat ”wisik manunggalnya kawulo dengan gusti”, yang berarti telah mencapai tingkat kesempurnaan tertentu. Tidak diceritakan bagaimana isi serta perincian situasi tersebut, setelah menerima berkah Sang Waliullah KYAI COKROJOYO I seketika merasa terang hatinya, seperti mendung yang dihempas oleh angin, tembung cahaya seolah-olah seperti lembing dapat melesat ke atas di ruang angkasa (jawa : kadyo mendung ingkang kabuncang ing samirono, narawang lir pendah saged muluk ing ngawiyat).

Selesai memberi wejangan kepada KYAI COKROJOYO I, SUNAN KALIJOGO meneruskan perintahnya : ”Atas kemurahan Allah Yang Maha Kuasa, kamu sekarang telah ”tinarbuko’(terbuka), dapat Wahyu Wali dan karena badanmu hangus (jawa: geseng), maka memakailah nama SUNAN GESENG, dan mulailah bermukim (jawa: tetruko) di hutan Loano, yang nantinya akan menjadi desa yang ramai dan akan menjadi tempat tinggalnya para keturunan Raja.

Dalam pengembaraannya SUNAN GESENG menyebarkan agama islam di desa Jatinom, sekitar 10 kilometer dari kota Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal SUNAN GESENG dengan sebutan KI AGENG GRIBIG.

Julukan itu berangkat dari pilihan SUNAN GESENG untuk tinggal di rumah beratap gribig-anyaman daun nyiur. Menurut legenda setempat, ketika KI AGENG GRIBIG pulang dari menunaikan ibadah haji, ia melihat penduduk jatinom kelaparan. Ia membawa sepotong kue apem, dibagikan kepada ratusan orang yang kelaparan. Semuanya kebagian. KI AGENG GRIBIG meminta warga yang kelaparan makan secuil kue apem seraya mengucapkan zikir : Ya-Qowiyyu (Allah Maha Kuat). Mereka kenyang dan sehat. Sampai kini, masyarakat Jatinom menghidupkan legenda KI AGENG GRIBIG itu dengan menyelenggarakan upacara ”Ya-Qowiyyu” pada setiap bulan Syafar.


Warga membikin kue apem, lalu disetorkan ke masjid. Apem yang terkumpul jumlahnya mencapai ratusan ribu. Kalau di total, beratnya sekitar 40 ton. Puncak upacara berlangsung usai salat Jum’at. Dari menara masjid, kue apem disebarkan santri sambil berzikir, Ya Qowiyyu... Ribuan orang yang menghadiri upacara memperebutkan apem ”gotong royong” itu dengan sebutan apem ”Jokowiyu”.

Diceritakan bahwa 40 tahun kemudian, yang bertahta di kerajaan Mataram adalah KANGJENG SINUWUN ANYOKROWATI (1612-1621 M). Istri prameswarinya adalah KANGJENG RATU MAS HADI, putri dari PANGERAN ADIPATI BENOWO di Pajang. PANGERAN ADIPATI BENOWO ini adalah putra dari KANGJENG SINUWUN HADIWIJOYO (JOKO TINGKIR).

KANGJENG SINUWUN ANYOKROWATI tersebut mempunyai kakak laki-laki bernama PANGERAN WIROMENGGOLO, yang ingin sekali menjadi raja. Keinginannya itu adalah sedemikian besar, hingga ia bertapa siang dan malam dan berguru ilmu pad SUNAN GESENG dalam bidang kesempurnaan hidup, yang tempat pemejangannya di tegal BENGKUNG.

Karena bertapanya sangat berlebih-lebihan tanpa mengingat kemampuannya, maka PANGERAN WIROMENGGOLO akhirnya menemui ajalnya. Diceritakan bahwa yitmanya (rokhnya) merasuk ke dalam ikan tombro bersisik kencana (ikan mas).


Adalah kebetulan bahwa pada saat itu Sang prameswari KANGJENG RATU MAS HADI sedang mengandung dan ngidam ingin makan tombro bersisik emas yang berkali-kali disampaikan kepada suaminya KANGJENG SINUWUN.

Dalam pada itu KANGJENG SINUWUN mendengar kabar bahwa SUNAN GESENG memiliki sebuah jala sutra dengan biji pemberat dari emas, yang khusus hanya untuk menjala ikan tombro. Oleh karenanya, Sang PRABU mengirim utusan untuk minta bantuan SUNAN GESENG menangkap ikan tombro bersisik kencana seperti yang diinginkan sang RATU.

Singkatnya cerita, keinginan sang RATU dapat terpenuhi dan dilahirkan bayi laki-laki yang diberi nama RADEN MAS JATMIKO, juga bernama RADEN MAS RANGSANG.

Setelah SINUWUN ANYOKROWATI wafat, maka kedudukannya digantikan oleh putranya RADEN MAS JATMIKO, dengan gelar KANGJENG SINUWUN SULTAN AGUNG ANYOKROKUSUMO, bertahta pada tahun 1621 sampai dengan tahun 1636.

Sang Prabu juga berguru ilmu kesempurnaan pada SUNAN GESENG, sampai pada tingkat penguasaan yang tinggi atas segala galanya (jawa : widagdo waskitho ing samudayanipun). Atas jasanya, SUNAN GESENG kemudian dianugerahi sebidang tanah jabatan (jawa : lenggah siti) dengan nama KYAI AGENG JOLOSUTRO, yang membuat semakin tenar namanya hingga wafatnya.

Hingga kini makam SUNAN GESENG tersohor dengan nama ”MAKAM JOLOSUTRO” yang sangat dikeramatkan dan diziarahi orang, terutama pada hari-hari Selasa-Kliwon dan Jum’at-Kliwon.

Adapun letak makam tersebut, di sebelah Tenggara kota Yogyakarta, dikabupaten Bantul Daerah Istimewa YOGYAKARTA, jauhnya sekitar 12 km. Jika menggunakan bis umum turun di desa Piyungan dan selanjutnya berjalan kaki kira-kira 3 km lagi, atau juga dapat dicapai darri arah desa Pathuk, kabupaten Gunung Kidul DIY).

Kembali pada kisahnya JOKO BEDUG juga bernama RADEN COKROJOYO II, seperginya SUNAN GESENG ke Loano, JOKO BEDUG melaksanakan apa yang diperintah oleh ayahnya, yaitu bertapa brata secara ”gentur”, mengurangi tidur serta makan, dengan tekad agar segera diampuni oleh Yang Maha Kuasa. Tidak diceritakan hingga berapa lama ia bertapa-brata, tetapi akhirnya ia mendapatkan ampun dari Tuhan YME dan kembalilah wujudnya seperti sediakala, yaitu sebagai manusia.

Demikian pula tentang ”genturnya” bertapa diketahui oleh Sang Raja Mataram, yang selanjutnya mewisudanya menjadi Bupati di Bedug dengan nama, RADEN ADIPATI NILOSROBO I. Setelah wafat beliau dimakamkan dekat dengan Patilasan NYAI AGENG BEGELEN.

RADEN ADIPATI NILOSROBO I mempunyai putra, RADEN COKROJOYO III, juga bernama TUMENGGUNG ROGOWONGSO atau RADEN ADIPATI DANUREJO. Setelah wafatnya ayahanda, RADEN COKROJOYO III atas perkenan SINUWUN di Mataram, menggantikan kedudukan ayahanda sebagai Bupati di Bedug.

Pada waktu hidupnya, RADEN COKROJOYO III mengalami banyak macam peristiwa dan huru-hara. Tidak jelas berapa lama perang itu berlangsung, tetapi yang jelas ketika SINUWUN PAKUBUWONO I mangkat dan kemudian digantikan oleh putranya dengan gelar SINUWUN MANGKURAT JAWA/AGUNG; Kyai Patih COKROJOYO III masih berada di Surabaya.

Pengabdian KYAI PATIH COKROJOYO III tetap mantap dalam segala bidang, hingga SINUWUN MANGKURAT JAWA/AGUNG menganugerahkan pangkat Adipati. Dengan gelar ADIPATI DANUREJO beliau meneruskan pengabdiannya sebagai Patih Kerajaan, juga setelah SINUWUN MANGKURAT JAWA/AGUNG wafat digantikan oleh putranya yang bergelar SINUWUN PAKU BUWONO II.

Tetapi selanjutnya, sebelum mengikuti (jawa:angembani) Raja yang masih muda itu, Kyai Patih diberhentikan dari jabatannya, bahkan ada cerita bahwa beliau di buang ke Jakarta. Pada hal Kyai Patih sudah mengabdi pada tiga Raja, Yaitu SINUWUN PAKU BUWONO I, SINUWUN MANGKURAT JAWA/AGUNG dan PAKU BUWONO II, jika dihitung jumlah pengabdiannya pada jaman PANGERAN PUGER, adalah selama sekitar 45 tahun.


Bagaimana selanjutnya beliau beserta keluarganya dapat kembali ke daerah Bagelen, tidaklah jelas, tetapi kenyataannya setelah beliau dan istrinya wafat, dimakamkan di pegunungan Gemulung di desa Bagelen, tidak jauh dari petilasan NYAI AGENG BAGELEN.

Sekarang makam KYAI COKROJOYO III/TUMENGGUNG ROGOWONGSO/RADEN ADIPATI DANUREJO sudah ”digedong” – dibuat bangunan cungkup dengan dinding tembok. Sedang makam itu sendiri kini lebih terkenal dengan nama Makam ”ROGOWANGSAN” yang terletak di desa Bagelen Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.

Kembali pada kisah RADEN ADIPATI DANUREJO, beliau dianugerahi seorang Istri, adik dari SINUWUN PAKU BUWONO II yang merupakan putra putri dari SINUWUN MANGKURAT JAWA/AGUNG, yaitu yang bernama BANDORO RADEN AYU TUNGLE yang sehari-harinya disebut (Jawa: apeparab) KLETING DADU.

Sebelum kawin dengan RADEN ADIPATI DANUREJO, B.R.A. TUNGLE sudah kawin dengan RADEN NOSUTO yang juga disebut WIROSUTO, yang masihsaudara sepupu dari RADEN ADIPATI DANUREJO, yaitu putra dari JOKO BUMI, kakak laki-laki (jawa:roko) dari JOKO BEDUG ya (alias) RADEN NILOSROBO I.


Dengan RADEN NOSUTO, B.R.A TUNGLE mendapat 3 putra:
1. RADEN TUMENGGUNG COKROJOYO I, terkenal dengan nama COKROJOYO MBALIK. perang Giyanti menjadi pendamping dari TUMENGGUNG ARUNG BINANG.
2. RADEN KERTOYUDO.
3. RADEN HUDOSORO atau YUDOSORO

Dengan RADEN ADIPATI DANUREJO, B.R.A. TUNGLE mempunyai 6 anak :
1. RADEN AYU LEBE, kawin dengan SECH BAULOWI
2. RADEN AYU NOTOYUDO III, yaitu istri dari RADEN TUMENGGUNG NOTOYUDO III, bupati Kedu
3. RADEN NILOSROBO, tidak mempunyai keturunan
4. RADEN TUMENGGUNG KARTOMENGGOLO, dimakamkan di Bedug
5. RADEN ROGOYUDO, dimakamkan di Bagelen
6. RADEN AYU NOSINGO , yang menjadi istri KYAI NOSINGO di Bragolan

RADEN AYU NOSINGO berputra 2 orang :
1. RADEN MAS SINGOWIJOYO
2. RADEN MAS SINGOGATI

RADEN MAS SINGOWIJOYO berputra 3 orang :

1. RADEN REKSODIWIRYO, yang seusainya Perang DIPONEGORO pada tahun 1830 M ditetapkan menjadi Bupati Purworejo dengan nama RADEN ADIPATI COKRONAGORO I.
2. RADEN NGANTEN CITROWIKROMO
3. RADEN TUMENGGUNG PRAWIRONAGORO, Wedana di Bragolan.

RADEN ADIPATI COKRONAGORO I inilah yang kemudian menurunkan Bupati-bupati Purworejo sampai RADEN MAS TUMENGGUNG COKRONAGORO IV.

RADEN TUMENGGUNG PRAWIRONAGORO mempunyai putra putri bernama RADEN AYU COKROATMOJO, istri RADEN ADIPATI COKROATMOJO, bupati Temanggung.

RADEN ADIPATI COKROATMOJO ini adalah putra dari RADEN GAGAK HANDOKO di Loano.


Adapun RADEN MAS SINGOGATI di Jenar mempunyai putra RADEN SINGODRIO di Bakungan, cucu RADEN SINGOWIDJOJO di Bragolan serta cicit RADEN SINGODIWONGSO/KYAI SINGODONGSO yang seterusnya mempunyai keturunan sampai akhir zaman.

Keturunan Raden Mas Singodiwongso atau Kyai Singodongso di makamkan di Kembang Gading, Jenar Wetan, Kec. Purwodadi, Kab. Purworejo, Jawa Tengah.

PUTRO / KODE A
A1. R.Ngt Singosemito
A2. R. Ngt Tjokrodrijo
A3. Raden Kromoprawiro
A4. Raden Soeroprawiro
A5. Raden Singodarmo
A6. R. Ngt Karosonto
A7. Raden Ranoeprawiro
A8. Raden Wirjodikromo
A9. R. Ngt Soerowirjo

WAYAH / KODE B

A1. R. Ngt SINGOSEMITO

A1B1 R.Mertosemito
A1B2 R. Troenosemito
A1B3 R. Ngt Djemi-Wongsodikoro
A1B4 R. Wongsosemito
A1B5 R. Kromomoenawi
A1B6 R. Ngt Sijem

A2. R. Ngt TJOKRODRIJO
Tidak ada keturunan



11 Maret 2003
Jakarta, 7 suro Be 1936

Penyunting,
H.R. Eddy Soedarmadi Bin R.S. Prawiro Tanojo
A7 B1 C10

Kepustakaan :
1. Buku Sudjarahipun Raden SINGODIWONGSO, kahimpun dening ingkang Wajah Raden PRAWIRO TANOJO ing Ngajogjakarta, 3 Sijam, Wawu 1889 /24 Maret 1958
2. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bapak B.P MOELJADI PRAWIROATMODJO
3. Majalah GATRA

14 komentar:

  1. Bagus Ceritanya. Saya punya daftar silsilahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam Perkenalan Mas Fox Tango,

      Tertarik dengan komentarnya mengenai Daftar Silsilah...
      karena saya sedang mencari Leluhur saya dari garis Ayah, yg ternyata beberapa nama dari Dokumen yg saya miliki, tertera di tulisan di atas.

      Mohon kiranya saya diberi info mengenai silsilah...dengan harapan saya bisa mendapat pencerahan.

      Mohon hubungi saya di srimayagauvin@gmail.com

      Terima kasih atas perhatian dan bantuannya.

      Salam hangat,
      Maya

      Hapus
  2. Saya Bambang Purnomo A8B3C2 trah RM.Singodiwongso, ingin menanyakan otentik foto RM Singodiwongso yang terpasang pada artikel ini. Setahu kami foto tersebut adalah foto R.Wiryodikromo hasil kroping saat beliau menikahkan putri terkecilnya RNgt. Asih Purwosuhendro. Nuwun.

    BalasHapus
  3. Matur nuwun sanget dumateng administrator Fox Tango ugi dumateng ingkang minulya Kanjeng Romo RM. Bambang Purnomo ingkang sampun kersa paring comment ing blog punika..

    Saderengipun dalem nyuwun pangapunten menawi foto Kanjeng Eyang RM. Singodiwongso ingkang dipun pajang ing artikel puniki tartamtu dereng wonten, pramila nenggih kagem tetambaning kangen bathos para generasi penerusipun, kewala dalem lamun wonten fotonipun Kanjeng eayang R. Wiryodikromo supados simbol rinaket dumateng profil Kanjeng Eyang RM. Singodiwongso.

    Matur nuwun sanget koreksinipun, Kanjeng Romo RM. Bambang Purnomo, menawi wonten foto utawi gambar lukisan pasuryanipun Kanjeng Eyang RM. Singodiwongso? menawi kepareng, dalem badhe nyuwun izin upload ing blog punika.

    Salam takzhim tuwin kangen bathos dalem kahaturaken dumateng sedaya sederek Trah Ageng RM. Singodiwongso ing bumi Nusantara..

    BalasHapus
  4. pak de saya punya buku silsilah eyang singodiwongso, tp berhenti di anak2 mbah putri saya yaitu pak de dan ibu saya sedangkan anak anaknya belum ditulis dibuku itu ... kalo yang dimaksud eyang singodiwongso disini adalah eyang singodiwongso yang sareannya di purworejo, blakang pasar jenar, banggading ,sareannya agak kedalam yang sudah diberi rumah2han dan di temboknya ada tulisan dipugar tahun ... ( tahunnya saya lupa)... berarti kta sodara .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam perkenalan,
      Nama saya fm nugrahanto atau ahan di surabaya, dulu aktif ada kegiatan perkumpulan singodiwangsan bagelen di surabaya, saya ingin mengetahui hubungan nama ayah dan kakek yang memakai nama Nilo Sentono, dulu saya dapat ceritera dari ayah saya bahwa masih kerabat bagelen, crita sunan geseng dll, tapi saya lihat di sisilah kok gak ada nilo sentono
      Pertanyaan saya :
      Apakah Nilo Sentono masih kerabat Bagelen dan posisi dimana?

      Terima kasih

      Hapus
  5. Mas Saya ingin tau tentang sejarah dari Trah Gagak asal Loano, dari 5Trah Gagak yang ada:
    1.Gagak Handoko,
    2.Gagak Pranolo,
    3.Gagak Prayugo,
    4.Gagak Seto,
    5.Gagak Wilogo

    BalasHapus
  6. Salam,

    Artikel yang menarik, dan ternyata kita masih saudara jauh mas, saya dari jalur R.T Kertomanggolo Putra Bray Danuredjo putri Amangkurat Agung...kalau boleh saya tau, untuk saat ini dimanakah alamat dan letak makam Eyang Patih Danuredjo kakung kalian putri lan eyang RT Kertomanggolo kakung kalian putri? kalau berkenan, bisa panjenengan bales lwt email saya mawon. peyex_banget@yahoo.com

    Salam pasederekan.

    Rahayu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Aditya,

      Salam kenal dari saya....
      Tertarik dengan komentarnya bahwa Mas Aditya ini dari jalur/garis RT Kertomanggolo, mudah2an sama dengan RNg.KARTAMANGGALA (RT NILASRABA II).

      Saya lanjut di email ya.....

      Matur nuwun,

      Maya Gauvin-Ranoesoedirdjo

      Hapus
  7. pertanyaan saya siapakah Suryo Paryono dan R. Hadi Suyitno... mohon penjelasan para kiyai pini sepuh yang saya hormati.. bisa di e mail ke makis772012@yahoo.com

    BalasHapus
  8. Salam perkenalan....

    Membaca Artikel yg ditulis/disunting oleh Bapak.H.R. Eddy Soedarmadi Bin R.S. Prawiro Tanojo/A7.B1.C10, perkenaankan saya mendapatkan informasi mengenai penyunting, sehubungan dengan pencarian saya terhadap Leluhur dari Garis Ayah saya.

    Dari dokumen/Berkas yg saya miliki, ternyata pada artikel tersebut tertera beberapa Nama yg barangkali ada hubungannya.
    Yakni BRAy /RA TOENGLE dan RT TJAKARADJAJA DANOEREDJA(RT RAGAWANGSA)....yg menurunkan Rng.KARTAMANGGALA.

    Demikian yg dapat disampaikan, besar harapan saya agar segera bisa mendapatkan informasi yg saya butuhkan.

    Atas perkenaannya, juga atas perhatian, bantuan serta kerjasamanya, saya ucapkan terima kasih...

    Salam,
    Maya Gauvin-Ranoesoedirdjo

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  10. Salam perkenalan,
    Nama saya fm nugrahanto atau ahan di surabaya, dulu aktif ada kegiatan perkumpulan singodiwangsan bagelen di surabaya, saya ingin mengetahui hubungan nama ayah dan kakek yang memakai nama Nilo Sentono, dulu saya dapat ceritera dari ayah saya bahwa masih kerabat bagelen, crita sunan geseng dll, tapi saya lihat di sisilah kok gak ada nilo sentono
    Pertanyaan saya :
    Apakah Nilo Sentono masih kerabat Bagelen dan posisi dimana?

    Terima kasih

    Mohon dibalas di fm.nugrahanto@gmail.com

    BalasHapus
  11. Mohon petunjuk.dari pesan bapak saya kalau ke purworejo ke bagelen,disana semua saudara dan untuk menemukan silsilahnya bilang saja dari trah Rubingah.mohon petunjuk urut2an nya seperti apa dalam silsilah keluarganya...

    BalasHapus